Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Situ Antap Terancam

Posted by kinclonk pada 17 April 2009

TANGERANG, KOMPAS.com – Situ Kayu Antap, atau sering disebut Situ Antap, di Tangerang dalam kondisi memprihatinkan. Situ yang terletak di dekat Situ Gintung itu kehilangan lebih dari separuh lahannya. Lahan konservasi ini semakin terancam karena diambil alih dan dimiliki perorangan.

Situ Antap terletak di wilayah RT 06 dan RT 08 RW 02, Rempoa. Kamis (16/4), terlihat pagar beton kokoh setinggi sekitar 3 meter mengelilingi situ seluas 1,48 hektar. Pagar itu menyatu dengan tembok pembatas sebuah kompleks perumahan mewah yang tepat berdampingan dengan Situ Antap. Tidak ada satu celah pun di antara pagar beton itu yang memungkinkan warga sekitar mendekati tepi situ.

”Sudah sejak Oktober 2008 tembok itu dibangun,” kata Mahmudi (57), warga setempat, Kamis kemarin.

Mahmudi adalah salah satu dari sekitar 40 kepala keluarga yang pernah menjadi penggarap lahan di sekitar situ. Mereka memanfaatkan tanah di sekitar situ yang subur dan air melimpah dengan menanam pisang, sayur-mayur, serta beternak ikan. Pada 30 April 2008, Pemerintah Kabupaten Tangerang secara resmi menggusur mereka dari tepian situ dengan dalih pelestarian daerah tangkapan air.

Namun, Kepala Balai Wilayah Sungai Cidurian-Cisadane Joko Suryanto menegaskan, Situ Antap memang sudah dipagari karena lahan situ itu sudah dimiliki perorangan. ”Padahal itu jelas aset pemda dan merupakan lahan konservasi,” ujar Joko.

Joko menjelaskan, sekitar dua bulan lalu Menteri Pekerjaan Umum telah menyurati Bupati Tangerang yang isinya meminta agar mengembalikan kembali fungsi situ tersebut dan selanjutnya dilestarikan.

”Menteri juga menyurati BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk meninjau ulang sertifikat hak milik perorangan atas lahan Situ Antap,” kata Joko.

Nadih, Kepala Dusun II yang membawahi RW 02, 07, dan 08 Rempoa, membenarkan, Situ Antap berada dalam kompleks sebuah perumahan elite.

”Saya tidak tahu apakah itu sudah dibeli atau tidak. Itu bukan kewenangan saya. BPN yang tahu,” papar Nadih.

Menurut Nadih, pemagaran dilakukan pengelola perumahan, beberapa bulan setelah penggusuran 40 kepala keluarga yang menggarap lahan di sekitar situ.

Nadih juga membenarkan bahwa saat ini Situ Antap sudah menyusut. ”Dulu situ itu lebar dan luas. Tetapi sekarang sudah banyak permukiman di sana,” kata Nadih.

Limpahan Gintung

Mahmudi bersama beberapa warga lain korban gusuran situ, Ahmad (55) dan Manulang (42), mengungkapkan, Situ Antap merupakan bagian dari rangkaian situ di sekitar Rempoa, Cempaka Putih, dan Cirendeu. Di tiga wilayah ini terdapat Situ Gintung yang kini memiliki luas 21,4 hektar.

Menurut Ahmad, tepat berseberangan dengan Situ Gintung, ada situ berukuran lebih kecil yang sekarang sudah diuruk dan menjadi pusat perbelanjaan. Kemudian, ada Situ Rompong, Setu Antap, dan satu situ lagi yang juga sudah menjadi permukiman. Situ-itu ini dulu dihubungkan dengan anak-anak sungai.

”Dengan anak-anak sungai itu, jika ada kelebihan air di satu situ, bisa dilimpahkan ke situ yang lain,” kata Ahmad.

Namun, sistem bagi-bagi tampungan air di kawasan Rempoa dan sekitarnya kini tidak lagi berfungsi. Nyaris setiap jengkal lahan di kawasan tersebut telah menjadi permukiman. Perkampungan penduduk maupun kompleks perumahan sederhana hingga kelas elite yang dihuni warga negara asing tumbuh subur di sini.

Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Situ Rompong kini hanya seluas 2,99 hektar, padahal pada 2007 masih menghampar seluas 10 hektar. Kali-kali kecil penghubung antarsitu sudah lenyap. Tidak heran Situ Gintung sampai mengalami kelebihan kapasitas tampungan air dan akhirnya tanggulnya pun jebol, akhir Maret lalu.

Joko kini hanya bisa berharap Situ Antap dan situ-situ lain yang sudah hilang, rusak, atau nyaris hilang dapat dikembalikan seperti fungsi semula. Semua upaya itu tidak lain demi mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi lagi. (PIN/NEL)

Kompas.com, 17 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: