Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk ‘Lingkungan’ Kategori

Jalur Sepeda 16 km di BSD City Diresmikan

Posted by Nur Fuad pada 4 Juli 2011

TANGSEL- Jalur sepeda sepanjang 16 Km di Bumi Serpong Damai (BSD) City, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), di resmikan oleh Wakil Gubernur Banten, Masduki dan Wali Kota Tangsel, Airin Racmy Diany di Taman Techno, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel.

“Peresmian Lajur sepeda sepanjang 16 Km yang disiapkan oleh pengembang perumahan BSD ini merupakan yang pertama kali di Tangsel,” kata Wakil Gubernur Banten, Masduki usai menanda tangani prasasti lajur sepeda di Taman Kota 2 BSD City Minggu kemarin.

Karenanya, lanjut dia, lajur sepeda patut dikembangkan dan diikuti oleh pengembang-pengembang perumahan lain di seluruh Tangsel. Mengingat bersepada itu juga merupakan bagian dari kampanye lingkungan hidup.”Kami harap setelah BSD, ada pengembang perumahan lain yang menyiapkan lajur sepeda,” ujar Walikota Tangsel Airin mempertegas ucapan Wagub Banten Masduki. Peresmian lajur sepeda ini sekaligus menandai dimulainya festival Hijau di BSD City
yang menjadi agenda kampanye lingkungan hidup.

Ditanya apakah Pemkot akan mengeluarkan Peraturan daerah (Perda) terkait jalur sepeda itu, Airin mengatakan harus di tinjau ulang, mengingat mayoritas jalan di Tangsel sangat sempit. ”Sebenarnya di daerah Ciputat kami sudah memiliki lajur sepeda. Tapi jika di seluruh jalan diadakan lajur sepeda tidak mungkin, Karena di Tangsel masih banyak jalan yang sempit,” kata Airin sambil bersepeda santai.

Adapun 16 Km lajur sepeda di BSD City itu, rutenya dimulai dari BSD Junction ke arah Tol BSD. Namun sesampai di Perempatan Polsek Serpong berputar arah menuju sekolah Ursula.(DRA)
Sumber – TangerangNews.com -03-Juni-2011

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Comment »

Saatnya, Situ Dikembalikan Fungsinya Sebagai Resapan Air

Posted by Nur Fuad pada 20 Juni 2011

TANGSEL-Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, meminta jajarannya segera membenahi Situ yang ada di Tangsel. Sebab kondisi Situ di daerah pemekaran Kabupaten Tangerang itu sangat memprihatinkan.

“Meskipun Situ itu tanggung jawab pemerintah pusat, tapi ke depannya Pemkot juga harus bertanggung jawab memelihara dan menjaganya. Namun tidak bisa sendirian. Harus ditanggung bersama,” ucap Airin.

Menurut Airin, cukup tiga Situ yang hilang di Tangsel, dari 12 Situ yang ada. Ketiga Situ yang hilang itu adalah Situ Teratai, Bojong, dan Badak.

Ke depannya, Airin meminta fungsi Situ dikembalikan seperti semula yakni daerah resapan air. Sebab kini Situ sudah berubah fungsi, dan menyebabkan Situ jadi tidak terurus. Seperti halnya Situ Sasak atau Situ Pamulang, yang kini banyak terdapat keramba ikan, rumah penduduk, dan kandang ayam.

Menurut Airin, dengan alasan apapun, Situ harus dikembalikan ke fungsi semula. Karena itu Airin memerintahkan Satpol PP bersama dinas terkait untuk segera membenahi dan mencari solusi terbaik menangani bangunan di sekitar Situ.

“Jadi Saya minta tidak ada lagi keramba di sini. Tapi harus dicari solusinya bersama dinas,” tegasnya. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tangsel, Toto Sudarto, mengakui kondisi Situ makin memprihatinkan.

“Ada dua permasalahan yakni permasalahan fisik dan non fisik. Untuk permasalahan fisik karena adanya peralihan fungsi dan pendangkalan. Sedangkan permasalahan non fisik, kewenangan mengelola. Untuk kedalaman Situ tadinya 10 meter, sekarang maksimal lima meter,” ucapnya.

Karena itu Toto sependapat dengan Airin, untuk segera dilakukan pembenahan di semua Situ di Tangsel. “Harus dikembalikan kepada fungsi semula, yaitu daerah resapan air,” tandasnya.(DRA)
Sumber – TangerangNews.com – 18-Juni-2011

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Lagi, Perumahan Cirendeu Banjir

Posted by kinclonk pada 30 Agustus 2010

CIPUTAT – Perumahan Cirendeu Permai, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, kembali digenangi air, Minggu (29/8). Banjir mencapai ketinggian satu meter lebih.

Air mulai menggenangi rumah warga sekira pukul 05.30 WIB. Sedikitnya, 120 rumah di RT 01 dan RT 02 di RW 12 digenangi air. Berjarak lima meter dari pintu utama Perumahan Cirendeu Permai, terlihat ada lima perahu karet yang ditempatkan untuk memantau dan mengevakuasi warga. Termasuk, puluhan anggota Brimob untuk menjaga keamanan lokasi.

Kurniadi (32) menjelaskan, air mulai menggenangi rumah warga pada sekira pukul 06.00 WIB. Melihat air datang, beberapa warga langsung berinisiatif memindahkan barang-barang seperti memarkir kendaraan ke tempat yang lebih tinggi. “Sebagian warga bertahan di lantai dua rumah masing-masing,” kata Kurniadi.

Hingga sekira pukul 16.00 WIB, genangan air mulai surut. Pantauan di Jalan Perumahan Cirendeu Raya dan Jalan Perumahan Cerendeu II, ketinggian air masih setinggi betis orang dewasa. Banjir ini merupakan peristiwa kedua kalinya. Banjir pertama menggenangi rumah warga setinggi 1,5 meter.(mg-06/don)

Radar Banten, 30 Agustus 2010

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Comment »

Peternakan Babi di Ciater Diprotes Warga

Posted by kinclonk pada 28 April 2009

SERPONG- Lokasi peternakan babi di Vila Dago Tol dikeluhkan warga Ciater, SerpongTangerang Selatan. Pasalnya, peternakan tersebut membuang limbah cair kotoran dan potongan isi perut babi dilingkungan warga. Merasa terancam diamuk massa, sejumlah penjaga peternakan babi dipersenjatai.

“Limbah kotoran babi dan potongan isi perut babi dipeternakan itu dibuang begitu saja di kali Angke yang airnya sering digunakan untuk mandi dan minum. Akibatnya warga mengalami sakit diare, karena air dari sumur warga sudah tercemar kotoran babi itu. Kita takut, kalau kotoran babi itu mengandung penyakit virus flu babi yang menyebabkan penyakit bagi warga sekitar,”keluh Ketua Rt 5, Rw 9 Ciater Serpong, Cecep Iskandar.

Menurut Cecep, peternakan babi yang dimiliki salah seorang keturunan Tionhoa yang sudah 10 tahunan beroperasi, memelihara tidak kurang 80 babi. Lokasi peternakan babi Vila Dago Tol, Serpong tersebut berjarak 200 meter dari dua Rw yakni Rw 9 dan 11, Ciater. Dinilai mengancam kesehatan, sejumlah warga yang rumahnya berdekatan dengan peternakan itu selama ini mengeluhkan peternakan babi tersebut, namun tidak ditangapi serius pemilik peternakan tersebut.

“Kita tidak ingin ekstrim meminta peternakan itu ditutup, namun sebaiknya limbah dari peternakan itu dibenahi segera. Namun ketika kita minta baik-baik untuk dibenahi, sejumlah penjaga peternakan itu malah dipersenjatai senapan angin. Bahkan, anjing pelacak disebar dipeternakan itu,” ungkap Cecep.

Terpisah Camat Serpong Daswara mengaku, keluhan warga Ciater akan limbah kotoran peternakan babi itu telah diterima pihaknya. Hanya, saja ketika akan dipertemukan antara kedua belah pihak untuk membahas persoalan tersebut, warga Ciater tidak menghadiri pertemuan tersebut, hanya pemilik dari peternakan itu yang datang ketika dipanggil pihak kecamatan Serpong. Namun, Jum’at kemarin, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Tangerang telah melakukan vaksinasi terhadap puluhan babi di peternakan tersebut.”Babi di peternakan tersebut telah dilakukan pemeriksaan. Jika nanti warga kembali protes terdapat korban akibat virus babi, kita akan menutup peternakan tersebut,” ancam Daswara.

Menangapi keluhan warga Serpong, Pjs Walikota Tangsel M Shaleh mengaku akan menyerahkan persoalan tersebut kepada dinas terkait.”Kita berharap penyebaran virus babi jangan sampai menjangkiti kesehatan warga. Limbah cair dan bekas potongan isi perut babi harus diolah dengan menggunakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar tidak menyebabkan bau menyengat dan membuang kotoran di kali. Saya menganjurkan Distanak untuk kembali melakukan langkah cepat untuk menyelidiki peternakan babi di Serpong itu,” aku Shaleh. (iin)

Tangerangonline.com, 28 April 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Pemkot Tangsel Dinilai Gagal Cegah Kerusakan Alam Oleh Pengembang

Posted by kinclonk pada 22 April 2009

PAMULANG- Pemerintah Kota Tangerang Selatan dinilai gagal untuk menekan mobilitas pembangunan yang mengarah kepada kerusakan alam. Demikian diungkapkan Koordinator Gugusan Nalar Ekosistem Pemuda Pamulang (Ganespa), Umar Maya.

“Kerusakan alam di sejumlah wilayah di Kota Tangerang Selatan terus digrogoti pengemban perumahan. Pemerintah setempat dinilai gagal menekan mobilitas pembangunan tanpa melihat kerusakan terhadap lingkungan,”ucapnya usai memperingati Hari Bumi di bunderan Pamulang, Rabu, (22/4)

Umar menambahkan keberadaan lingkungan di sejumlah titik di Kota Tangsel sulit untuk dipertahankan bila terus bermunculannya perumahan elit yang kerap mencukur hutan dan lingkungan disekitarnya.”Pengembang perumahan merupakan perusak lingkungan. Keberadaan perumahan elit menyebabkan ekosistem dimana mereka sebelumnya bertahan harus punah,”ungkap Umar.

Tidak hanya itu saja, menjamurnya perumahan tidak terlepas dari lemahnya pemerintah setempat dalam melakukan kontrol. Birokrat merasa dengan wilayahnya dibangun perumahan indah oleh pengemban akan menciptakan lapangan kerja dan meningkat ekonomi serta PAD kota tersebut. Tapi, disisi lain akan mengakibatkan kesengsaraan bagi lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Kerusakan alam itu dari pembangunan dapat dilihat menurunkan dua danau di Pamulang.

“Ketinggian debit air Situ Ciledug dan Sasak Tinggi sekitar tahun 1990 sekitar 9 meter, kini setelah dibangun mall Pamulang Square dan perumahan elit didekat situ tersebut, debit air hanya sekitar 5 meter. Kami melihat kerusakan alam tersebut sudah melewati ambas batas,” ungkapnya. (iin)

Tangerangonline, 22 April 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Comment »

Air Bawah Tanah Memprihatinkan

Posted by kinclonk pada 19 Maret 2009

SERPONG – Lantaran makin maraknya penggunaan air bawah tanah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan Kabupaten Tangerang untuk kepentingan komersil mengakibatkan kondisi air tanah memprihatinkan. Sehingga, kondisi ini perlu diwaspadai.

Kepala UPTD Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemprov Banten Epi Rustam mengatakan, berdasarkan catatan UPTD Pajak Air Tanah DPKAD Provinsi Banten, setiap tahunnya, volume pengambilan air tanah terus mengalami peningkatan. Kondisi ini akibat maraknya pusat-pusat ekonomi lokal di Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.

“Sekarang usaha ekonomi lokal, seperti laundry, pencucian mobil, pabrik dan home industry di kawasan Tangerang dan Tangsel cukup banyak,” terang Epi Rustam ketika ditemui di kantornya, Rabu (18/3).
Saat ini saja, kata dia, untuk di kawasan Tangerang Selatan terdapat dua kecamatan yang termasuk zona aman pengambilan air tanah, yakni Kecamatan Serpong dan Kecamatan Pamulang. “Selebihnya, Kecamatan Ciputat, Pondok Aren, Ciputat Timur, Setu dan Serpong Utara termasuk zona rawan pengambilan air tanah,” jelasnya.
Sedangkan, untuk di Kabupaten Tangerang kondisinya malah lebih parah. Menurutnya, hampir semua kecamatan, termasuk zona rawan dan kritis. Di antaranya, Kecamatan Legok, Pagedangan, Pasar Kemis, Tigaraksa, Cisauk, Mauk, Cisoka, Sepatan, Rajeg, Panongan, Cikupa, Sukadiri, Jambe, dan Curug. “Daerah-daerah itu termasuk zona rawan. Sedangkan sisanya, yaitu kecamatan Balaraja, Kronjo, Kresek, Jayanti, dan Kemiri termasuk zona kritis,” paparnya.

Ia menjelaskan, jumlah pengguna air tanah dalam kurun 2007-2008 terus meningkat. Kebanyakan untuk kebutuhan ekonomi kelas menengah. Biasanya berada di sekitar perumahan dan pertokoan.
”Kita lihat dari jumlah pajak air tanah saja. Tahun 2007 sekitar Rp 5,9 miliar pajak air tanah yang didapat. Sedangkan tahun 2008 menjadi Rp 6,3 miliar,” ungkapnya.

Epi menjelaskan, penggunaan air tanah yang membahayakan terjadi pada kategori komersil. Sedangkan kategori rumah tangga dan sosial tidak perlu dipermasalahkan. Karena memang aturannya hanya membatasi penggunaan air tanah untuk komersil.
Pembagian zona tersebut, menurut dia, mengacu pada Pergub Banten Nomor 31 Tahun 2008 tentang Tata Cara Perhitungan Harga Dasar Air sebagai Penetapan Nilai Perolehan Air Tanah dan Air Permukaan. Setiap zona memiliki harga pajak air tanah yang berbeda-beda.
”Kalau zona rawan dan kritis berarti mahal harga air tanahnya,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang Odang Masduki mengatakan, pihaknya akan memperketat pemberian izin penggunaan air tanah tersebut. Malah mengenai persyaratan untuk mendapatkan izin pun mulai ditambah. Ini agar tidak lagi terjadi peningkatan volume penggunaan air tanah. Apalagi, penggunaan air tanah tersebut untuk kepentingan komersil. “Kita bakal terus memantau perizinannya dan penggunaannya. Jika terbukti ada pelanggaran maka izinnya akan kita cabut,” pungkasnya. (ang/bon)

Radar Banten, 19 Maret 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

Empat Situ di Tangsel Punah

Posted by kinclonk pada 23 Februari 2009

SETU – Empat situ di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) punah. Keberadaan situ-situ tersebut telah beralih fungsi menjadi tempat permukiman warga. Ada juga yang telah beralih menjadi persawahan.
Dosen Planologi Institut Teknologi Indonesia (ITI) Tangerang Kusparmadi mengatakan, di Kota Tangsel ini terdapat sembilan situ, yakni Situ Pamulang atau Tujuh Muara, di Pamulang, Situ Kedaung di Pamulang, Situ Parigi di Pondok Aren, Situ Rawa Kutub di Serpong Utara, Situ Gintung di Cirendeu Ciputat Timur, Situ Legoso di Kelurahan Cempaka Putih Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur di Kelurahan Pondok Ranji Kecamatan Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Dari sembilan situ yang telah kita inventarisir, empat di antaranya telah hilang keberadaannya,” kata Kusparmadi, Jumat (20/2). Dijelaskan Kusparmadi,keempat situ yang dinyatakan hilang itu masing-masing adalah Situ Legoso di Kelurahan Cempaka Putih Kecamatan Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur, di Kelurahan Pondok Ranji, Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Keempat situ itu keberadaannya kini sudah tak terlihat di peta bahkan tak terpantau satelit,” jelasnya. Kusparmadi mengaku prihatin dengan keberadaan situ-situ tersebut. Untuk ke depan, ia berharap agar pemerintah Kota Tangsel segera melakukan pendataan kembali situ-situ yang ada di Tangsel.

“Keberadaan situ itu amatlah penting bagi masyarakat dan ini PR bagi Pemkot Tangsel,” terangnya. Ia juga mengatakan, fungsi keberadaan situ ini sebagai penampung air dan mengantisipasi banjir. Jika situ ini berubah alih fungsi dikhawatirkan membuat sebagian wilayah Tangerang Selatan rawan banjir.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengairan Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang Yulianto mengatakan, awalnya keberadaan situ-situ itu tidak terurus. Akibatnya, terjadi pendangkalan dan oleh warga lalu dijadikan area permukiman. (ang)

Radar Banten, 21 Februari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 3 Comments »

Antisipasi Banjir, Warga Bangun Saluran Air

Posted by kinclonk pada 12 Januari 2009

CIPUTAT– Antisipasi banjir, warga Kelurahan Cempaka Putih dan Pondok Ranji Kecamatan Ciputat Timur membangun gorong-gorong sepanjang 500 meter di Jalan Menjangan Raya. Dana yang dihabiskan untuk membangun saluran air dengan diameter 60 X 60 centimeter tersebut diperkirakan mencapai Rp 300 juta.

Salah satu warga Hendra Saputra mengatakan, sejak dahulu wilayah mereka selalu menjadi langganan banjir. Namun, belum sampai masuk ke dalam rumah. Tapi, semenjak betonisasi Jalan Menjangan Raya, banjir semakin parah.

Rencananya saluran air itu akan mengaliri air ke Situ Bungur. Titi awal saluran air dibangun di Kelurahan Cempaka Putih, lalu melintasi Kelurahan Pondok Ranji sebelum sampai di penampungannya Situ Bungur yang seluas 3 ribu meter persegi lebih.

“Sekarang banjir sudah masuk ke dalam rumah. Ketinggiannya mencapai 30-50 centimeter. Sekarang, jalan sudah lebih tinggi dari pemukiman. Akibatnya, air selalu mengalir ke pemukiman warga. Sedangkan saluran air kecil,” terang Ketua Angkatan Muda Partai Golkr (AMPG) Kecamatan Ciputat Timur tersebut.

Supaya tidak adanya penumpukan sampah di dalam saluran air, setiap 15 meter akan dibuat bak kontrol. Setiap minggu, saluran air akan diperiksa.
Selain itu, disekitar Situ Bungur juga akan dibangun 3 buah toilet umum. Jadi warga tidak perlu buang air sembarangan lagi. (cdl)

Tangerang Online, 11 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 1 Comment »

TPS Sampah di Tangsel Berkurang

Posted by kinclonk pada 9 Januari 2009

PONDOK AREN – Persoalan penanganan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tampaknya akan bertambah.
Jika sebelumnya, anggota Komisi B DPRD Kabupaten Tangerang Jackie Zakaria Harahap berpendapat, untuk mengantisipasi Kota Tangsel menjadi kota sampah, salah satunya perlu pengoptimalan tempat pembuangan sementara (TPS) sampah.
Namun, anggota DPRD Kabupaten Tangerang lainnya, HM Salbini justru sebaliknya. Sebuah lahan di Kompleks Permai Jurang Mangu Barat, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, yang selama ini dijadikan TPS, justru akan dijadikan taman.
Warga setempat mengeluhkan TPS tersebut lantaran berdiri di atas fasilitas umum yang menurut warga seharusnya dijadikan taman bermain. “Tempat itu tidak layak dijadikan TPS,” kata Salbini, Rabu (8/1).

Dikatakan, dalam APBD 2008 Pemkab Tangerang telah mengalokasikan dana Rp 100 juta untuk pembuatan dijadikan taman. Rinciannya, Rp 50 juta untuk mengangkat sampah dan Rp 50 juta untuk penataan lingkungan.
Namun, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tangerang punya rencana lain. Rencananya, instansi ini merinci anggaran Rp 20 juta untuk taman, Rp 20 juta untuk pemagaran, dan Rp 60 juta untuk penanganan sampah.
Warga menginginkan sampah di TPS tersebut diangkat dan dijadikan taman dengan dasar dikonblok atau disemen. Sedang, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tangerang menginginkan TPS tersebut diuruk dengan tanah, untuk kemudian ditanami pohon.

Sejak dikerjakan pada awal Desember 2008 lalu hingga kini, pengerjaan TPS mejadi taman belum selesai. Sebelumnya, pengangkatan sampah terhenti karena sedang ada perbaikan jembatan. Namun, saat ini, sudah dua minggu, pengerjaan tersebut terhenti tanpa sebab yang jelas. “Selama bulan November, TPS belum diapa-apakan, baru dipagar,” terang politisi PKS ini.
Sebagai ganti TPS tersebut, sampah warga kompleks Permai diangkut oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tangerang. Namun, menurut Salbini, masih banyak warga kompleks dan sekitar yang membuang sampah di TPS tersebut. Ke depannya, Salbini menyiapkan TPS baru di lahan kosong milik warga yang ada di Pondok Belimbing, Jurang Mangu Barat, Kota Tangerang Selatan.

Pada bagian lain, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Arif Wahyudi berpendapat, untuk mengatasi masalah sampah di Kota Tangerang Selatan, selain mengoptimalkan TPS, juga perlu penyadaran masyarakat memilah sampah dan dilanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat mengolah sampah menjadi pupuk organic.
“Banyak tenaga kerja yang terserap. Selain itu, teknologi dan kerja sama antar-daerah. Singkatnya, selama ada niat baik melayani, insya Allah akan selalu ada solusinya,” ungkap Arif melalui pesan singkatnya, Kamis (8/1) pagi. (mg-hasan/dai)

Radar Banten, 9 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | 2 Comments »

Buang Limbah Sembarang, Klinik Bersalin Disoal Warga

Posted by kinclonk pada 8 Januari 2009

PAMULANG – Keberadaan Klinik Bersalin Vitalaya dipermasalahkan puluhan warga Perumahan Pondok Benda Indah RT 1/18, Kelurahan Pondok Benda Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan. Pasalnya klinik tersebut diduga tidak memiliki standar pengolahan limbah.

Menurut Suhadi, salah satu warga, Bukti pengelolaan limbah yang tidak baik itu ditemukan warga saat memergoki petugas klinik tersebut. Petugas klinik tadi menyuruh pemulung untuk membawa tiga karung berisi limbah rumah sakit.

“Karung itu pun dibuang pemulung di pinggir jalan. Kita curiga dan melihat ada yang tidak beres,” terang Suhardi, Kamis (8/1).

Tiga karung barang yang mencurigakan itu, lanjut dia segera dibongkar warga. Ternyata berisi limbah klinik bersalin. Berupa gumpalan perban, obat-obatan dan sebagainya. Limbah tersebut dicegah warga untuk dibuang ke lokasi umum. Alasannya, terang Suhardi limbah tersebut bisa menimbulkan penyakit. Apalagi limbah rumah sakit atau klinik itu masuk dalam katergori limbah berbahaya.

“Seharusnya ada pengelolaannya. Makanya kita pun protes dengan pengelelola klinik,” terangnya.
Sikap protes tersebut dilanjutkan warga dengan mendatangi kantor kelurahan Pondok Benda. Mereka menuntut pihak kelurahan melakukan pemeriksaan terhadap klinik Vitalaya ini. Karena kasus pembuangan limbah itu sering dilakukan secara diam-diam.

Sementara itu, Camat Pamulang Toto Sudarto mengatakan, laporan warga itu bakal segera ditanggapi. Dengan merencanakan pemanggilan pengelola klinik Vitalaya. Termasuk memeriksa kembali izin-izin pendiriannya.

“Kalau terbukti ada pelanggaran izin, maka Vitalaya harus dihentikan operasinya untuk sementara,” paparnya.

Menurutnya prosedur pendirian klinik bersalin seharusnya memenuhi standar. Tak hanya masalah keselamatan gedung dan lainnya, pengelolaan limbah klinik juga harus diperhatikan. Diantaranya menyiapkan insenerator bagi setiap klinik. Ini dibutuhkan untuk mencegah limbah klinik menjadi sumber penyakit.

Toto memastikan, pemeriksaan izin klinik bakal dilakukan segera. Setiap ada pelanggaran prosedur maka diberlakukan sanksi. Termsuk jika ditemukan adanya pelanggaran pengelolaan limbah yang menimbulkan kerusakan alam.

Sayangnya pengelola klinik Vitalaya tidak ada yang bersedia memberikan keterangan. Berulang kali ditemui berusaha mengelak. Bahkan berdalih pemimpin klinik tidak berada ditempat. (cdl)

Tangerang Online, 8 Januari 2009

Ditulis dalam Lingkungan | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.