Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Warga Protes Jika Kasus Situ Gintung Dihentikan

Posted by kinclonk pada 16 April 2009

TANGERANG– Isu seputar akan dihentikan penyelidikan kasus jebolnya tanggul Situ Gintung oleh Polda Metro Jaya menuai protes banyak kalangan. Sejumlah korban bencana menilai jika benar dihentikan, menunjukkan kinerja polisi lemah dan berupaya melindungi pejabat yang dianggap bertanggung jawab.

Ketua tim advokasi korban Situ Gintung, Bery Nahdian Forqan, menyesalkan jika memang tindakan Polda Metro Jaya itu menghentikan kasus tersebut. “Sebab, penghentian itu merugikan warga dan korban bencana,” kata Bery, kemarin (15/4). Dia menambahkan, pihaknya meminta polisi mengusut tuntas kasus itu, baik korupsi maupun kelalaian yang mengakibatkan jebolnya Situ Gintung.

Bery menjelaskan, jebolnya tanggul Situ Gintung merupakan bukti kelalaian pemerintah terhadap berbagai aspek. Yakni, aspek perawatan, aspek pemberian izin bangunan, dan aspek antisipasi bencana. ”Ketiga aspek tersebut yang tidak dilakukan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat,” ungkap dia. Padahal, semua aspek itu menjadi kewenangan setiap lembaga pemerintah tersebut. Untuk itu, tim advokasi korban Situ Gintung, ujar Bery, meminta Polda Metro Jaya terus melanjutkan penyelidikan kasus tersebut.

Sementara itu, pemerintah menawarkan rumah susun (rusun) bagi para korban bencana Situ Gintung. Sebab, para korban itu tidak mungkin menempati barak Kertamukti I dan II untuk selamanya. Selain itu, barak Kertamukti hanya untuk sementara.

Wali Kota Tangerang Selatan, HM Shaleh, menyatakan rencana rusun itu akan disiapkan oleh pemerintah pusat dengan anggaran Kementerian Perumahan Rakyat (Menpera). Lahan untuk rusun tersebut dapat menggunakan lahan milik pemerintah daerah atau lahan di sekitar lokasi bencana.

”Kita sudah mengusulkan pembangunan rusun itu. Kelihatannya, pihak Menpera mendukung untuk itu. Hanya saja, sekarang konsepnya, mau sewa atau milik sendiri,” ujar Shaleh saat meninjau penampungan korban Situ Gintung di Wisma Kertamukti, Rabu (15/4).

Untuk konsep rusunawa, ungkap Shaleh, menggunakan lahan milik Pemkot Tangerang Selatan yang berada di Kampung Sawah, Kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, seluas kurang lebih 3.000 meter persegi.

Sedangkan konsep rusunami, ujar dia, menggunakan lahan milik warga yang berada di sekitar lokasi bencana. ”Asalkan lahan itu tidak mengganggu tata ruang Situ Gintung. Dan, kita tidak mungkin membangun rusun di lokasi yang berbahaya,” ujar Shaleh menjelaskan. c81

Republika.co.id, 16 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: