Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

70 Persen Lahan Kota Tangerang Selatan Dikuasai Pengembang

Posted by kinclonk pada 5 Desember 2010

CIPUTAT (Pos Kota) – Masyarakat Kota Tangerang Selatan (Tangsel) minta jajaran pemkot mengendalikan perkembangan wilayah agar terkontrol. Lahan hijau lima tahun belakangan terus menyusut untuk pembangunan.

“Kami minta ketegasan Pemkot Tangsel untuk menyetop berbagai pembangunan yang tak menunjang program pemerintahan,” kata Iswadi, warga Ciputat, kemarin.

Menurut dia, sekarang ini terkesan penangganan dan penataan Kota Tangsel sebagai salah satu penyangga Kota Jakarta sama sekali tak diperhatikan dan jor-joran untuk membangun perumahan tanpa melihat perkembangan di masa mendatang.

Bila tidak ditangani dengan cepat dan ditata ulang, tambah bapak tiga anak yang bekerja di Jakarta ini, kawasan Tangsel bakal semakin banyak masalah. Mulai dari kemacetan, tumpukan sampah hingga hilangnya lahan resapan air. Banjir tentu saja menjadi bencana yang tak terelakkan.

DIKUASAI PENGEMBANG

Menanggapi itu, Kepala Dinas TAta Kota Bangun dan Pemukiman Kota Tangsel Nur Salamet didampingi Kabag Humas Alpahnaja, mengatakan sekitar 70 persen dari luas lahan kota sebanyak 14 hektar belakangan ini sudah dikuasai pengembang dan sisanya dikuasai pemukiman dan perkantoran pemerintah serta perorangan.

Pembangunan perumahan dengan sistem cluster atau satu pintu nyaris tak terkendali sehingga lahan kosong akan semakin menipis, jadi perlu antisipasi sejak dini.

“Kami memang berharap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tangsel dapat selesai tahun ini sehingga dapat mengantisipasi masalah itu dengan cepat,” ujarnya.

Jika konsep dasar Kota Tangsel sudah pisah dari induk Kab. Tangerang tentunya konsep Kota Tangsel sebagai kota dagang, jasa dan pemukiman akan dapat berjalan dengan baik. “Terlebih memiliki konsep pembangunan gedung vertikal guna mempertahankan kota baru yang memiliki lahan terbuka hijau,” katanya.

Diakuinya, kini di Kota Tangsel ada sekitar 250 pengembang besar dan kecil yang terus marathon membangun pemukiman yang tentunya tak bisa dibatasi karena payung hukum belum ada.

Akibatnya, penumpukan kendaran atau transportasi selama ini tertuju pada satu titik di kawasan perkotaan atau pusat keramaian saja. (Anton/si/ird)

Pos Kota, 4 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: