Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk ‘Lingkungan’ Kategori

Peternakan Babi di Ciater Diprotes Warga

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 28, 2009

SERPONG- Lokasi peternakan babi di Vila Dago Tol dikeluhkan warga Ciater, SerpongTangerang Selatan. Pasalnya, peternakan tersebut membuang limbah cair kotoran dan potongan isi perut babi dilingkungan warga. Merasa terancam diamuk massa, sejumlah penjaga peternakan babi dipersenjatai.

“Limbah kotoran babi dan potongan isi perut babi dipeternakan itu dibuang begitu saja di kali Angke yang airnya sering digunakan untuk mandi dan minum. Akibatnya warga mengalami sakit diare, karena air dari sumur warga sudah tercemar kotoran babi itu. Kita takut, kalau kotoran babi itu mengandung penyakit virus flu babi yang menyebabkan penyakit bagi warga sekitar,”keluh Ketua Rt 5, Rw 9 Ciater Serpong, Cecep Iskandar.

Menurut Cecep, peternakan babi yang dimiliki salah seorang keturunan Tionhoa yang sudah 10 tahunan beroperasi, memelihara tidak kurang 80 babi. Lokasi peternakan babi Vila Dago Tol, Serpong tersebut berjarak 200 meter dari dua Rw yakni Rw 9 dan 11, Ciater. Dinilai mengancam kesehatan, sejumlah warga yang rumahnya berdekatan dengan peternakan itu selama ini mengeluhkan peternakan babi tersebut, namun tidak ditangapi serius pemilik peternakan tersebut.

“Kita tidak ingin ekstrim meminta peternakan itu ditutup, namun sebaiknya limbah dari peternakan itu dibenahi segera. Namun ketika kita minta baik-baik untuk dibenahi, sejumlah penjaga peternakan itu malah dipersenjatai senapan angin. Bahkan, anjing pelacak disebar dipeternakan itu,” ungkap Cecep.

Terpisah Camat Serpong Daswara mengaku, keluhan warga Ciater akan limbah kotoran peternakan babi itu telah diterima pihaknya. Hanya, saja ketika akan dipertemukan antara kedua belah pihak untuk membahas persoalan tersebut, warga Ciater tidak menghadiri pertemuan tersebut, hanya pemilik dari peternakan itu yang datang ketika dipanggil pihak kecamatan Serpong. Namun, Jum’at kemarin, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Tangerang telah melakukan vaksinasi terhadap puluhan babi di peternakan tersebut.”Babi di peternakan tersebut telah dilakukan pemeriksaan. Jika nanti warga kembali protes terdapat korban akibat virus babi, kita akan menutup peternakan tersebut,” ancam Daswara.

Menangapi keluhan warga Serpong, Pjs Walikota Tangsel M Shaleh mengaku akan menyerahkan persoalan tersebut kepada dinas terkait.”Kita berharap penyebaran virus babi jangan sampai menjangkiti kesehatan warga. Limbah cair dan bekas potongan isi perut babi harus diolah dengan menggunakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar tidak menyebabkan bau menyengat dan membuang kotoran di kali. Saya menganjurkan Distanak untuk kembali melakukan langkah cepat untuk menyelidiki peternakan babi di Serpong itu,” aku Shaleh. (iin)

Tangerangonline.com, 28 April 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Pemkot Tangsel Dinilai Gagal Cegah Kerusakan Alam Oleh Pengembang

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 22, 2009

PAMULANG- Pemerintah Kota Tangerang Selatan dinilai gagal untuk menekan mobilitas pembangunan yang mengarah kepada kerusakan alam. Demikian diungkapkan Koordinator Gugusan Nalar Ekosistem Pemuda Pamulang (Ganespa), Umar Maya.

“Kerusakan alam di sejumlah wilayah di Kota Tangerang Selatan terus digrogoti pengemban perumahan. Pemerintah setempat dinilai gagal menekan mobilitas pembangunan tanpa melihat kerusakan terhadap lingkungan,”ucapnya usai memperingati Hari Bumi di bunderan Pamulang, Rabu, (22/4)

Umar menambahkan keberadaan lingkungan di sejumlah titik di Kota Tangsel sulit untuk dipertahankan bila terus bermunculannya perumahan elit yang kerap mencukur hutan dan lingkungan disekitarnya.”Pengembang perumahan merupakan perusak lingkungan. Keberadaan perumahan elit menyebabkan ekosistem dimana mereka sebelumnya bertahan harus punah,”ungkap Umar.

Tidak hanya itu saja, menjamurnya perumahan tidak terlepas dari lemahnya pemerintah setempat dalam melakukan kontrol. Birokrat merasa dengan wilayahnya dibangun perumahan indah oleh pengemban akan menciptakan lapangan kerja dan meningkat ekonomi serta PAD kota tersebut. Tapi, disisi lain akan mengakibatkan kesengsaraan bagi lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Kerusakan alam itu dari pembangunan dapat dilihat menurunkan dua danau di Pamulang.

“Ketinggian debit air Situ Ciledug dan Sasak Tinggi sekitar tahun 1990 sekitar 9 meter, kini setelah dibangun mall Pamulang Square dan perumahan elit didekat situ tersebut, debit air hanya sekitar 5 meter. Kami melihat kerusakan alam tersebut sudah melewati ambas batas,” ungkapnya. (iin)

Tangerangonline, 22 April 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Komentar »

Air Bawah Tanah Memprihatinkan

Ditulis oleh kinclonk di/pada Maret 19, 2009

SERPONG – Lantaran makin maraknya penggunaan air bawah tanah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan Kabupaten Tangerang untuk kepentingan komersil mengakibatkan kondisi air tanah memprihatinkan. Sehingga, kondisi ini perlu diwaspadai.

Kepala UPTD Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemprov Banten Epi Rustam mengatakan, berdasarkan catatan UPTD Pajak Air Tanah DPKAD Provinsi Banten, setiap tahunnya, volume pengambilan air tanah terus mengalami peningkatan. Kondisi ini akibat maraknya pusat-pusat ekonomi lokal di Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.

“Sekarang usaha ekonomi lokal, seperti laundry, pencucian mobil, pabrik dan home industry di kawasan Tangerang dan Tangsel cukup banyak,” terang Epi Rustam ketika ditemui di kantornya, Rabu (18/3).
Saat ini saja, kata dia, untuk di kawasan Tangerang Selatan terdapat dua kecamatan yang termasuk zona aman pengambilan air tanah, yakni Kecamatan Serpong dan Kecamatan Pamulang. “Selebihnya, Kecamatan Ciputat, Pondok Aren, Ciputat Timur, Setu dan Serpong Utara termasuk zona rawan pengambilan air tanah,” jelasnya.
Sedangkan, untuk di Kabupaten Tangerang kondisinya malah lebih parah. Menurutnya, hampir semua kecamatan, termasuk zona rawan dan kritis. Di antaranya, Kecamatan Legok, Pagedangan, Pasar Kemis, Tigaraksa, Cisauk, Mauk, Cisoka, Sepatan, Rajeg, Panongan, Cikupa, Sukadiri, Jambe, dan Curug. “Daerah-daerah itu termasuk zona rawan. Sedangkan sisanya, yaitu kecamatan Balaraja, Kronjo, Kresek, Jayanti, dan Kemiri termasuk zona kritis,” paparnya.

Ia menjelaskan, jumlah pengguna air tanah dalam kurun 2007-2008 terus meningkat. Kebanyakan untuk kebutuhan ekonomi kelas menengah. Biasanya berada di sekitar perumahan dan pertokoan.
”Kita lihat dari jumlah pajak air tanah saja. Tahun 2007 sekitar Rp 5,9 miliar pajak air tanah yang didapat. Sedangkan tahun 2008 menjadi Rp 6,3 miliar,” ungkapnya.

Epi menjelaskan, penggunaan air tanah yang membahayakan terjadi pada kategori komersil. Sedangkan kategori rumah tangga dan sosial tidak perlu dipermasalahkan. Karena memang aturannya hanya membatasi penggunaan air tanah untuk komersil.
Pembagian zona tersebut, menurut dia, mengacu pada Pergub Banten Nomor 31 Tahun 2008 tentang Tata Cara Perhitungan Harga Dasar Air sebagai Penetapan Nilai Perolehan Air Tanah dan Air Permukaan. Setiap zona memiliki harga pajak air tanah yang berbeda-beda.
”Kalau zona rawan dan kritis berarti mahal harga air tanahnya,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang Odang Masduki mengatakan, pihaknya akan memperketat pemberian izin penggunaan air tanah tersebut. Malah mengenai persyaratan untuk mendapatkan izin pun mulai ditambah. Ini agar tidak lagi terjadi peningkatan volume penggunaan air tanah. Apalagi, penggunaan air tanah tersebut untuk kepentingan komersil. “Kita bakal terus memantau perizinannya dan penggunaannya. Jika terbukti ada pelanggaran maka izinnya akan kita cabut,” pungkasnya. (ang/bon)

Radar Banten, 19 Maret 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Empat Situ di Tangsel Punah

Ditulis oleh kinclonk di/pada Februari 23, 2009

SETU – Empat situ di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) punah. Keberadaan situ-situ tersebut telah beralih fungsi menjadi tempat permukiman warga. Ada juga yang telah beralih menjadi persawahan.
Dosen Planologi Institut Teknologi Indonesia (ITI) Tangerang Kusparmadi mengatakan, di Kota Tangsel ini terdapat sembilan situ, yakni Situ Pamulang atau Tujuh Muara, di Pamulang, Situ Kedaung di Pamulang, Situ Parigi di Pondok Aren, Situ Rawa Kutub di Serpong Utara, Situ Gintung di Cirendeu Ciputat Timur, Situ Legoso di Kelurahan Cempaka Putih Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur di Kelurahan Pondok Ranji Kecamatan Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Dari sembilan situ yang telah kita inventarisir, empat di antaranya telah hilang keberadaannya,” kata Kusparmadi, Jumat (20/2). Dijelaskan Kusparmadi,keempat situ yang dinyatakan hilang itu masing-masing adalah Situ Legoso di Kelurahan Cempaka Putih Kecamatan Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur, di Kelurahan Pondok Ranji, Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Keempat situ itu keberadaannya kini sudah tak terlihat di peta bahkan tak terpantau satelit,” jelasnya. Kusparmadi mengaku prihatin dengan keberadaan situ-situ tersebut. Untuk ke depan, ia berharap agar pemerintah Kota Tangsel segera melakukan pendataan kembali situ-situ yang ada di Tangsel.

“Keberadaan situ itu amatlah penting bagi masyarakat dan ini PR bagi Pemkot Tangsel,” terangnya. Ia juga mengatakan, fungsi keberadaan situ ini sebagai penampung air dan mengantisipasi banjir. Jika situ ini berubah alih fungsi dikhawatirkan membuat sebagian wilayah Tangerang Selatan rawan banjir.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengairan Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang Yulianto mengatakan, awalnya keberadaan situ-situ itu tidak terurus. Akibatnya, terjadi pendangkalan dan oleh warga lalu dijadikan area permukiman. (ang)

Radar Banten, 21 Februari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 2 Komentar »

Antisipasi Banjir, Warga Bangun Saluran Air

Ditulis oleh kinclonk di/pada Januari 12, 2009

CIPUTAT– Antisipasi banjir, warga Kelurahan Cempaka Putih dan Pondok Ranji Kecamatan Ciputat Timur membangun gorong-gorong sepanjang 500 meter di Jalan Menjangan Raya. Dana yang dihabiskan untuk membangun saluran air dengan diameter 60 X 60 centimeter tersebut diperkirakan mencapai Rp 300 juta.

Salah satu warga Hendra Saputra mengatakan, sejak dahulu wilayah mereka selalu menjadi langganan banjir. Namun, belum sampai masuk ke dalam rumah. Tapi, semenjak betonisasi Jalan Menjangan Raya, banjir semakin parah.

Rencananya saluran air itu akan mengaliri air ke Situ Bungur. Titi awal saluran air dibangun di Kelurahan Cempaka Putih, lalu melintasi Kelurahan Pondok Ranji sebelum sampai di penampungannya Situ Bungur yang seluas 3 ribu meter persegi lebih.

“Sekarang banjir sudah masuk ke dalam rumah. Ketinggiannya mencapai 30-50 centimeter. Sekarang, jalan sudah lebih tinggi dari pemukiman. Akibatnya, air selalu mengalir ke pemukiman warga. Sedangkan saluran air kecil,” terang Ketua Angkatan Muda Partai Golkr (AMPG) Kecamatan Ciputat Timur tersebut.

Supaya tidak adanya penumpukan sampah di dalam saluran air, setiap 15 meter akan dibuat bak kontrol. Setiap minggu, saluran air akan diperiksa.
Selain itu, disekitar Situ Bungur juga akan dibangun 3 buah toilet umum. Jadi warga tidak perlu buang air sembarangan lagi. (cdl)

Tangerang Online, 11 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Komentar »

TPS Sampah di Tangsel Berkurang

Ditulis oleh kinclonk di/pada Januari 9, 2009

PONDOK AREN – Persoalan penanganan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tampaknya akan bertambah.
Jika sebelumnya, anggota Komisi B DPRD Kabupaten Tangerang Jackie Zakaria Harahap berpendapat, untuk mengantisipasi Kota Tangsel menjadi kota sampah, salah satunya perlu pengoptimalan tempat pembuangan sementara (TPS) sampah.
Namun, anggota DPRD Kabupaten Tangerang lainnya, HM Salbini justru sebaliknya. Sebuah lahan di Kompleks Permai Jurang Mangu Barat, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, yang selama ini dijadikan TPS, justru akan dijadikan taman.
Warga setempat mengeluhkan TPS tersebut lantaran berdiri di atas fasilitas umum yang menurut warga seharusnya dijadikan taman bermain. “Tempat itu tidak layak dijadikan TPS,” kata Salbini, Rabu (8/1).

Dikatakan, dalam APBD 2008 Pemkab Tangerang telah mengalokasikan dana Rp 100 juta untuk pembuatan dijadikan taman. Rinciannya, Rp 50 juta untuk mengangkat sampah dan Rp 50 juta untuk penataan lingkungan.
Namun, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tangerang punya rencana lain. Rencananya, instansi ini merinci anggaran Rp 20 juta untuk taman, Rp 20 juta untuk pemagaran, dan Rp 60 juta untuk penanganan sampah.
Warga menginginkan sampah di TPS tersebut diangkat dan dijadikan taman dengan dasar dikonblok atau disemen. Sedang, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tangerang menginginkan TPS tersebut diuruk dengan tanah, untuk kemudian ditanami pohon.

Sejak dikerjakan pada awal Desember 2008 lalu hingga kini, pengerjaan TPS mejadi taman belum selesai. Sebelumnya, pengangkatan sampah terhenti karena sedang ada perbaikan jembatan. Namun, saat ini, sudah dua minggu, pengerjaan tersebut terhenti tanpa sebab yang jelas. “Selama bulan November, TPS belum diapa-apakan, baru dipagar,” terang politisi PKS ini.
Sebagai ganti TPS tersebut, sampah warga kompleks Permai diangkut oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tangerang. Namun, menurut Salbini, masih banyak warga kompleks dan sekitar yang membuang sampah di TPS tersebut. Ke depannya, Salbini menyiapkan TPS baru di lahan kosong milik warga yang ada di Pondok Belimbing, Jurang Mangu Barat, Kota Tangerang Selatan.

Pada bagian lain, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Arif Wahyudi berpendapat, untuk mengatasi masalah sampah di Kota Tangerang Selatan, selain mengoptimalkan TPS, juga perlu penyadaran masyarakat memilah sampah dan dilanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat mengolah sampah menjadi pupuk organic.
“Banyak tenaga kerja yang terserap. Selain itu, teknologi dan kerja sama antar-daerah. Singkatnya, selama ada niat baik melayani, insya Allah akan selalu ada solusinya,” ungkap Arif melalui pesan singkatnya, Kamis (8/1) pagi. (mg-hasan/dai)

Radar Banten, 9 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Komentar »

Buang Limbah Sembarang, Klinik Bersalin Disoal Warga

Ditulis oleh kinclonk di/pada Januari 8, 2009

PAMULANG – Keberadaan Klinik Bersalin Vitalaya dipermasalahkan puluhan warga Perumahan Pondok Benda Indah RT 1/18, Kelurahan Pondok Benda Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan. Pasalnya klinik tersebut diduga tidak memiliki standar pengolahan limbah.

Menurut Suhadi, salah satu warga, Bukti pengelolaan limbah yang tidak baik itu ditemukan warga saat memergoki petugas klinik tersebut. Petugas klinik tadi menyuruh pemulung untuk membawa tiga karung berisi limbah rumah sakit.

“Karung itu pun dibuang pemulung di pinggir jalan. Kita curiga dan melihat ada yang tidak beres,” terang Suhardi, Kamis (8/1).

Tiga karung barang yang mencurigakan itu, lanjut dia segera dibongkar warga. Ternyata berisi limbah klinik bersalin. Berupa gumpalan perban, obat-obatan dan sebagainya. Limbah tersebut dicegah warga untuk dibuang ke lokasi umum. Alasannya, terang Suhardi limbah tersebut bisa menimbulkan penyakit. Apalagi limbah rumah sakit atau klinik itu masuk dalam katergori limbah berbahaya.

“Seharusnya ada pengelolaannya. Makanya kita pun protes dengan pengelelola klinik,” terangnya.
Sikap protes tersebut dilanjutkan warga dengan mendatangi kantor kelurahan Pondok Benda. Mereka menuntut pihak kelurahan melakukan pemeriksaan terhadap klinik Vitalaya ini. Karena kasus pembuangan limbah itu sering dilakukan secara diam-diam.

Sementara itu, Camat Pamulang Toto Sudarto mengatakan, laporan warga itu bakal segera ditanggapi. Dengan merencanakan pemanggilan pengelola klinik Vitalaya. Termasuk memeriksa kembali izin-izin pendiriannya.

“Kalau terbukti ada pelanggaran izin, maka Vitalaya harus dihentikan operasinya untuk sementara,” paparnya.

Menurutnya prosedur pendirian klinik bersalin seharusnya memenuhi standar. Tak hanya masalah keselamatan gedung dan lainnya, pengelolaan limbah klinik juga harus diperhatikan. Diantaranya menyiapkan insenerator bagi setiap klinik. Ini dibutuhkan untuk mencegah limbah klinik menjadi sumber penyakit.

Toto memastikan, pemeriksaan izin klinik bakal dilakukan segera. Setiap ada pelanggaran prosedur maka diberlakukan sanksi. Termsuk jika ditemukan adanya pelanggaran pengelolaan limbah yang menimbulkan kerusakan alam.

Sayangnya pengelola klinik Vitalaya tidak ada yang bersedia memberikan keterangan. Berulang kali ditemui berusaha mengelak. Bahkan berdalih pemimpin klinik tidak berada ditempat. (cdl)

Tangerang Online, 8 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Penanggulangan Sampah Persoalan Serius Tangsel

Ditulis oleh kinclonk di/pada Januari 8, 2009

TANGERANG (Pos Kota) – Penanggulangan sampah di Kota Tangerang (Tangsel) selepas peresmiannya dalam waktu dekat ini akan menjadi persoalan serius bagi PJS Walikota Tangsel bersama jajaran Pemkot Tangsel.

Catatan Pos Kota, produksi sampah sebanyak 1.200 M3 yang dibuang Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Tangerang ke TPA Jati Waringin, Kecamatan Mauk, hampir 60 persennya adalah sampah asal Tangsel. Di antaranya sampah dari Pasar Ciputat dan Pasar Serpong.

Praktis, bila tidak ada kesepakatan penanganan sampah dengan Pemkab Tangerang, maka 60 persen sampah tersebut akan menumpuk di Tangsel.

Masalahnya sampai saat ini di Kota Tangsel memang belum tersedia TPA sampah. Meskipun sebenarnya TPA sampah sempat diupayakan Pemkab Tangerang di Tangsel beberapa tahun lalu, misalnya di TPA Pasir Muncang, tetapi mendapat penolakan masyarakat.(djamal/ds/r)

Pos Kota, 7 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Warga Kecam Pembuang Sampah Busuk

Ditulis oleh kinclonk di/pada Januari 5, 2009

PONDOK AREN – Karena tidak mempunyai tempat pembuangan sampah, warga Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan membuang sampah di tanah kosong, di pinggir jalan raya.
Akibatnya, sampah menumpuk dan melewati badan jalan. Pemandangan ini sudah berlangsung cukup lama di Jalan Raya Pondok Aren. Meski pemerintah daerah berupaya mencegah dengan memasang pengumuman “dilarang keras membuang sampah di sini,” di sepanjang pagar pembatas, banyak warga tetap membuang sampah industri rumahnya sembarangan.
Bagi warga yang tinggal di pingir jalan, keberadaan sampah tersebut sangat mengganggu, khususnya mereka yang berdagang. Selain sering menimbulkan bau busuk, seperti bangkai ayam dan binatang lainnya, juga menurunkan hasil pendapatan mereka.
Menurut seorang pedagang, pembeli sungkan membeli di warung mereka karena bau sampah yang busuk. “Bau sampah busuk, pembeli tidak mau belanja di sini,” ungkap warga yang namanya tidak mau disebutkan, Sabtu (3/1).

Meski warga sekitar terdapat pembuangan sampah, mereka tidak membuang bangkai di depan rumah mereka sendiri. Sekalipun ada kucing mati, mereka pasti menguburkannya. “Warga sekitar tidak membuang bangkai,” lanjutnya. Menurut warga, bangkai tersebut dibuang dari limbah industri rumah makan dan ternak ayam. Mereka membawa sampah-sampah busuk dalam karung yang diangkut mobil dan dibuang pada malam hari atau dini hari.
Suatu ketika, pernah seorang warga memergoki seseorang sedang membuang berkarung-karung sampah busuk. “Mereka membuang sampah tersebut pada waktu malam,” katanya.
Beberapa hari kemudian, warga sekitar tidak lagi mencium bau busuk dari tempat pembuangan sampah. Namun, setelah beberapa bulan, bau busuk tersebut kembali menyengat hidung warga sekitar.
Bebagai upaya dilakukan warga sekitar. Untuk menjaga lingkungannya, mereka kerja bakti membersihkan rumput sekitar pagar pembatas, mendorong sampah yang menumpuk ke dalam jurang, membakar sampah yang kering, menanam pohon sebagai penghalang, membuat tulisan yang sifatnya mengecam pembuang sampah. (mg-hasan)

Radar Banten, 5 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Situku Tak Seindah Dulu

Ditulis oleh kinclonk di/pada November 28, 2008

situ-kuru2

Lingkungan Situ Kuru, yang berada di Kelurahan Cempakaputih, Kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang (dekat kampus UIN Jakarta), telah berubah. Konversi lahan Situ Kuru terlihat jelas dengan adanya pondasi batu kali yang membentang, bangunan rumah-rumah termasuk rumah kontrakan dan sebagainya di seputar situ tersebut.

Foto-foto kriman
Ahmad Sadeli,
Kabupaten Tangerang, Banten

Warta Kota, 27 November 2008

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Komentar »