Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Bantuan Makanan Terus Mengalir

Posted by kinclonk pada 28 Maret 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Bantuan pangan dan obat untuk membantu korban air bah akibat jebolnya tanggul Situ Gintung di Kota Tangerang Selatan pada Jumat (27/3) terus mengalir. Umumnya bantuan datang dari perusahaan swasta, baik di Tangerang maupun Jakarta, warga, dan parpol.

Beberapa partai politik peserta pemilu dan pemerintah memberikan bantuan. Bentuk bantuan dari mereka berupa baju layak pakai, mi instan, air mineral, dan nasi bungkus.

Seusai mengunjungi tempat kejadian bencana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan bantuan 1.500 paket bahan kebutuhan pokok untuk korban tragedi Situ Gintung, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten. Bantuan itu diterima di posko bencana di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan kantor Kecamatan Ciputat.

Penanggung jawab Posko Situ Gintung di STIE Ahmad Dahlan, Koesmawan, mengatakan, selain paket bantuan dari Presiden, berbagai bantuan dari pihak swasta dan lapisan masyarakat, serta beberapa organisasi masyarakat seperti makanan dan air mineral terus mengalir.

”Kami juga menerima sejumlah alat untuk perlengkapan mandi, seperti sabun, sikat gigi, odol, handuk, dan pakaian,” ujar Koesmawan.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan kemarin mendirikan posko kesehatan dan pos pengungsian di gedung kuliah UMJ. Semula sebagian korban air bah mengungsi ke rumah saudaranya di sekitar tempat kejadian dan sebagian lagi duduk-duduk di bagian depan kampus Fakultas Hukum UMJ.

Ari (12) bersama orangtua dan dua abangnya, juga Haji Dahroni (53) bersama istrinya, Rahma, dan putri bungsunya, Lela, mengungsi ke UMJ.

”Rumah saya kebanjiran sampai 2 meter. Semua barang rusak,” ujar Ari.

Dahroni, pensiunan Hotel Mandarin, mengatakan rumahnya ambruk. Rumah itu sudah tidak layak lagi dihuni karena sudah rata dengan tanah.

Begitu air bah datang, bantuan segera datang dari Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta. Instansi tersebut bekerja sama dengan UMJ dan STIE Ahmad Dahlan membuka posko untuk menampung jenazah, memberikan informasi korban meninggal dan ditemukan hidup, serta menerima laporan warga yang kehilangan anggota keluarga pascabencana.

PMI DKI Jakarta

Kepala Bagian Pemasaran Kesehatan DKI Jakarta Tini Suryati mengatakan, PMI DKI Jakarta menyiapkan sekitar 9.000 kantong darah untuk membantu korban banjir Situ Gintung. Namun, sampai saat ini belum ada lonjakan permintaan darah dari RS Fatmawati dan RS Pondok Indah, yang menjadi rujukan perawatan bagi korban banjir.

Selain menyiapkan darah, Dinas Kesehatan dan PMI DKI Jakarta juga menugaskan 110 petugas untuk mengevakuasi korban luka dan meninggal. Petugas berhasil menyelamatkan 25 korban yang terbawa banjir. Ke-25 korban itu mengalami luka dan dirujuk ke kedua rumah sakit tersebut.

Selain itu, 30 ambulans Dinas Kesehatan dan 10 ambulans PMI DKI juga diperbantukan untuk mengevakuasi korban luka dan meninggal. Mayoritas ambulans yang beroperasi di kawasan Cirendeu berasal dari DKI Jakarta, bukan dari Kabupaten Tangerang atau Provinsi Banten yang memiliki wilayah terjadinya tragedi Situ Gintung.

Posko kesehatan Dinas Kesehatan DKI merawat 153 korban yang luka. Sebagian korban dirujuk ke rumah sakit karena luka yang diderita parah.

Cairkan dana

Ketua Bappeda Kota Tangerang Selatan Hasdanil yang ditemui di Posko Pemkot Tangerang Selatan menyatakan, Pemerintah Provinsi Banten akan mencairkan dana untuk menangani bencana, tetapi ia tak tahu jumlahnya. ”Silakan tanya ke Pak Asisten Daerah saja,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Arif Wahyudi mengimbau Pemerintah Kabupaten Tangerang segera mencairkan dana tak tersangka yang memang dialokasikan untuk penanganan cepat musibah seperti air bah Situ Gintung.

”Lupakan ’perbedaan’ yang terjadi antara Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Pemkot Tangerang Selatan. Marilah kita bergerak cepat membantu para korban,” kata Arif.

Sementara itu, beberapa partai politik berupaya mendapatkan simpati masyarakat dengan membuat posko bantuan bahan kebutuhan pokok, pakaian, dan obat-obatan. Selain di jalan utama, beberapa posko didirikan di sekitar lokasi rumah-rumah penduduk yang terkena bencana.

Salah satu parpol bahkan mendirikan beberapa tenda di tanah kosong untuk menampung korban yang rumahnya hancur tersapu banjir. Mereka juga menyediakan sejumlah ambulans untuk mengangkut korban.

Meski berdalih menyalurkan bantuan, kehadiran kader parpol di daerah bencana lebih terkesan sebagai salah satu bentuk kampanye. Spanduk dan bendera parpol terbentang dan berdiri tegak di posko yang mereka dirikan.

Apalagi pada spanduk itu juga diselipkan nama caleg dari parpol tersebut. Bahkan, ada parpol yang hanya mengibarkan bendera dan mendirikan tenda kosong di sekitar lokasi kejadian. Beberapa warga kesal dengan kehadiran posko parpol di sana.

”Mereka cuma memanfaatkan bencana untuk tebar pesona. Kalau niatnya tulus, kenapa mesti pakai atribut parpol segala?” kata Sutiyono, warga Gintung.(ECA/PIN/ARN/OTW/WIN/TRI)

Kompas.com, 28 Maret 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: