PAMULANG – Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tak mau kecolongan dengan kasus flu babi. Untuk mencegah terjadinya serangan dan penyebaran flu babi, Dinkes Kota Tangsel memiliki cara.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Dadang M Ebit, ketiga cara tersebut yakni meningkatkan kewaspadaan sejak dini, penyediaan stok tamiflu secara cukup dan bersikap tenang.
Dadang mengatakan, peningkatan kewaspadaan flu babi adalah mengenali tanda-tanda penyakit flu babi. Biasanya penderita flu babi seperti flu biasa dan temperatur suhu tubuhnya di atas 38 celcius.”Flu babi gejalanya sama seperti flu biasa. Mengalami radang tenggorokan. Penyebaran melalui kontak badan dan melalui udara,” jelasnya, Kamis (7/5).
Sementara soal penyediaan stok tamiflu, kata Dadang, pihaknya telah memerintahkan kepada 10 puskesmas di Tangsel agar menyediakan stok obat tamiflu. Setiap puskesmas agar menyediakan 100 tablet obat oseltamivir atau dikenal tamiflu
“Selain melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang penyakit flu babi, seluruh Puskesmas se-Tangsel juga diminta memasang spanduk tentang gejala awal penyakit flu babi,” terangnya.
Sedangkan strategi ketiga menghadapi masalah ini dengan tenang. Sebab, risiko kematian pasien flu babi itu terbilang kecil yakni hanya 5 persen. Sedangkan 95 persen pasien yang terserang virus H1N1 ini bisa diselamatkan. “Kita telah menginstruksikan kepada Puskesmas se-Tangsel agar menggelar sosialisasi dan penyuluhan tentang flu babi,” katanya.
Dadang juga mengatakan, sampai saat ini pihaknya telah menyiapkan dua rumah sakit rujukan untuk warga Kota Tangsel yang terserang flu babi. Untuk di Banten yang menjadi rumah sakit rujukan penyakit ini baru dua yakni RSUD Serang dan Tangerang. Sedangkan untuk rumah sakit swasta sementara ini belum ada SK dari Menkes.
“Jadi kalau ada warga Tangsel yang terjangkit flu babi akan kita rujuk ke RSUD Tangerang,” katanya. (ang)
Radarbanten.com, 8 Mei 2009
