TANGERANG-Premanisme dengan kedok kuli angkut masih marak di lingkungan perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), Kabupaten Tangerang. Akibatnya, warga yang baru pindah maupun yang sudah lama tinggal di wilayah perumahan elit tersebut merasa resah, karena bila membawa barang material maupun peralatan rumah tangga seperti mebeler dan elektronik harus memberikan uang setoran kepada para kuli angkut.
Seperti yang terjadi di Komplek Griya Loka dan Nusa Loka BSD. Sejak puluhan tahun lalu perumahan tersebut berdiri, preman yang berkedok sebagai kuli angkut tidak pernah surut.
“Katanya belakangan ini aparat kepolisian sedang gencar-gencarnya merazia preman. Tapi kenapa sampai sekarang preman yang berkedok kuli angkut di perumahan BSD masih banyak, kata Yadi, yang sudah sepuluh tahun tinggal di Komplek Griya Loka, BSD.
Yadi menambahkan, warga akhirnya melakukan berbagai cara untuk menghindari praktik premanisme tersebut. Misalnya degan membawa barang seperti mebeler atau elektronik pada malam hari, mengingat keberadaan para kuli angkut di wilayah tersebut bila malam sudah pulang.
Kuli angkut yang mayoritas warga pribumi ini munculnya dari matahari terbit hingga tenggelam, sehingga warga BSD bila ingin membawa barang masuk ke kompleknya di malam hari, Kata Yadi.
Namun yang sulit diantisipasi, tambah Yadi, bila membawa material, seperti pasir, semen, batu bata, batako, dan lainnya. Karena selain barang itu bisanya hanya dikirim pada siang hari, para kuli angkut tersebut mangkal tidak jauh dari toko-toko material yang berada di sekitar komplek.
Mereka itu mangkalnya di setiap toko-toko material di lingkungan komplek, sehingga bila ada angkutan material yang keluar dari toko tersebut langsung diikuti, kata Yadi.
Keluhan yang sama juga diungkapkan Cahyo, warga di Komplek Nusa Loka, BSD yang menambahkan para kuli angkut yang biasanya mangkal tidak jauh dari gerbang perumahan tersebut akan minta jatah pada setiap angkutan yang masuk ke daerah itu sebesar Rp 200 ribu. Apabila tidak dituruti, mereka tidak segan-segan mengancam atau bertindak kasar.
Sepertinya kebiasaan ini sudah menjadi tradisi di lingkungan BSD, dan sulit dihapuskan, kata dia.
Dikonfirmasi masalah tersebut, Kapolsek Serpong Ajun Komisaris Yuldi Yusman mengatakan, apabila ada para kuli angkut yang melakukan pemerasan, warga diharapkan segera melapor kepada petugas. Karena, bila tidak ada bukti atau sanksi yang merasa dirugikan oleh para kuli angkut tersebut, sulit bagi petugas untuk menjeratnya, katanya.
Aksi premanisme juga marak terjadi di Jalan Raya Serang, tepatnya sekitar Jembatan Tol Bitung, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Mereka tidak segan-segan meminta uang secara paksa antara Rp 1.000-2.000 kepada para sopir yang menurunkan dan menaikkan penumpang di wilayah tersebut.
Menurut Kanit Reskrim Polsek Curug, Iptu Purwanto, apabila ada preman yang meresahkan, warga diminta segera melapor kepada petugas kepolisian terdekat. Semua Preman yang ada di bawah jembatan Tol Bitung itu sudah kami razia. Tapi karena tidak cukup bukti mereka hanya kami data dan dilepaskan, kata Purwanto. (chn)
Radar Banten, 1 Desember 2008