Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Cita-cita Kami Tak Pernah Hanyut Disapu “Tsunami”

Posted by kinclonk pada 24 April 2009

KOMPAS.com – Demi menghadapi ujian nasional, anak-anak ini rela ”dikarantina” di rumah megah berlantai dua. Sementara orangtua mereka di pengungsian memanjatkan doa demi kelulusan buah hati mereka.

Kamis (23/4) siang, rumah masih sepi. Lewat tengah hari, tiba-tiba terdengar suara pintu depan terbuka. Rupanya Ghufron Kamil (17) sudah ”pulang”. Langkahnya agak gontai. Air mukanya sedikit keruh.

”Fisika tadi lumayan susah. Tapi 65-75 persen bisalah,” ujar Ghufron, murid kelas III jurusan IPA Madrasah Aliyah Daarul Maarif, Ciputat, Tangerang Selatan.

”Kalau Matematika saya 95 persen yakin bisa. Apalagi sudah belajar habis-habisan di sini,” lanjut Ghufron dengan wajah tampak lebih optimistis.

Sejak tiga pekan lalu, Ghufron dan 18 anak lain—yang jadi korban tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung—tinggal di rumah itu. Lokasi rumah ”karantina” itu tepat di tepi Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, tak jauh di belakang Gedung FedEx.

Rumah itu semula kosong dan hendak disewakan pemiliknya. Namun, sang pemilik malah meminjamkan gratis rumahnya ketika para sukarelawan dari Yayasan Nurani Dunia hendak menyewanya sebagai rumah ”karantina” khusus bagi pengungsi anak-anak yang akan menghadapi ujian nasional (UN).

Yayasan Nurani Dunia didirikan tahun 1998 oleh Imam B Prasodjo, sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), bersama kalangan mahasiswa dan wartawan untuk membantu korban bencana.

Di rumah ini, anak-anak itu belajar siang-malam dengan dibimbing para pengajar sukarelawan dari sebuah jasa bimbingan belajar. Setiap sore, sedikitnya lima pembimbing datang ke rumah itu untuk mengajari mereka berbagai pelajaran yang akan mereka hadapi dalam UN.

Kemudian, setiap dini hari, sebagian besar anak-anak itu juga selalu minta dibangunkan oleh kakak-kakak pendamping dari yayasan. Kali ini untuk shalat tahajud. ”Tiap jam 03.30 saya ketok-ketok kamar deh, bangunin mereka buat shalat. Mereka sendiri yang minta dibangunin,” tutur Tika, seorang pendamping.

Aktivitas belajar anak-anak berlangsung di lantai dua yang luas dan dilengkapi tiga papan tulis putih serta meja-meja mungil berwarna-warni. Anak-anak itu lalu duduk berkelompok sesuai dengan jenjang sekolah mereka, SD, SMP, dan SMA. ”Kami juga sering lanjut belajar sampai malam sambil ditemani pembimbing,” kata Ghufron.

Sejauh ini sebagian besar penghuni rumah itu adalah siswa setingkat SMP dan SMA. Sementara siswa SD tetap tinggal di pengungsian bersama orangtua atau keluarga. Namun, pada sore hari mereka datang ke rumah itu untuk ikut belajar. ”Kalau di sini kami bisa lebih konsentrasi untuk ujian. Enggak lagi gampang ingat sama kejadian kemarin,” kata Fauzan Indallah (18), siswa jurusan Mekanik Otomotif SMK Gunadarma, Ciputat.

Kebutuhan tercukupi

Anak-anak itu tampak menikmati kehidupan sehari-hari di rumah itu. Beberapa pendamping dari yayasan turut tinggal di rumah ”karantina” untuk menemani anak-anak. Kebutuhan sandang dan pangan anak-anak juga amat tercukupi. Pihak yayasan juga memenuhi segala kebutuhan sekolah mereka, mulai dari buku, seragam, hingga peralatan tulis.

Meski begitu, mereka tak lantas menjadi manja. Bersih-bersih kamar dan rumah serta mencuci baju, piring, dan gelas mereka lakukan sendiri.

”Teman-teman di sekolah melihat kami sekarang kayak orang hidup enak. Baju baru, sepatu baru, tas baru. Padahal, sesusah-susahnya hidup kemarin di rumah sendiri yang kecil, tetap lebih enak. Siapa sih yang senang kena musibah? Ini (fasilitas) semua kan juga cuma sementara,” tutur Ghufron yang kehilangan neneknya dalam musibah Situ Gintung.

Bagi Ghufron, Fauzan, dan anak-anak lain, senikmat apa pun fasilitas bantuan yang mereka nikmati saat ini tetap tak mampu menebus kepedihan yang terpatri dalam benak seusai tragedi lalu. Belum lagi rasa gamang menghadapi kehidupan yang akan datang. ”Terus terang, itu yang sering mengganggu konsentrasi selama UN ini. Apalagi saya anak pertama, mau enggak mau kepikiran nasib keluarga nantinya,” kata Ghufron yang beradik empat.

Cita-cita membara

Sesuram apa pun gambaran bencana yang lalu, anak-anak itu tak patah semangat. Para pendamping kerap memergoki anak-anak itu tetap belajar sendiri hingga larut malam meski pembimbing telah pulang. Cita-cita mereka pun tetap menyala-nyala. Saat ditanyai soal mimpi-mimpi mereka jika lulus UN nanti, anak-anak itu dengan bersemangat bersahut-sahutan melontarkan cita-cita mereka.

”Kalau aku sih penginnya sekolah teknik di Jerman. He-hehe… bercanda kok. Pengin bisa lanjut kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung),” seru Fauzan yang ayahnya buruh serabutan.

Lain lagi dengan Ghufron yang amat mencintai pelajaran Matematika. ”Aku pengin masuk Jurusan Matematika di MIPA UI (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Aku pengin jadi guru Matematika,” ujar Ghufron yang lebih senang jadi sarjana sains dahulu sebelum mengambil profesi guru.

Di pengungsian, orangtua mereka yang semuanya selamat dari tragedi tak putus memanjatkan doa siang-malam. ”Saya harus kuat mengusir trauma. Anak-anak masih punya masa depan,” kata Elda (39), ibunda Ghufron, di pengungsian Kertamukti, Ciputat.

Rumah, harta, dan sebagian anggota keluarga mereka memang telah hanyut disapu ”tsunami” dari Situ Gintung. Namun, cita-cita anak-anak itu rupanya tetap tersangkut di dada!  (Sarie Febriane)

Satu Tanggapan to “Cita-cita Kami Tak Pernah Hanyut Disapu “Tsunami””

  1. Aisyah said

    Ya Allah… Tuhan semesta alam…
    Kuatkanlah anak-anak ini dalam menghadapi cobaan… dan kabulkanlah cita-cita mereka…
    Amin… Amin… ya Robbal alamiiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: