Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Honor Guru Bantu Belum Dibayar

Posted by kinclonk pada 4 Agustus 2008

Honor guru bantu sekolah (GBS) se-Provinsi Banten selama empat bulan terakhir (April-Juli) belum dibayar. Para GBS pun kini terpaksa ngutang ke sana-ke mari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Forum Komunikasi Guru Bantu Indonesia (FKGBI) Banten, Ujang Jaelani, Minggu (3/ 8). ”Jangankan untuk makan, buat ongkos dari rumah ke sekolah saja kita minjam ke sesama guru,” tegas Ujang. ”Tapi kami tetap menjalankan tugas dengan baik. Tanpa harus bolos,” imbuhnya.
Honor GBS seperti Ujang sebesar Rp 710. 000 per bulan. Saat honor tersebut tidak terlambat saja ia masih sering nombok karena harga sembako dan ongkos transportasi yang terus meningkat. ”Bayangkan saja jika honor yang tak besar itu terlambat hingga empat bulan,” ucap Ujang.

Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Banten Muhamad Nur mengakui adanya keterlambatan honor para GBS. Namun hal itu, katanya, bukan saja terjadi di Banten, melainkan di seluruh provinsi di Indonesia.
Penyebabnya adalah revisi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang berakibat terhadap berkurangnya alokasi pembayaran honor GBS.
”Pembayaran honor 808 GBS itu dalam agenda kerja kami akan dilakukan pada pekan mendatang. Insya Allah pada Rabu (6/8). Kita akan bayarkan sekaligus empat bulan. Jadi jangan khawatir,” jelas Muhamad Nur yang dihubungi melalui telepon genggamnya.

Menurut Ujang, agar bisa bertahan hidup ia dan para guru bantu lainnya harus gali lubang tutup lubang. Termasuk menyiasati kebutuhan makan sehari-harinya. ”Makan daging ayam yang biasanya tiga hari sekali menjadi seminggu sekali. Yang penting perut kenyang,” kata Ujang yang menjadi guru bantu di sebuah sekolah dasar luar biasa (SDLB) Serang ini.

Seorang GBS yang mengajar di SD Negeri Sentul 3, Kragilan, Aing Fatori menyatakan telah punya utang sebesar Rp 1 juta kepada saudaranya akibat keterlambatan honor tersebut. Untuk kebutuhan hidup dengan satu anak, ia mengeluarkan Rp 30. 000 – Rp 40.000 per hari. Jumlah itu sudah termasuk ongkos mengajar.
”Selama ini begitulah saya bertahan hidup. Gali lobang tutup lubang tanpa jelas kapan berakhir. Tapi kalau honor itu lancar sih masih mendingan,” ujar Aing.

Agar bertahan hidup sebagai GBS yang honornya terlambat, Aing mengurangi kebiasaan merokok. Selain itu, mencari tambahan dengan mengojek di malam hari. Hasilnya, sekitar Rp 15.000 sampai Rp 20.000 bisa dikantongi. ”Lumayan, untuk menyambung hidup. Bahkan teman saya ada yang menjadi kuli serabutan di pasar menjadi pengupas kulit bawang,” ujar Aing. (nir)

Warta Kota 3 Agustus 2008

Satu Tanggapan to “Honor Guru Bantu Belum Dibayar”

  1. bisakah tangsel mengangkat guru-guru non pns/gbs yang pengabdiannya di atas 10 thn sbg guru pns??? katanya tangsel kota pendidikan, masa gurunya ber “honor” di bawah UMR… sebagai penghargaan terhadap guru, supaya tidak kualat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: