Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Belum Ada Pembangunan Berarti

Posted by kinclonk pada 28 April 2009

TANGERANG(SI) – Sebulan pascajebolnya tanggul Situ Gintung,Cireundeu,Ciputat Timur,Tangerang Selatan, belum ada pembangunan fisik berarti di lokasi bencana yang merenggut 90 nyawa itu.

Berdasarkan pengamatan Seputar Indonesia kemarin, kondisi Situ Gintung masih seperti awal setelah” tsunami kecil” itu terjadi. Yang berubah hanya lokasi bencana yang tampak sedikit bersih dan korban sudah berada di lokasi pengungsian. Pembangunan yang berhasil dilakukan adalah membuat rumah hunian sementara bagi pengungsi dan jalan yang sebelumnya terputus kini sudah dibangun kembali.

Sementara tanggul Situ Gintung belum dilakukan perbaikan meski di sana sejumlah pekerja masih berada di lokasi jebolnya tanggul itu. Akibatnya, ketika hujan deras turun,air membawa seluruh benda yang ada di lokasi.Saat hujan deras kemarin satu unit mikrolet terbawa arus hingga 5 meter dari depan Masjid Jabalul Rochmah.

Air yang mengalir dari Situ Gintung ketika hujan masih menjadi ancaman warga sekitar karena air yang turun begitu kencang dari situ yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu. Kepala Sub-Perencanaan dan Pengairan Bagian Pekerjaan Umum Balai Besar Wilayah Sungai Ciluwung-Cisadane Prayitno mengatakan, pihaknya sedang melakukan pengujian untuk mengetahui kekuatan tanah sebelum fondasi untuk membuat tanggul dibangun.

”Namun, karena cuacanya seperti ini (sering hujan), kondisi tanah menjadi sulit dites,”kata Prayitno kemarin. Meski begitu, Prayitno mengatakan, pihaknya sudah selesai membuat detail engineering design (DED) pintu tanggul. Sementara itu,Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kestra Pemkot Tangerang Selatan Ahadi meminta pengukuran pembangunan tidak dari segi fisiknya saja.

”Lihatnya kesigapan kami dalam melakukan penanganan,”katanya. Soal kesehatan pengungsi,Ketua Posko Kesehatan pengungsi Situ Gintung dr Maya Mardiana mengatakan, para pengungsi sudah tidak lagi mengalami sakit seperti awal perpindahan ke Wisma Kerta Mukti. ”Justru yang sakit sekarang para relawan, dalam sehari bisa 20 relawan yang datang memeriksakan dirinya.

Umumnya mereka menderita penyakit ISPA,” katanya. Yang menjadi persoalan saat ini adalah obat-obatan yang diberikan para donatur sudah mendekati masa kedaluwarsa.Obat yang hampir kedaluwarsa adalah obat antibiotik amoxisilin. Sementara itu, sejumlah para pengungsi di Wisma Kerta Mukti I yang merupakan posko utama para pengungsi korban Situ Gintung mengaku sangat membutuhkan modal usaha.

Untuk makan dan pakaian mereka sudah banyak mendapat bantuan. ”Alhamdulillah semua sudah terpenuhi, tinggal ke depan agar kami tidak hanya menunggu bantuan sebaiknya kami mendapat uang untuk usaha,” kata Dahlia, warga RT 04/08, Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, yang menempati Wisma Kerta Mukti.

Dahlia mengatakan, uang Rp5 juta yang didapat dari Pemprov Banten masih kurang. Selain Dahlia, pengungsi lainnya juga mengatakan hal yang sama. Sekretaris Camat Ciputat Timur Gunara mengatakan,saat ini sudah banyak juga korban yang memiliki usaha di antaranya menjual beras.

”Mereka sudah ada yang buka usaha. Saya sendiri tidak tahu uang dari mana mereka.Yang jelas mereka sudah banyak juga yang buka usaha, terutama yang berada di kontrakan,” katanya. Salah satunya Nana yang mengontrak di RT 03/08.

Nana kini membuka usaha jasa fotokopi.Tidak tanggung-tanggung, Nana membeli dua mesin fotokopi yang harganya Rp15 juta per unit.”Saya beli bekas, lumayan buat ganti usaha warung internet saya yang hancur,”ujarnya. (denny irawan)

Seputar-indonesia.com, 27 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: