Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Tragedi Situ Gintung

Posted by kinclonk pada 30 Maret 2009

BENCANA seolah tak pernah berakhir di negeri ini. Tangis dan air mata seakan tak kunjung putus mengalir.

Musibah jebolnya danau buatan Situ Gintung, Ciputat, Tangerang, Jumat (27/3) pagi menambah panjang daftar petaka itu. Tak terperikan, lebih dari 90 anak bangsa tewas dihempas air bah. Rumah dan harta benda terendam. Kerugian mencapai miliaran rupiah.

Bencana itu muncul dari hal sepele menyangkut tabiat manusia, yakni kelalaian. Lalai merawat lingkungan hidup, di sisi lain lapar melihat tanah dan hutan. Setiap jengkal tanah ingin diisi beton dan setiap pohon ingin dicabut dan didirikan tembok. Naluri membinasakan alam sangat menggelora dan sebaliknya kesadaran merawat alam semesta amat rendah.

Situ Gintung dibangun puluhan tahun silam oleh penjajah Belanda sebagai danau penampung air. Tapi anak bangsa di zaman reformasi tidak memiliki kesadaran menjaga lingkungan. Sekeliling danau dibangun menjadi perkampungan dan perumahan. Daerah resapan pun kian menyempit dan terhimpit.

Bangsa ini punya tabiat buruk yang suka dipelihara, yakni melakukan pembiaran. Petugas suka membiarkan warga yang melanggar aturan. Aparat membiarkan warga mendirikan bangunan di atas lahan kosong milik negara yang semestinya menjadi kawasan resapan.

Akhirnya, pendudukan secara liar tiba-tiba disulap menjadi legal. Segala jenis izin bisa terbit tanpa hambatan. Setelah beranak-pinak, setelah generasi demi generasi lahir, setelah perumahan-perumahan tumbuh mekar, barulah muncul soal.

Sebagai daerah penampung air seharusnya kawasan Situ Gintung bebas dari permukiman, tapi yang kita saksikan sebaliknya. Daerah sekitarnya berkembang amat pesat.
Ada juga kelalaian merawat tanggul danau buatan itu. Danau yang berusia sekitar 76 tahun sejak dibangun Belanda pada 1933 itu boleh dibilang ditelantarkan. Siapa pun tahu, sebuah bangunan tidak mendadak jebol, tapi melalui proses.

Situ Gintung telah mengirim sinyal. Pada November 2008, terjadi longsoran kecil dan air menggenangi kawasan permukiman. Berulang kali pula dalam dua tahun terakhir warga melapor kecemasan mereka tentang kondisi tanggul. Tapi siapa yang peduli? Tak ada. Tak ada sensitivitas terhadap kondisi tanggul yang kian tua dan rapuh.

Siapa yang bertanggung jawab atas jebolnya Situ Gintung? Jawabannya tegas: pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah Tangerang dan Pemerintah Provinsi Banten. Adalah naif jika 90-an orang tewas tanpa ada satu pihak pun yang merasa bertanggung jawab.
Tatkala Situ Gintung jebol, seluruh energi bangsa ini sedang tersedot dalam gemuruh pesta demokrasi yang bernama pemilu.

Publik mengelukan pemimpin yang berkampanye dari satu tempat ke tempat lain. Khalayak terpukau dengan janji elite dan lupa bahwa semua itu mengaku kecap nomor satu.
Setelah bertahun-tahun lalai, setelah bertahun-tahun seolah tak peduli, dan setelah bertahun-tahun melakukan pembiaran, ketika tragedi Situ Gintung terjadi, semua mendadak menjadi iba.

Pemimpin berbondong-bondong menyampaikan rasa duka. Meski kini musim kampanye, kita yakin kedatangan pemimpin ke lokasi musibah adalah murni ingin menyampaikan belasungkawa. Bukan untuk carmuk alias cari muka…Oleh karena itu, jangan boleh ada sehelai pun tanda gambar kontestan dipasang di tempat duka itu.
(Editorial Media Indonesia)

Mediaindonesia.com, 30 maret 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: