Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Aksi Preman Masih Marak

Posted by kinclonk pada 1 Desember 2008

TANGERANG-Premanisme dengan kedok kuli angkut masih marak di lingkungan perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), Kabupaten Tangerang. Akibatnya, warga yang baru pindah maupun yang sudah lama tinggal di wilayah perumahan elit tersebut merasa resah, karena bila membawa barang material maupun peralatan rumah tangga seperti mebeler dan elektronik harus memberikan uang setoran kepada para kuli angkut.

Seperti yang terjadi di Komplek Griya Loka dan Nusa Loka BSD. Sejak puluhan tahun lalu perumahan tersebut berdiri, preman yang berkedok sebagai kuli angkut tidak pernah surut.
“Katanya belakangan ini aparat kepolisian sedang gencar-gencarnya merazia preman. Tapi kenapa sampai sekarang preman yang berkedok kuli angkut di perumahan BSD masih banyak, kata Yadi, yang sudah sepuluh tahun tinggal di Komplek Griya Loka, BSD.

Yadi menambahkan, warga akhirnya melakukan berbagai cara untuk menghindari praktik premanisme tersebut. Misalnya degan membawa barang seperti mebeler atau elektronik pada malam hari, mengingat keberadaan para kuli angkut di wilayah tersebut bila malam sudah pulang.

Kuli angkut yang mayoritas warga pribumi ini munculnya dari matahari terbit hingga tenggelam, sehingga warga BSD bila ingin membawa barang masuk ke kompleknya di malam hari, Kata Yadi.

Namun yang sulit diantisipasi, tambah Yadi, bila membawa material, seperti pasir, semen, batu bata, batako, dan lainnya. Karena selain barang itu bisanya hanya dikirim pada siang hari, para kuli angkut tersebut mangkal tidak jauh dari toko-toko material yang berada di sekitar komplek.

Mereka itu mangkalnya di setiap toko-toko material di lingkungan komplek, sehingga bila ada angkutan material yang keluar dari toko tersebut langsung diikuti, kata Yadi.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Cahyo, warga di Komplek Nusa Loka, BSD yang menambahkan para kuli angkut yang biasanya mangkal tidak jauh dari gerbang perumahan tersebut akan minta jatah pada setiap angkutan yang masuk ke daerah itu sebesar Rp 200 ribu. Apabila tidak dituruti, mereka tidak segan-segan mengancam atau bertindak kasar.

Sepertinya kebiasaan ini sudah menjadi tradisi di lingkungan BSD, dan sulit dihapuskan, kata dia.
Dikonfirmasi masalah tersebut, Kapolsek Serpong Ajun Komisaris Yuldi Yusman mengatakan, apabila ada para kuli angkut yang melakukan pemerasan, warga diharapkan segera melapor kepada petugas. Karena, bila tidak ada bukti atau sanksi yang merasa dirugikan oleh para kuli angkut tersebut, sulit bagi petugas untuk menjeratnya, katanya.

Aksi premanisme juga marak terjadi di Jalan Raya Serang, tepatnya sekitar Jembatan Tol Bitung, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Mereka tidak segan-segan meminta uang secara paksa antara Rp 1.000-2.000 kepada para sopir yang menurunkan dan menaikkan penumpang di wilayah tersebut.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Curug, Iptu Purwanto, apabila ada preman yang meresahkan, warga diminta segera melapor kepada petugas kepolisian terdekat. Semua Preman yang ada di bawah jembatan Tol Bitung itu sudah kami razia. Tapi karena tidak cukup bukti mereka hanya kami data dan dilepaskan, kata Purwanto. (chn)

Radar Banten, 1 Desember 2008

9 Tanggapan to “Aksi Preman Masih Marak”

  1. Henri Jaya said

    Hahaha…

    Saya ketawa geli membaca berita ini.
    Polisi kok pasif??? Menunggu laporan baru bertindak.
    Sangat jelas pihak kepolisian tidak serius memberantas para preman.
    Kalau polisi memang serius menangkap preman yang mersahkan ini, kenapa mereka tidak menyebar intel untuk kemudian menangkapnya?. Jika pembuktian menjadi kambing hitam, proaktif lah. Jangan cuma ngurusin perkara basah ajah dong.
    Atau jangan-jangan ada main mata nih ama preman. heeee
    Ati-ati lho bisa kelilipan…

  2. ahmad said

    Sudah saatnya preman kutu kupret ini diberantas sampai ke akarnya. Kalau perlu dicari bekingnya.

    salam

  3. nama samaran said

    “warga diharapkan segera melapor kepada petugas. Karena, bila tidak ada bukti atau sanksi yang merasa dirugikan oleh para kuli angkut tersebut, sulit bagi petugas untuk menjeratnya…”

    kelihatannya polisi masih belum ngerti juga. atau tidak mau ngerti.
    kalo nunggu warga lapor, trus preman itu di ciduk, dan ketika sang preman tau kalo yang melaporkan dia adalah warga “A” misalnya, ya sudah habis aja.. tinggal tunggu pembalasan dendam dari sang preman.

    mestinya polisi yang pro-aktif, pasang intel, ciduk langsung preman itu, jadi kesannya bahwa bukan dilaporkan oleh warga tapi memang hasil kerja keras polisi. kalo memang polisi “punya niat” melakukan itu pasti bisa, dimana ada kemauan pasti ada jalan.

    saya setuju dengan tulisan hendry jaya di atas.

    ayo pak polisi, kami bayar pajak ke negara dan pajak itu digunakan untuk membayar gaji pak polisi yang seharusnya menjaga warga negara.. tanpa diminta.. tanpa tunggu laporan..

    bukankah polisi adalah pelayan masyarakat?

    hmm.. semoga saja ada intel baik hati yang baca dan memulai tindakan yang seharusnya dijalankan.

    nb: pak polisi, perumahan baru seperti Cendana Residence di jalan benda raya, kelurahan pondok benda, kecamatan pamulang.. juga butuh bantuannya..

  4. Warga Bintaro said

    Pemerasan yang tidak berperikemanusiaan!!!

    Saya warga seputar Bintaro Jaya. Waktu pindahan tahun 2007 saya kena palak 700 ribu oleh preman kuli angkut.
    Saya terpaksa membayar karena sopir yang mengangkut barang pindahan saya digebuki oleh preman kuli angkut sampai babak belur.

    Setelah pindahan selesai pemerasan masih terus berlanjut. Setiap saya beli furniture atau barang yang harus diangkut mobil pasti kena palak antara 100 – 200 ribu. Belum lagi jika renofasi rumah.

    Hal seperti ini yang membuat saya dan keluarga terus menerus merasa terancam. Seolah kami hidup bukan di negeri sendiri.
    Aparat keamanan tidak melakukan tindakan yang pro-aktif. Padahal kejadian pemerasan bukan baru terjadi praktek ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan dialami oleh hampir semua warga yang baru pindah.

    Saya sangat kecewa dengan aparat keamanan yang seharusnya melindungi secara pro-aktif masyarakat.

    Mohon ini menjadi perhatian & kritik bagi aparat keamanan

  5. Azis said

    Kata kuncinya cuma satu: Polisi mau BERINISIATIF.

    Selagi tidak berinisiatif, dan hanya menunggu laporan, masalah tidak akan selesai. Pembiaran kejadian yang meresahkan merupakan ketidak pedulian yang membuat keresahan tersebut semakin berurat berakar.

    Apa susahnya sih kirim polisi berpakaian preman sekali-sekali?

    Kalau tidak ada INISIATIF memang susah, menunggu dan menunggu. Perut makin buncit aja kalo gitu…

    Aneh….

  6. Hardiyanto said

    Saya tinggal di perumahan sekitar stasiun Sudimara. Saya mengalami perlakuan serupa dari para preman. Barang perabotan RT pada saat akan pindah ke rumah yang sekarang di tempati terpaksa harus diturunkan oleh sopir pengangkut di pintu gerbang perumahan tanpa sepengetahuan saya. Hanya karena si sopir truk tidak mampu membayar sejumlah uang yang diminta oleh preman yang menjaga gerbang perumahan. Barang perabotan saya ditinggalkan begitu saja.
    Tingkah laku preman di perumahan kami sudah luar biasa. Tetangga saya yang sudah lama menetap di perumahan tsb menyarankan untuk meminta pengawalan polisi pada saat mengangkut barang. Meminta pengawalan polisi tentu saja harus mengeluarkan uang extra sebagai imbalan.
    Kesimpulannya kalau tidak mau berurusan dengan preman minta pengawalan polisi. Yang jelas keduanya UUD (Ujung ujungnya Duit)
    Kok ya jadi sama aja

  7. jabrik said

    Pake polisi?…di negeri ini ada 2(dua) macam preman, yaitu yang pertama yang di jalanan tanpa seragam bertato dan yang kedua yang berseragam baik aparat hukum, satpol PP, maupun ormas, yang berdalih menjaga atau mengayomi masyarakat, padahal malah memeras masyarakat…mohon maaf bagi institusi yang saya sebut mungkin tidak semuanya seperti itu tapi mayoritas pasti seperti itulah..he..he..

  8. Kuntilanak said

    Baru tau yah ?kalo di daerah wilayah sekecamatan ciputat khususnya and tangerang selatan umumnya banyak preman.jangankan preman .diwilayah ini tuh serba ada .judinya makmur jablaynya juga udah terkenal seantero jagat.liat aja di sawah baru jablaynya pd praktek di rumah2 kontrakan di kampung.payah ga ada yg sanggub ngatasin semua kebejatan di w4layah ciputat .

  9. ervan said

    Sampai tahun 2010 mereka masih ada. dan ternyata ada koordinatornya. kalau aku jadi polisi, koordinatornya tak bedil saja. pekerjaan macam apa itu, tiap hari main palak. polisi sendiri juga kagak teges. alasan tak cukup bukti. polisi macam apa itu. menyedihkan…. Pak Kapolri, mana profesionalisme mereka? Lama-lama preman preman iitu kita ajak duel saja. dikira kita semu tidak berani? mari kita coba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: