Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Ratu Atut Resmi Dilaporkan ke KPK Terkait Dana Hibah

Posted by kinclonk pada 28 September 2011

Jakarta – Indonesia Corruption Watch (ICW) resmi melaporkan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pelaporan terkait dugaan penyelewengan dana APBD Banten khusus untuk dana hibah dan bantuan sosial tahun 2011.

“Kami laporkan AC bersama EK ke KPK,” kata peneliti ICW Abdullah Dahlan di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Rabu (28/9/2011).

Menurut Abdullah, ada dana sebesar Rp 340 miliar untuk hibah dan Rp 51 miliar untuk dana bantuan sosial yang dialokasikan tahun ini. Dari jumlah tersebut, ada dugaan penyalahgunaan dalam proses pengalokasiannya.

Berikut sejumlah dugaan penyimpangan yang disampaikan ICW:

1. Lembaga penerima hibah fiktif.

2. Lembaga penerima hibah yang memiliki alamat sama.

3. Aliran dana ke lembaga yang dipimpin keluarga gubernur

4. Dana hibah tidak utuh

5. Sebagian besar penerima bantuan sosial tidak jelas

Karena itu, Abdullah berharap agar KPK segera menindaklanjuti laporan ini. Terutama jika ada dugaan korupsi di dalamnya.

“Pasal yang memungkinkan adalah penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya orang lain atau diri sendiri,” ucap Abdullah.

Sebelumnya dalam pernyataan kepada detikcom pekan lalu, Ratu Atut menyebut hibah itu adalah program rutin untuk pelayanan sosial kemasyarakatan. Dana itu sudah ada sejak lama, tetapi tidak pernah diributkan.

“Tidak mungkin fiktif, karena sebelum dicairkan pasti penerima hibah diminta alamat yang jelas, rekening bank, dan lainnya. Kalau tidak ada alamat jelas, maka tidak bisa dananya dicairkan, tegas Ratu Atut.
(mad/ndr)

Sumber : Detik.com, 28 September 2011

Ditulis dalam Sorot | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Monumen Lengkong; Saksi Bisu Darah Pejuang Kemerdekaan

Posted by kinclonk pada 23 Agustus 2011

 Serpong- Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 belumlah akhir dari sebuah perjuangan mulia mengusir penjajah. Pekik kemerdekaan masih terus menggema di seantero nusantara dan berbagai gencatan senjata terus pecah. Tidak sedikit nyawa melayang dan darah pejuang jatuh demi mewujudkan kemerdekaan negeri tercinta yang sudah diproklamasikan itu.

Seperti darah para pejuang Tangerang yang tumpah pada peristiwa berdarah tanggal 25 Januari 1946 di Lengkong Serpong Tangerang Selatan.

Peristiwa berdarah ini bermula dari Resimen IV TRI di Tangerang, Resimen ini mengelola Akademi Militer Tangerang. Tanggal 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot memimpin puluhan taruna akademi untuk mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong. Daan Mogot didampingi sejumlah perwira, antara lain Mayor Wibowo, Letnan Soetopo, dan Letnan Soebianto Djojohadikusumo.

Dengan mengendarai tiga truk dan satu jip militer, mereka berangkat ke Lengkong. Di depan pintu gerbang markas, tentara Jepang menghentikan mereka. Hanya tiga orang, yakni Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan seorang taruna Akademi Militer Tangerang, yang diizinkan masuk untuk mengadakan pembicaraan dengan pimpinan Dai-Nippon. Sedangkan Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo ditunjuk untuk memimpin para taruna yang menungggu di luar.

Semula proses perlucutan berlangsung lancar. Tiba-tiba terdengar rentetan letusan senapan dan mitraliur dari arah yang tersembunyi. Senja yang tadinya damai jadi berdarah. Sebagian tentara Jepang merebut kembali senjata mereka yang semula diserahkan. Lantas berlangsung pertempuran yang tak seimbang. Karena kalah kuat, korban berjatuhan di pihak Indonesia. Sebanyak 33 taruna dan 3 perwira gugur dalam peristiwa itu. Perwira yang gugur adalah Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo.

Peristiwa berdarah itu kemudian dikenal dengan nama Peristiwa Pertempuran Lengkong. Pada waktu itu Akademi Militer berpusat di Tangerang sehingga banyak yang menjadi korban adalah Taruna. Untuk mengenang peristiwa tersebut ada dua tempat bersejarah yang pertama adalah Taman Makam Pahlawan (TMP) taruna yang bertempat di Jl. Daan Mogot dan yang kedua adalah monumen Lengkong yang berada di wilayah Serpong.

Pada pertempuran di bekas markas tentara Jepang di Desa Lengkong tersebut, 34 taruna dan tiga perwira dari Resimen IV Tangerang gugur. Monumen yang dibangun berdampingan dengan Taman Daan Mogot itu berdiri tahun 1993 di atas lahan seluas 500 meter persegi. Pada dinding prasasti monumen terukir nama-nama taruna dan perwira yang gugur pada peristiwa pertempuran Lengkong. Sedangkan di dalam museumnya, terpampang foto-foto perjuangan para taruna militer di Indonesia berserta akademinya.

Monumen Lengkong kini dijadikan sebagai tempat peringatan peristiwa pertempuran Lengkong yang diperingati setiap tanggal 25 Januari. Bahkan, keputusan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menetapkan peristiwa tersebut sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer. Hal itu dituangkan lewat Surat Telegram KSAD Nomor ST/12/2005 bertanggal 7 Januari 2005.

Monumen Lengkong adalah saksi bisu perjuangan para pahlawan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Keberhasilan para pendahulu dalam mencapai kemerdekaan Indonesia bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Mereka mengorbankan jiwa raga dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemerdekaan itu harus diisi dengan baik oleh para pemuda dan generasi penerus bangsa ini.

Sebagai generasi penerus, nampaknya memang harus banyak bercermin dan menengok ke belakang. Pengalaman sejarah sebagai pelajaran dan sarana introspeksi untuk menuju masa depan gemilang.

Monumen Lengkong terletak di dekat air mancur BSD belakang Mc Donald, sebelah kiri jalan menuju Damai Indah Golf Serpong Tangerang Selatan.

Kompasiana.com

Ditulis dalam Wisata | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Buntut Bentrokan, 5 Mahasiswa Diperiksa

Posted by Nur Fuad pada 20 Juli 2011

TANGSEL – Polres Jakarta Selatan, Selasa (19/7/2011) malam, memeriksa lima mahasiswa terkait bentrokan yang terjadi antara massa dari Himpunan Mahasiswa Islam dan Komunitas Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta di Jalan KH Achmad Dahlan, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.

“Lima orang saat ini dari kedua kelompok mahasiswa itu sedang diperiksa,” kata Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Edi Purnomo ditemui di kampus UMJ, Selasa.      Pernyataan Kapolres Jaksel terkait bentrokan massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Komunitas Mahasiswa (KM) UMJ pada Selasa sore.

Penyebab bentrok kedua kelompok itu karena peristiwa penyerangan atas Ketua Badan Koordinasi Jabodetabek Banten, Rudi Ghani, yang diduga dilakukan oleh pihak KM UMJ, sehari sebelumnya.

Karena tidak terima dengan penyerangan itu, massa dari HMI melakukan penyerangan balik dengan alasan menuntut pertanggungjawaban.

Ditambahkan Kapolres Jaksel, kelima orang yang saat ini diperiksa yaitu dua mahasiswa dari KM UMJ dan tiga lainnya dari pihak HMI.

Pascabentrokan itu, mahasiswa yang mengalami luka-luka menjalani perawatan di RS Militer Cilandak, Jakarta Selatan. Kemudian, untuk proses hukum terkait bentrok tersebut, menurut Kapolres Jaksel, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan kedua pihak agar tidak terjadi bentrok susulan.

Sementara untuk pelaku penganiayaan sendiri, pihaknya berjanji akan melakukan proses hukum yang sesuai dengan perbuatan. “Kami akan ambil langkah-langkah hukum terkait penganiayaan semalam, dan mencari solusi agar tidak terjadi bentrok dari kedua kelompok,” katanya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Masyitoh mengaku prihatin dengan adanya peristiwa bentrokan mahasiswa tersebut. Bentrokan terjadi saat kehadiran Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin dan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar di kampus itu. Lokasi bentrok antara kedua kelompok tersebut yakni hanya berjarak 200 meter dari tempat kedatangan Din Syamsudin dan Patrialis Akbar.

Masyitoh menegaskan, dia telah menginstruksikan kepada semua Pembantu Rektor untuk mengidentifikasi oknum mahasiswa yang terlibat dalam aksi bentrokan. Mahasiswa yang telah melanggar ketentuan hukum harus bertanggung jawab atas perbuatannya. “Kebijakan saya sebagai rektor, kepada siapa pun yang melakukan anarkis akan terkena sanksi,” katanya.
Sumber: ANTARA DAN KOMPAS.COM-19-07-2011

Ditulis dalam Kriminalitas | Leave a Comment »

Mendiknas: Selidiki Kasus Meninggalnya Amanda MOS

Posted by Nur Fuad pada 17 Juli 2011

TANGSEL — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, harus dilakukan penyelidikan terkait meninggalnya siswi SMAN 9 Kota  Tangerang Selatan, Amanda Putri Lubis (15). Amanda meninggal dunia setelah mengalami sesak napas pada Rabu (13/7/2011) dini hari di rumahnya, Jalan Salvia VI Blok UF BSD City Sektor 1.2, Serpong, Tangerang Selatan. Penyebab kematiannya belum diketahui. Namun, selama dua hari terakhir, ia mengikuti masa orientasi pendidikan di sekolah barunya.

“Semua harus diselidiki. Jika habis makan di warung, lalu meninggal, apakah karena makanannya, atau habis sembahyang, lalu meninggal, apakah karena tempat ibadahnya,” kata Nuh, Kamis malam, di Jakarta.

Menurutnya, penyebab meninggalnya Amanda harus diselidiki secara mendalam agar semuanya menjadi jelas. Dengan tegas, ia berjanji akan mengambil tindakan jika kemudian terdapat bukti tindak kekerasan dalam pelaksanaan masa orientasi siswa SMAN 9 Kota Tangerang Selatan yang menyebabkan meninggalnya Amanda.

“Karena ada kegiatan dalam MOS di sekolah itu atau memang siswi tersebut mempunyai suatu penyakit tertentu. Jika terbukti ada kekerasan, tentu harus ditindak,” ujarnya.

Namun, sambung Nuh, jika kegiatan dalam MOS sesuai dengan aturan dan batas-batas yang telah ditentukan, tentunya sekolah tidak bisa disalahkan.

“Sejak awal sudah kami tegaskan, tidak boleh ada aktivitas perpeloncoan dan kekerasan fisik dalam kegiatan MOS karena akan menelan korban. Lebih fundamental karena tidak sesuai dengan pendidikan karakter yang ingin kita tanamkan,” tandasnya.

Sebelumnya, ada dugaan meninggalnya Amanda karena mendapatkan hukuman fisik saat mengikuti MOS di SMAN 9 Kota Tangerang Selatan. Namun, dugaan ini dibantah pihak sekolah.

“Tidak ada kekerasan fisik yang diterima Amanda selama proses MOP berlangsung,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Kota Tangerang Selatan Neng Nurhemah di Tangerang, Rabu.

Neng menambahkan, kegiatan acara selama MOP yang diadakan tiga hari oleh SMA Negeri 9 Kota Tangerang Selatan hanya pengenalan siswa kepada sekolah, baik secara akademik maupun nonakademik.

Pihak keluarga menyatakan, sebelumnya tak ada keluhan apa pun pada Amanda.”Sebelumnya tidak ada keluhan apa-apa. Amanda juga sehat, bahkan masih menemani saya memotong bambu untuk dibawa ke sekolah hari ini,” kata ayah Amanda, Elvian Lubis, Rabu siang, di rumah duka.
Sumber KOMPAS.com-17-Juli-2011

Ditulis dalam Pendidikan | 1 Comment »

Polisi Tangkap Penganiaya Wartawan

Posted by Nur Fuad pada 17 Juli 2011

TANGSEL – Kepolisian Sektor Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, membekuk Zyo, 35 tahun, yang diduga sebagai pelaku penganiayaan terhadap Abdul Haris, 30 tahun, yang diketahui berprofesi sebagai wartawan mingguan media cetak lokal di Tangerang Selatan. “Pelaku ditangkap di Serua, Ciputat,” kata Kepala Polsek Ciputat Komisaris Polisi Alif, Sabtu, 16 Juli 2011.

Pelaku yang merupakan warga Cilandak Barat, Jakarta Selatan, ini dibekuk 12 jam setelah menganiaya korban dengan samurai. Selesai membuat Haris, warga Kampung Rawa RT 01/08 Jombang, Ciputat, itu berlumuran darah, pria berkulit hitam ini langsung kabur karena khawatir dikeroyok teman-teman korban yang berdatangan. Haris pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Ichsan Medical Centre, Bintaro, sekitar 300 meter dari lokasi kejadian.

Alif menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan sejumlah saksi dan korban, polisi memperoleh lokasi persembunyian pelaku. Polisi menyita barang bukti berupa sarung senjata tajam di tempat kejadian.

Ia menambahkan, penyidik masih terus memeriksa pelaku untuk mengetahui apa ada orang lain yang terlibat dalam penganiayaan itu. “Mengenai motif, masih didalami dan dugaan sementara karena kesalahpahaman,” ujarnya.

Kamis malam, 14 Juli 2011, sekitar pukul 21.00, Haris dan Zyo terlibat keributan di depan sebuah sekolah. Senjata tajam yang disabet Zyo memaksa korban harus menerima 24 jahitan karena luka di kepala dan bahu kiri. JONIANSYAH
Sumber -TEMPO Interaktif.com -17 Juli-2011

Ditulis dalam Kriminalitas | Leave a Comment »

Polsek Pamulang Diduga Salah Tangkap Orang

Posted by Nur Fuad pada 14 Juli 2011

TANGSEL – Polsek Pamulang, Tangerang Selatan, diduga salah tangkap dalam kasus pembunuhan Yuyun Wahyuni (23), mahasiswi UPN Veteran Jakarta, Senin (13/6).

Polisi sempat menahan AS (20), yang dituding sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Namun, beberapa hari lalu AS dilepas karena tidak terbukti sebagai pelaku pembunuhan. Kamad, Ketua RT 08/04, Bambu Apus, Pamulang, Tengerang Selatan (Tangsel) mengatakan, beberapa hari lalu AS sudah kembali ke rumah. Menurut dia, warga sekitar telah mengetahui bahwa AS tidak terbukti terlibat kasus tersebut.

“Sudah tidak ada masalah lagi, dia (AS) sudah kembali ke rumah dan warga sudah tahu,” kata Kamad, Kamis (14/7/2011). Kamad yang kediamannya bersebelahan dengan rumah AS ini mengaku kaget saat tetangganya itu diciduk polisi. Bahkan, warga setempat tidak percaya bahwa AS terlibat kasus pembunuhan.

Sementara itu, Kardi (43) orang tua AS, masih terlihat syok atas kasus yang menimpa anaknya. Saat ditemui, pria yang bekerja serabutan ini terlihat gemetar. Setiap pertanyaan yang diajukan dijawabnya dengan sangat hati-hati. “Ya benar anak saya sudah pulang,” ujar Kardi sambil menyeruput segelas kopi untuk menenangkan diri.

Menurut Kardi, saat ini AS bekerja di salah satu perusahaan, tanpa menjelaskan secara detail.Dengan wajah gusar Kardi meminta persoalan ini tidak diperpanjang. “Sudahlah Mas tidak ada masalah lagi, saya tidak mau bicara itu lagi,” ujar Kardi seperti orang ketakutan.

Tadi malam, Kardi menggelar syukuran kecil-kecilan karena anaknya sudah bebas. Kardi memilih menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan ketimbang menuntut polisi. Informasinya Kardi sudah menandatangani surat pernyataan untuk tidak menuntut secara hukum atas penahanan AS.

Kapolsek Pamulang Kompol Zulkifli, membantah salah tangkap dalam kasus tersebut. Menurutnya, penangkapan terhadap AS sebagai pelaku pembunuhan terhadap Yuyun atas pengakuan dirinya sendiri. “Sebagai dasar kami menangkapnya atas pengakuan yang bersangkutan baik secara lisan maupun tertulis,” katanya.

Namun pada 15 Juni lalu, 3 hari setelah pembunuhan, Kapolsek Pamulang Kompol Zulkifli Muridu, mengatakan dugaan AS sebagai pelakunya, dikuatkan dengan ditemukannya barang bukti berupa celana milik pelaku yang ada bercak darahnya. “AS juga membakar kaos yang dikenakannya saat pembunuhan itu, “ujar Kapolsek Pmulang Kompol Zulkiefli Muridu.

Selain barang bukti celana, dugaan As sebagai pelakunya juga dikuatkan oleh keterangan beberaa orang saksi yang diperiksa polisi, termasuk mantan pacar Yuyun. Polisi juga mengamankan barang bukti lainnya seprti cobek, baju yang digunakan untuk membekap korban, tali rafia, sandal jepit warna merah yang diduga milik AS dan sebilah pisau.

Namun, saat dalam penyelidikan pihaknya mulai ragu dengan pengakuan pelaku karena ada beberapa keterangan yang berbeda. Bahkan, ada perbedaan juga dengan barang bukti yang ditemukan. “Kami juga periksa secara psikologis dan detektor kebohongan,” ujarnya.

Pelakunya DK alias AC
Setelah dilakukan sinkronisasi dengan barang bukti seperti pahat,obeng, ponsel,dan baju ternyata tidak ada yang akurat dari keterangan pelaku. Setelah yakin dia bukan pelakunya, pihaknya langsung melepaskan AS yang telah ditahan selama dua minggu. Sementara pelaku aslinya yang berinisial DK alias AC sudah tertangkap.

Dari tangan pelaku pihaknya menemukan barang bukti yang cocok dengan apa yang hilang dari korban. AS dan DK tidak saling kenal.DK adalah residivis dan bermotif pencurian.Dari pengakuan DK, dia masuk dengan cara mencongkel jendela dan saat masuk dipergoki oleh korban sehingga dia membunuhnya.

Seperti diketahui, Yuyun Wahyuni (23), mahasiswi UPN Veteran Jakarta,ditemukan tewas bersimbah darah dengan posisi tangan terikat di kediamannya, Jalan Lele, RT 02/05, Kelurahan Bambu Apus, Pamulang, Kota Tangsel, sekitar pukul13.00 WIB Senin 13 Juni 2011.(Ahmad Baidowi/Koran SI/teb)
Sumber OkeZone.com-14-07-2011

Ditulis dalam Kriminalitas | 1 Comment »

Sekolah Bantah Ada Kekerasan Pada Amanda

Posted by Nur Fuad pada 14 Juli 2011

TANGESEL — Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Kota Tangerang Selatan, Banten, membantah adanya kekerasan dalam kasus meninggalnya Amanda Putri Lubis, siswa yang mengikuti masa orientasi pendidikan (MOP). Amanda meninggal dunia pada Rabu (13/7/2011) dini hari.

“Tidak ada kekerasan fisik yang diterima Amanda selama proses MOP berlangsung,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Kota Tangerang Selatan Neng Nurhemah di Tangerang, Rabu.

Neng menambahkan, kegiatan acara selama MOP yang diadakan tiga hari oleh SMA Negeri 9 Kota Tangerang Selatan hanya pengenalan siswa kepada sekolah, baik secara akademik maupun nonakademik. Bahkan, pihaknya pun mengetahui Amanda meninggal sekitar pukul 09.00 dari orangtua. Adapun penyebabnya, hingga saat ini belum diketahui.

“Intinya, mentor yang membimbing Amanda tidak pernah melakukan kekerasan. Namun, jika karena kelelahan, hal tersebut sama saja yang dialami siswa lainnya,” katanya.

Selain itu, Neng juga menuturkan jika dalam lembar pengisian biodata, Amanda tidak menuliskan penyakit yang dideritanya. “Dari data lembara biodata siswa, Amanda tidak menuliskan memiliki riwayat penyakit. Maka, tidak ada tanda-tanda Amanda mengalami sakit,” katanya.

Mengenai adanya paksaan dalam membawa barang untuk mengikuti MOP, Neng menuturkan, barang tersebut wajar seperti pada umumnya. “Hanya berupa makanan untuk siswa tersebut, hanya saja dibawa dalam karung yang dibuatkan tas sehingga tidak ada paksaan bagi siswa,” katanya.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dedi Rafidi menuturkan, sebelum dilaksanakannya MOP, dinas pendidikan telah melakukan bimbingan teknis kepada semua guru.

“Kami tekankan kepada semua guru untuk memberikan pengenalan kepada siswa selama MOP dan melarang adanya kekerasan,” katanya.
Sumber Kompas.com-14-07-2011

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Siswi SMA 9 Ciputat Meninggal Usai Ospek

Posted by Nur Fuad pada 14 Juli 2011

TANGSEL -Siswi SMA 9 Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Amanda Puteri Lubis (16) meninggal secara mendadak pada Rabu (13/7/2011) pagi.

Amanda adalah siswi SMP 11 BSD Serpong Tangsel yang sedang menjalani ospek sejak Senin (11/07/2011) di SMA 9 Ciputat. Pihak keluarga membantah jika kematian Amanda terkait dengan ospek.

Evie Nasution, kakak ibu Amanda, mengatakan sekitar 03.30 WIB, Rabu (13/7/2011), anak bungsu dari pasangan suami istri Alfian Lubis dan Anita Nasution tersebut meninggal. Amanda sempat dirawat di RS Eka Hospital.

“Ibunya mengatakan, waktu tidur, Amanda mendengkur dengan suara keras. Dan posisi matanya sudah tak terlihat hitamnya. Dadanya sesak dan mendengkur keras,” ujarnya.

Guru SMA 9 Ciputat Hidayat membantah telah terjadi kekerasan fisik kepada Amanda ketika ospek. Amanda memang sempat dihukum karena tidak membawa name tag, tetapi tidak terjadi kekerasan.

“Hanya dipisahkan, bersama siswa-siswi lain yang dihukum karena tak membawa perlengkapan, hanya dipisahkan tidak diapa-apain,” katanya.

Amanda dimakamkan pukul 13.00 WIB di TPU Jelupang, Serpong, Tangsel. Pihak keluarga tidak melapor ke polisi atas kematian Amanda karena sama sekali tidak ditemukan bekas luka atau kekerasan. [tn/bar)
Sumber INILAH.COM-13-Juni-2011

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Tiga Tahun Blog Tangsel

Posted by kinclonk pada 5 Juli 2011

Assalamu’alaikum Wr Wb

Tanpa terasa pada hari ini Blog Tangerang Selatan genap berusia tiga tahun.

Terima kasih atas segala dukungan, kritik dan saran anda.

Wassalam

Salam hangat kami,

Admin

Ditulis dalam Umum | 4 Comments »

Pemkot Tangsel-Puspiptek Akan Bangun BBIAT

Posted by kinclonk pada 5 Juli 2011

SERPONG – Dinas Pertanian dan Keta­hanan Pangan Kota Tangsel mulai men­jalin kerjasama dengan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pus­pip­tek) dalam mengembangkan ikan air tawar. Kerja sama tersebut direa­li­sasikan dengan dibangunnya Balai Benih Ikan Air Tawar (BBIAT) di kawasan Pus­piptek, Setu, Kota Tangsel.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Per­tanian dan Ketahanan Pangan Kota Tang­sel Mispan mengatakan, potensi pe­ngem­bangan ikan air tawar di kota oto­nom baru ini cukup bagus. Untuk itu, dengan dibangunnya BBIAT Puspiptek akan mengembang ikan air tawar mulai da­ri pembenihan hingga pembesaran. “Pus­piptek sudah menyiapkan lahan se­luas 2,5 hektare,” ucapnya, Senin (4/7).

Dikatakan Mispan, di lahan seluas 2,5 hek­tare tersebut dibangun area pe­ngem­bangan perikanan, rumah makan, dan wisata air. Puspiptek juga menyediakan tenaga ahli perikanan. Sedangkan, Pem­kot menyiapkan petani ikan dengan me­libatkan Kontak Tani dan Nelayan An­dalan (KTNA). “Banyak ya­ng men­dukung rencana kami,” katanya.

Mispan mengaku, untuk menggolkan ren­cana tersebut, pihaknya sudah mem­buat Detail Enginering Design (DED) untuk diajukan ke pusat. Pihaknya me­nar­getkan tahun 2012 mendatang te­rea­lisasi. “DED Sedang kami kerjakan, ke­mung­kinan tiga bulan ke depan sudah ada DED dengan biaya Rp 250 juta. Se­dang­kan estimasi anggarannya, pemba­ngunan fisik berasal dari pusat,” ung­kapnya.

Ikan tawar yang akan dikem­bangkan, lanjut Mispan, yakni gurame, nila, mujair, patin, lele, dan mas. Hasil pengembangan akan dipasarkan ke sejumlah pasar dan rumah makan di tujuh kecamatan di Tangsel. “Tangsel ‘kan surganya kuliner. Pasti banyak yang membutuhkan ikan,” tukasnya. (riz/man/del)

Radar Banten, 5 Juli 2011

Ditulis dalam Tangerang Selatan | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.