Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk ‘Kesehatan’ Kategori

Dinkes Tangsel Siap Tangani Flu Babi

Ditulis oleh kinclonk di/pada Mei 8, 2009

PAMULANG – Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tak mau kecolongan dengan kasus flu babi. Untuk mencegah terjadinya serangan dan penyebaran flu babi, Dinkes Kota Tangsel memiliki cara.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Dadang M Ebit, ketiga cara tersebut yakni meningkatkan kewaspadaan sejak dini, penyediaan stok tamiflu secara cukup dan bersikap tenang.
Dadang mengatakan, peningkatan kewaspadaan flu babi adalah mengenali tanda-tanda penyakit flu babi. Biasanya penderita flu babi seperti flu biasa dan temperatur suhu tubuhnya di atas 38 celcius.”Flu babi gejalanya sama seperti flu biasa. Mengalami radang tenggorokan. Penyebaran melalui kontak badan dan melalui udara,” jelasnya, Kamis (7/5).

Sementara soal penyediaan stok tamiflu, kata Dadang, pihaknya telah memerintahkan kepada 10 puskesmas di Tangsel agar menyediakan stok obat tamiflu. Setiap puskesmas agar menyediakan 100 tablet obat oseltamivir atau dikenal tamiflu
“Selain melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang penyakit flu babi, seluruh Puskesmas se-Tangsel juga diminta memasang spanduk tentang gejala awal penyakit flu babi,” terangnya.

Sedangkan strategi ketiga menghadapi masalah ini dengan tenang. Sebab, risiko kematian pasien flu babi itu terbilang kecil yakni hanya 5 persen. Sedangkan 95 persen pasien yang terserang virus H1N1 ini bisa diselamatkan. “Kita telah menginstruksikan kepada Puskesmas se-Tangsel agar menggelar sosialisasi dan penyuluhan tentang flu babi,” katanya.
Dadang juga mengatakan, sampai saat ini pihaknya telah menyiapkan dua rumah sakit rujukan untuk warga Kota Tangsel yang terserang flu babi. Untuk di Banten yang menjadi rumah sakit rujukan penyakit ini baru dua yakni RSUD Serang dan Tangerang. Sedangkan untuk rumah sakit swasta sementara ini belum ada SK dari Menkes.
“Jadi kalau ada warga Tangsel yang terjangkit flu babi akan kita rujuk ke RSUD Tangerang,” katanya. (ang)

Radarbanten.com, 8 Mei 2009

Ditulis dalam Kesehatan | 1 Komentar »

Cegah Flu Babi, Distanak Cegat 30 Truk Hewan

Ditulis oleh kinclonk di/pada Mei 5, 2009

SERPONG-Upaya memotong penyebaran virus mematikan H1N1 atau flu babi, difokuskan pada sejumlah titik jalurlintas penyeberangan hewan Kota Tangerang Selatan. Tadi sore, sebanyak 30 truk hewan ternak dicegat 9 petugas Check Point Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Banten.

“30 truk penyeberangan hewan ternak di Tangsel dilakukan pemeriksaan hari ini. Lalu lintas penyeberangan hewan lumayan ramai akhir-akhir ini yang membawa babi, sapi, dan ayam. Namun, hewan bawaan itu belum teridentifikasi terserang flu babi,” ungkap Medic Veferiner Check Poin Distanak Banten, drh Andri Setiabudi kepada Tangerang Online.

Kata drh Andri, antipasi cepat ini dilakukan Check Point Distanak Banten setelah wabah flu babi merebak diluar negeri dan diramalkan akan mewabah di Asean, termasuk Indonesia. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 30 truk pembawa hewan ternak, rata-rata panas suhu badan hewan seperti babi, ayam dan sapi hanya berkisar sekitar 39 derajat celcius.

“Suhu badan hewan itu masih dikategorikan normal. Kalau diatas 39 derajat celcius patut dicurigai,” jelasnya.”Karena minim peralatan, kita mengunakan peralatan seadanya, termometer kita pakai untuk mengukur panas tubuh hewan seperti babi yang dibawa truk-truk peternakan di sejumlah titik di Tangsel,” ungkap drh Andri Setiabudi. (iin)

Tangerangonline.com, 4 Mei 2009

Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »

Rs Assobirin Mau Dibeli Buat RSUD di Tangsel

Ditulis oleh kinclonk di/pada Mei 4, 2009

SERPONG-Rencana Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk memiliki RSUD di wilayahnya sendiri ternyata bukan isapan jempol. Kabarnya, rumah sakit swasta Islam Assobirin di Jalan Raya Serpong bakal dijadikan RSUD Tangsel tahun depan.

“Pemkot Tangsel serius membuat RUSD Tangsel, untuk mempercepat proses itu tahun ini rencananya RS Assobirin Serpong akan dibeli pemerintah Tangsel untuk dijadikan RSUD,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Dadang M Ebid kepada Tangerang Online usai mengikuti Musrembang di Puspiptek, Serpong.

Menurut Dadang rencana RSUD tersebut saat ini sedang dalam tahap Pre Fisiblity Study meliputi pelaksanaan analisa dampak lingkungan, sosial budaya serta menentukan aspek dasar teknis yang akan digunakan. Kegiatan ini diperkirakan akan memakan waktu yang tidak lama. Kegiatan selanjutnya adalah Fisibility Study (FS), yakni sudah memasuki kegiatan pembuatan rencana tata ruang serta mengukur aspek ekonomi dan keuangannya.

“Serpong lokasi yang strategis untuk RSUD. RSUD tersebut juga nantinya akan memasukan daftar 124 KK korban Situ Gintung mendapatkan Jamkesmas secara gratis yang telah dilakukan MoU antara pemerintah setempat dengan PT Askes,”ungkap Dadang.

Pejabat Walikota Tangsel M Saleh menyatakan, dalam Musrembang siang tadi telah didapatkan beberapa kesimpulan perencanaan untuk diajukan kepada Pemerintah Propinsi Banten, salah satunya perencanaan pembangunan RSUD Tangsel.”2010 kita merencanakan RSUD harus diberdiri di Tangsel. Karena, warga Tangsel tidak harus jauh-jauh berobat ke RS lain, tidak hanya itu sejumlah puskesmas juga akan dibangun,” ungkap Saleh. (iin)

Tangerangonline, 1 Mei 2009

Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »

Tangerang Resah Flu Babi, Distanak Bentuk Tim Monitoring

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 27, 2009

TANGERANG- Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Tangerang segera membentuk tim monitoring untuk melakukan pemeriksaan terhadap puluhan peternakan babi di wilayah Tangerang. Hal ini dilakukan guna memotong penyebaran flu babi dari luar negeri ke Indonesia, khususnya Tangerang.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Distanak Kabupaten Tangerang drh Mawardi menyatakan, di sejumlah kecamatan Tangerang banyak terdapat peternak babi tradisional lebih dari puluhan, hingga kini Distanak belum mengetahui dengan pasti babi milik para peternak itu apakah sudah terserang flu babi atau belum.

“Kami belum mengetahui penyebaran flu babi itu sebenarnya seperti apa. Apakah dari hewan ke manusia atau kontak langsung antara manusia dengan manusia. Namun intinya, peternakan babi di Tangerang harus diwaspadai dengan munculnya flu babi yang kian meresahkan warga sekitar setelah mendaparkan kabar dari media,” ungkap drh Mawardi ketika dihubungi Tangerang Online.

Menurut Mawardi, guna mencegah tidak terjadinya korban jiwa baik warga sekitar maupun pemilik dari peternakan tersebut dan memusnakan ribuan babi, Distanak akan melakukan pertemuan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang untuk membicarakan efek dari penyebaran flu babi di Tangerang, untuk melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah lokasi peternakan babi.”Untuk itu kita akan membentuk tim monitoring untuk menanggulangi penyebaran virus yang bernama Schwein Influenza Virus (SIV). Saya akan mengkontak dr Yully (Kabid Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang) untuk membicarakan hal ini,”ucapnya.

Mawardi menyatakan, keberadaan peternakan babi yang marak di Tangerang tidak seharusnya dicurigai sebagai salah satu bangkitnya flu babi yang mengancam warga sekitar. Karena flu babi hanya merebak dan menewaskan warga di luar negeri (Meksiko), bukan di Indonesia khususnya Tangerang.”Okelah kalau flu burung dan flu singapura ada di Tangerang. Tetapi flu babi belum diketahui dengan pasti ada di Tangerang, namun harus diantisipasi segera, jangan dibiarkan berlarut-larut, karena bisa mengancam kesehatan warga sekitar,” aku Mawardi serius.

Diketahui, wilayah Salembaran Kosambi, Tiga Raksa (Tangerang Utara) dan Setu (Tangerang Selatan) bermukim peternakan babi tradisional yang umumnya dipelihara warga Tionghoa.
Dari catatan Distanak pada tahun Februari 2005, ditemukan lima ekor babi positif terinfeksi virus avian H5N1 yang berafiliasi pada flu babi di Kampung Babat, Kecamatan Legok dan kampung Rancaiyu, Kecamatan Panongan.”Ketika itu belum tahu apakah babi itu terserang flu babi atau tidak, namun yang pasti kita sudah memusnahkan babi tersebut,”ungkapnya. (iin).

Tangerangonline.com, 27 April 2009

Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »

Waspadai Flu Singapura

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 17, 2009

TANGERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang meminta kepada seluruh puskesmas untuk mewaspadai penyebaran virus flu Singapura. Ini menyusul merebaknya pasien flu Singapura yang menjangkiti puluhan warga Depok, Jawa Barat, beberapa pekan terakhir ini.

Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P dan PL) Dinkes Kabupaten Tangerang dr Yuli Soenar Dewanti mengatakan pihaknya telah mengirimkan edaran ke seluruh puskesmas untuk mewaspadai adanya pasien dengan gejala virus yang berasal dari Singapura itu. Karena jika terlambat, penyebaran virus ini sangat cepat dan sulit dikendalikan.

Saat ini, Kabupaten Tangerang pantas mewaspadai merebaknya penyakit itu karena virus ini sedang menyerang warga di daerah tetangga. Bahkan Dinkes mencatat, flu Singapura pernah menyerang 35 anak-anak warga Kabupaten Tangerang. Penyakit ini ditemukan pertama kali pada 2005 di kawasan perumahan elit BSD, Kecamatan Serpong.

Yully menyatakan, penyakit itu memang paling banyak menyerang warga di perumahan elit. Flu Singapura dibawa masuk oleh mereka yang baru saja berpergian atau berlibur dari luar negeri dan masuk ke Indonesia. Penyebaran flu Singapura lebih cenderung terjadi pada anak anak di bawah usai 10 tahun yang lebih sering berpergian ke luar negeri bersama orang tuanya. Alasannya, kekebalan tubuh si anak sangat rentan diserang penyakit yang disebabkan virus Coxsackie itu ketika berinteraksi dengan orang asing yang sudah tertular.
“Sebaiknya anak-anak jangan terlalu sering diajak berpergian keluar negeri. Kalaupun dipaksakan ingin berliburan saya minta orang tua untuk waspada akan penyebaran virus Flu Singapura ketika anaknya berinteraksi dengan orang asing,” jelas Yully.

Diingatkan, jika ada warga di satu wilayah yang suspect, petugas kesehatan dari puskesmas diminta langsung ke lokasi untuk memastikan dan melokalisirnya.
Penyakit Flu Singapura, lanjut Yully, memiliki masa inkubasi selama tujuh hari. Penyakit ini dengan cepat menular melalui udara, percikan air liur, bersentuhan langsung dengan penderita, dan lain sebagainya. Bahkan penyakit ini dapat menimbulkan kematian.

Pihaknya menghimbau kepada masyarakat jika mengalami gejala-gejala penyakit mirip Flu Singapura, maka segera periksa ke puskesmas terdekat untuk secepatnya diambil tindakan. Mengenai ciri-cirinya, tak jauh beda dengan flu biasa. Namun dalam kasus flu Singapura, si penderita mengalami sariawan, bibirnya pecah-pecah, lidah dan tenggorokannya meradang. Selain itu, pada kulit si penderita terdapat bercak lebar-lebar warna merah. (bha)

Radarbanten.com, 17 April 2009

Ditulis dalam Kesehatan | 1 Komentar »

Dinkes Tangerang Temukan Empat Kasus Flu Singapura

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 16, 2009

SERPONG- Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menemukan empat orang anak di wilayah Tangerang terjangkit virus flu Singapura. Disinyalir, virus itu menjangkit ketika anak-anak itu berada di luar negeri.

Kabid Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr Yully S Dewanti menyatakan, penyebaran flu Singapura lebih cenderung menyenangi anak dibawah usai 10 tahun yang lebih sering bepergian ke luar negeri bersama orang tuanya.

Alasannya, kekebalan tubuh si anak sangat rentak dirasuki virus Coxsackie atau penyakit flu Singapura ketika berinteraksi dengan orang asing yang sudah tertular.
“Sebaiknya anak-anak jangan terlalu sering diajak bepergian keluar negeri. Kalaupun dipaksakan ingin berliburan saya minta orang tua untuk waspada akan penyebaran virus flu Singapura ketika anaknya berinteraksi dengan orang asing,” jelas dr Yully.

Menurut dr Yully, data yang dikeluarkan Dinkes Kabupaten pada tahun 2008 ditemukan 4 kasus flu Singapura yang terjadi di Kabupaten Tangerang. Untuk tahun ini, belum diketahui secara pasti warga yang terkena penyakit flu Singapura. Kata dr Yully, Penyebaran itu terjadi melalui kontak fisik dari seseorang kepada orang lain, dan virus Coxsaskie (flu Singapura) ditularkan melalui pilek, air liur, batuk, tinja, dari seseorang yang menderita kepada korban baru.”Pada tahun lalu, 4 kasus ditemukan. Setelah terserang mereka umumnya merasakan demam tinggi,”jelas dr Yully.

Hal senada juga diutarakan Kepala Puskesmas Setu, dr Dahlia Nadeak. Diungkapkan Dahlia, meski belum ditemukan kasus flu Singapura di Setu. Namun, pihaknya akan mewaspai kasus tersebut, karena di wilayah Serpong kasus flu Singapura pernah terjadi.”Tahun lalu, terdapat seorang anak orang kaya di Melati Mas terjangkik flu Singapura. Penyakit ini lebih cenderung mewabah dikalangan atas, untuk kalangan menengah tidak harus kuatir,” beber dr Dahlia. (iin)

Tangerangonline.com, 15 April 2009

Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »

Nyamuk Aedes Agepty Tewaskan 2 Warga

Ditulis oleh kinclonk di/pada Maret 22, 2009

SERPONG- Dinas Kesehatan Kabupaten mencatat dalam tiga bulan terakhir ini, dua warga di Kota Tangerang Selatan meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti

“Sejak Januari hingga Maret 2009, nyawa dua warga di Tangsel melayang akibat DBD,” ungkap Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kabupaten Tangerang, Dr Yully Soenar Dewanti. Bahkan, jumlah pasien DBD mencapai 226 pasien, dua diataranya warga Tangsel yang tidak kuat melawan gigitan nyamuk tersebut hingga akhirnya meninggal.

“Dinkes berharap warga lebih waspada. Pergantian musim membuat nyamuk DBD makin mengancam,” ungkapnya. Meski begitu, korban tewas pada tahun sebelumnya lebih meningkat ketimbang tiga bulan pada 2009, yakni sekitar 250 jiwa dengan 4 korban jiwa meninggal.”Penyebaran DBD lebih meningkat di Pamulang, Ciputat dan Pondok Aren. Ketiga area itu merupakan pemukiman pada dan menjadi sarang bagi nyamuk,” jelas Yully. (I’in)

Tangerang Online, 21 Maret 2009

Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »

Ribuan Warga Pamulang Akan Dapat Pengobatan Massal Kaki Gajah

Ditulis oleh kinclonk di/pada Maret 12, 2009

PAMULANG- Ribuan warga dari tiga kelurahan di Kecamatan Pamulang akan mendapatkan pengobatan massal kaki gajah. Tiga kelurahan tersebut adalah, Kelurahan Pamulang Timur, Kelurahan Bambu Apus dan Kelurahan Pondok Cabe Udik.

Bagian Surveyland Puskesmas Pamulang, Jajang mengatakan sasaran untuk pengobatan kaki gajah tersebut adalah warga yang memiliki usia 2- 14 tahun. “Rencananya pengobatan massal akan dilakukan pada bulan Mei- Juni tahun ini,”katanya saat ditemui di ruang kerjanya.

Jajang kembali mengatakan sebelumnya sudah ada lima kelurahan yang ada di wilayah Pamulang yang sudah mendapatkan pengobatan kaki gajah yaitu di Pamulang Barat, Pondok Benda, Benda Baru, Pondk Cabe Ilir dan Kedaung yang jumlah keseluruhan warga yang minum obat kaki gajah tersebut sebanyak 158. 425 ribu jiwa.

Dan obat kaki gajah yang diminum warga menurut Jajang ada tiga jenis salah satunya adalah Albendazol. “Untuk berapa jumlah warga yang bakal minum obat tersebut hingga kini masih dilakukan pendataan dan penyuluhan,”ujarnya lagi.

Pasalnya, masih banyak masyrakat yang berpikir bahwa tubuh mereka tidak sakit sehingga tidak perlu minum obat tersebut. Tidak hanya itu saja, kendala lainnya adalah efek atau dampak setelah minum obat tersebut seperti rasa mual dan keluarnya cacing dari beberapa bagian tubuh yang mungkin ada yang tidak wajar. Misalnya saja selain lewat anus, cacing akan keluar juga bisa melalui lubang hidung dan mulut. “Kami akan terus melakukan penyadaran kepada masyarakat akan bahaya kaki gajah. Sehingga mereka nantinya minum obat tersebut bukan karena paksaan melainkan karena kesadaran akan kesehatan dirinya disamping untuk menekan jumlah penderita kaki gajah,”pungkasnya. (cha)

Tangerang Online, 11 Maret 2009

Ditulis dalam Kesehatan | 1 Komentar »

Puskesmas Pamulang Tolak Pasien Miskin

Ditulis oleh kinclonk di/pada Februari 23, 2009

TANGERANGNEWS-Pos hansip milik warga RT1/1 kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan mendadak jadi bangsal rawat inap.Pos hansip semi permanen ini disepakati warga sebagai kamar perawatan bagi pasien bernama Devi,27 warga Cirebon yang ditolak puskesmas Pamulang.

Perempuan berparas manis ini tak bisa mendapatkan perawatan di puskesmas Pamulang. Hanya karena disebut sebagai warga terlantar. Sehingga puskemas merasa bukan menjadi tanggung jawabnya, melainkan beban tugas dinas sosial Kabupaten Tangerang.

Ketua RT 01/01, Muhammad sangat menyesalkan sikap Puskesmas itu. Terlebih kondisi pasiennya sudah cukup kritis. Dengan tubuh yang lemah dan terlihat ada beberapa bekas luka dibagian tubuhnya. “Kami yang kedatangan warga terlantar ini wajar meminta bantuan puskesmas. Kan disana ada tim medis yang bisa membantu. Tapi malah ditolak dan tidak diberi bantuan,” jelas Muhammad di pos hansip, Sabtu (21/2) siang.

Berdasarkan kesepakatan warga, sambung dia fungsi pos hansip yang biasa digunakan ronda harus beralih fungsi. Seluruh ruang pos hansip terpaksa sebagai bangsal rawat inap. Itu pun dengan kondisi yang seadanya saja.
Pos hansip warga ini berbahan bambu dan kayu. Berukuran 4×6 meter yang tidak memiliki dinding secara penuh. Hanya tertutup potongan kayu setinggi 50 cm. Warnanya pun tak lagi membaik dan beratapkan genteng.

Letak pos hansip tepat berada ditengah pemukiman warga. Sedangkan pasiennya dibiarkan tertidur dipinggiran pos. Dengan beralaskan kain-kain panjang. Bantalnya pun dibuat dari tumpukan baju.“Kami sadar biaya berobat mahal. Jadi terpaksa pula kita buka kotak amal. Untuk meringankan beban pasien,” katanya. Dijelaskannya pasien memang bukan warga setempat. Dia datang dalam kondisi lemah dan tak terawat. (krim)

Tangerangnews.com, 21 Februari 2009

Ditulis dalam Kesehatan | 2 Komentar »

DBD di Tangsel Makin Meluas

Ditulis oleh kinclonk di/pada Februari 20, 2009

Menurut Kepala Puskesmas Ciputat Timur drg Maya Mardiana, sepanjang pertengahan Febuari ini sudah terdapat tiga korban DBD. Sedangkan di bulan Januari hanya empat korban DBD. Semuanya itu dinyatakan positif terjangkit penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegepty itu.
“Kalau di sini, daerah endemis DBD terdapat di Kelurahan Cirendeu,” jelas dokter berkacamata ini, Kamis,(19/2). Maya menjelaskan, Saat ini sudah tiga lokasi di Kelurahan Cirendeu dilakukan fogging. Padahal, menurutnya, fogging itu tidak efektif.
Karena yang efektif itu adalah warga meningkatkan program pembersihan sarang nyamuk (PSN) dan 3-M (membersihkan, mengubur, dan menutup) “Apalagi memasuki musim pancaroba saat ini, fogging tidak efektif masih banyak terdapat angin kencang dan cuacanya pun berubah-ubah. Sehingga dampaknya bisa menimbulkan nyamuk,” katanya.

Pada bagian lain, Kepala Puskesmas Pamulang drg Unna Ramadhona mengaku, hingga pertengahan Februari ini di wilayahnya sudah terdapat 25 kasus DBD. Dari 25 korban itu, 14 orang positif DBD dan dirawat inap di Puskesmas, 11 orang suspect, dan dua orang dirujuk ke RSUD Tangerang. “Sedangkan yang masih dirawat saat ini berjumlah enam orang,” katanya.
Menurut Unna, meningkatnya jumlah korban ini karena musim pancaroba yakni musim hujan beralih ke musim panas. Untuk itu, warga diminta waspada sebagai antisipasi DBD. Diperkirakan, akhir April mendatang penyakit ini akan berakhir. “Kita harapkan warga menjaga kebersihan lingkungan, karena kesehatan merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Pondok Aren dr Endang Sri Sumarwah mengatakan, Februari ini sekitar 6 warga dinyatakan terjangkit DBD.
Kesemuanya itu masih suspect DBD. Sedangkan Kepala Pukskesmas Kampung Sawah Ciputat dr Andi Fatmawati mengatakan, di wilayahnya sepanjang bulan Januari lalu terdapat dua warga postif DBD, sedangkan di bulan Februari ini baru dua pasien. (ang)

Radar Banten, 20 Februari 2009

Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »