Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk ‘Infrastruktur’ Kategori

30 Persen Jalan Rusak di Tangsel Janjinya Akan Diperbaiki

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 28, 2009

PAMULANG- Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Selatan menargetkan akan memperbaiki jalan rusak yang kerusakannya mencapai  30 persen. Perbaikan jalan akan dilakukan secara bertahap khusus jalan kota baru itu yang asetnya belum diserahkan Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Kepala Dinas PU Tangsel Adolf Nicolas menyatakan, perbaikan difokuskan jalan milik Kabupaten sepanjang 137.77 kilometer yang berada di Tangsel dimana proyek perbaikan tersebut masih berada dibawah kewenangan PU Kabupaten Tangerang. Jalan rusak tersebut semisal Jalan Victor, Setu, sepanjang 1,1 kilometer yang sedang dalam proses lelang, Jalan Serua Indah Pondok Benda Cipupat, Jalan Siliwangi, Pamulang. Sementara jalan Negara (Ciputat-Bogor) sepanjang 19,6 kilometer semisal Jalan Raya Dewi Sartika, Jalan Ir Juanda, dan Jalan Martadinata merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Adapun jalan propinsi sepanjang II, (Ciputat-Pamulang-Serpong) semisal Jalan Pamulang II, Jalan Serua, Jalan Pondok Kacang, dan Puspiptek Serpong kewenangan pemerintah Propinsi Banten.

“Untuk perbaikan jalan di Tangsel, kita masih mengekor Pemkab, karena program perbaikan jalan 2009 masih di Dinas PU Kabupaten Tangerang, sebelum dinas PU di Tangsel terbentuk. Namun, antara kedua dinas telah berkoordinasi untuk mempercepat perbaikan jalan rusak secara bertahap sebelum tahun 2010,” ungkap Adolf.

Menurut Adolf dari hasil pendalaman dan pengamatan Dinas PU Tangsel, sekitar 30 persen jalan di Tangsel mengalami kerusakan berat. Jalan-jalan tersebut yang sebelumnya telah diaspal maupun di beton kembali mengalami kerusakan akibat faktor hujan dan beratnya beban kendaraan berat yang melintas jalan tersebut. Karenanya, Dinas PU Tangsel menargetkan untuk membenahi jalan rusak akhir tahun ini dengan betonisasi.”Jauh-jauh hari kita menginjak disini, jalan rusak harus segera dibenahi secepatnya,”jelas Adolf. (iin)

Tangerangonline.com, 27 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | 1 Komentar »

Situ Gintung Dibagi Tiga Zona

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 27, 2009

CIPUTAT-Direktorat Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Budi Yuwono menyatakan peta Situ Gintung, Ciputat Kota Tangsel akan dibagi menjadi tiga zona hitam, yakni zona di mana tidak boleh ada pemukiman, zona pemukiman tidak rapat, dan zona boleh pemukiman rapat.

Menurut Yuwono untuk menata Situ Gintung pasca bencana, wilayah Situ Gintung akan dibagi menjadi tiga zona. Dari tiga zona tersebut akan diukur berapa luas zona tersebut, sementara zona yang boleh dibangun pemukiman akan diatur, koefisien dasar bangunan (KDB) tidak boleh rapat.”Rumah yang sebelumnya padat, tidak boleh berhimpit-himpitan,” ucap Budi Yuwono.

Meski tidak menyalahkan siapa yang harus bersalah, sambung Yuwonojebolnya tanggul Situ Gintung memang karena kelalaian banyak pihak, baik dari pemerintah hingga masyarakat yang bertempat tinggal disekitar danau buatan tersebut.”Idealnya, harus ada jalan air untuk pengamanan, tetapi itu yang terlupakan. Siapa saja yang berhubungan dengan Situ ini baik pemerintah maupun masyarakat sekitar harus mengakui kesalahan itu. Tapi sudahlah, kita jangan saling menyalahkan,” ungkap Yuwono.

Yuwono mengungkapkan, sambil menunggu detail Situ Gintung disahkan. Kedepan, bendungan akan dikombinasi dari beton dan tanah, karena sebelumnya desain sudah dimulai sejak tanah di situ diukur. Selain menata tanggul dan pemukiman sekitarnya, bagian hilir situ juga harus ditata ulang termasuk saluran pengeluaran air.”Zona terdampak harus dibersihkan dari bangunan dan akan diberikan zona regulation. Kemungkinan bulan depan tata ruang baru sudah selesai,”jelas Yuwono.

Direktur Sungai Danau dan Waduk Ditjen Sumber Daya Air Widagdo mengaku, pemerintah pusat tidak akan mengurangi luas Situ Gintung. Melainkan hanya mengurangi kedalaman situ.”Sedangkan lahan bekas air yang kering akan menjadi garis hijau sebagai taman kota,” jelasnya. (iin)

Tangerangonline.com, 27 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »

Situ Gintung Tetap 21 Hektar

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 23, 2009

CIPUTAT TIMUR-Usulan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah soal pengurangan luas lahan Situ Gintung tampaknya bakal kandas. Pasalnya, Direktorat Jenderal Cipta Karya Departeman Pekerjaan Umum (DPU) masih tetap mempertahankan keberadaan Situ Gintung dan tidak akan mengurangi luasnya dari 21 hektar menjadi 10 hektar.

Menurut Dirjen Cipta Karya DPU Budi Yuwono saat mendampingi Komisi V DPR mengunjungi lokasi pengungsian Wisma Kerta Mukti I, tidak ada yang berubah dengan Situ Gintung. Kalaupun ada, paling hanya sebatas fungsi yaitu sebagai pengendali banjir dan konservasi.
“Dengan adanya dua fungsi tersebut, kondisi Situ Gintung tidak akan mengalami perubahan yang drastis,” kata Budi Yuwono, Rabu (22/4).
Selain dua fungsi tadi, kedalaman air Situ Gintung kata Budi juga akan dikurangi. Setelah kedalaman airnya dikurangi otomatis akan terdapat areal lahan sisa dari penurunan tinggi air permukaan Situ Gintung. Areal sisa itulah yang akan dijadikan sebagai lahan hutan kota.
“Saya berharap dengan adanya taman kota itu dapat berfungsi sebagai konservasi situ,”ungkapnya.

Menurut Budi, saat ini pihaknya tengah merencanakan memperbaiki tanggul situ yang jebol. Rencananya pembangunan tanggul Situ Gintung bakal dibangun dengan konsep mix (campuran) antara beton dan tanah. Konsep pembuatan pintu tanggul itu kata dia, sudah memenuhi standar.
“Bahkan sebelumnya tanggul dibangun dengan menggunakan tanah murni. Kondisinya juga sudah cukup kuat,”kata dia.

Kemudian untuk masalah saluran pembuangan, Budi mengatakan pintu pembuangan air akan dibuat naik turun. Itu berguna sebagai pengatur lalu lintas air dan pengendali banjir.
Lebih jauh dia menerangkan untuk perbaikan tanggul Situ Gintung saat ini sudah memasuki pada tahap desain. Sedangkan pengerjaan fisiknya bakal dilakukan dalam waktu dekat ini.
“Kita ingin secepatnya pembangunan dilakukan dan selesai. Karena sedikit lagi akan memasuki musim kemarau. Makanya, kita harus segera siap supaya saat hujan sudah bisa menampung air,” papar Budi tanpa menyebut target penyelesaian pembangunan tanggul tersebut. (ang)

Radarbanten, 23 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »

Proyek Terminal Ciputat Berlanjut

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 22, 2009

TANGERANGNEWS- Rencana penyiapan terminal Ciputat yang berada di Jalan Raya Ciputat, Kelurahan Cipayung, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan terus berlanjut. Tahap awal ini sudah dikucurkan dana sebesar Rp. 1,7 miliyar. Dana itu digunakan untuk pembuatan jalur akses masuk terminal.

Kepala Dinas Perhubngan Kabupaten Tangerang Deden Sugandi mengatakan, proyek pembangunan terminal Ciputat tidak terhenti. Meski dalam status pemerintahannya telah berada di wilayah Tangerang Selatan.
Menurutnya lanjutan proyek tersebut sudah sesuai prosedur. Apalagi rencana pembangunannya sudah berlanjut sejak kota Tangerang Selatan belum terbentuk. Bahkan anggaran awalannya juga sudah masuk dalam APBD 2009.

“Dana itu kan dari APBD tahun ini. Masa harus dihentikan. Setidaknya dihabisakan dulu dana proyek tersebut sesuai peruntukannya,” terang Deden usai meninjau lokasi pembangunan proyek terminal Ciputat itu hari ini.

Diakuinya proyek pembangunan terminal ini sebagai langkah memperbaiki terminal Pondok Cabe yang tak beroperasi. Terminal Ciputat menjadi bagian dari rencana penataan transportasi di wilayah perbatasan Jakarta dan Bogor ini.

Wilayah Ciputat, sambung dia selalu saja terjadi kemacetan. Itu dipicu kendaraan yang beroperasi tidak memiliki lokasi sandar seperti terminal. Sedangkan terminal pondok cabe yang telah jadi tak digunakan. Alasannya terlalu jauh dari lokasi operasional angkutan. “Saya tidak mau komentar soal terminal pondok cabe. Yang salah, ya sudah. Sekarang kita upaya terminal Ciputat bisa beroperasi,” tandasnya.(den)

Tangerangnews.com, 22 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »

Tangerang Selatan Minta Situ Gintung Diperkecil

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 22, 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Kota Tangerang Selatan meminta agar Situ Gintung menjadi konservasi air dan luasnya dipersempit dari ukuran yang sekarang sekitar 21,4 hektare sehingga risikonya lebih kecil.

“Sebagian lagi dihijaukan dan dijadikan fasilitas publik seperti taman kota,” kata Penjabat Wali kota Tangerang Selatan M. Saleh, saat mendampingi kunjungan anggota Komisi Perhubungan dan Infrastruktur Dewan Perwakilan Rakyat ke Situ Gintung, Tangerang, Banten, Rabu (22/4).

Namun, dia mengatakan tanggung jawab pengelolaan situ tetap di tangan pemerintah pusat. Pemerintah tinggal memberikan fasilitas dana untuk pengganti pintu air di Ciliwung dan Cisadane yang sudah rusak.

Saleh menambahkan, terkait jebolnya Situ Gintung yang menewaskan 100 orang dan ratusan lainnya hilang akhir bulan lalu, semua pihak bertanggung jawab dalam kasus ini. “Jadi tidak bisa saling menyalahkan. Karena itu tanggung jawab semua pihak,” tuturnya.

Bagi warga yang tengah mengungsi saat ini mereka masih ditempatkan di tenda dan hunian sementara. Rencananya pemerintah juga akan memberikan bantuan untuk mengontrakkan rumah bagi sebagian pengungsi.

DIAN YULIASTUTI

Tempointeraktif.com, 22 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »

Bekas Jalan Air Situ Gintung akan Dilebarkan

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 22, 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bekas aliran banjir akibat jebolnya Situ Gintung akan ditata dengan lebar 26 meter hingga mencapai Kali Pesanggrahan.

Direktur Penataan Ruang Wilayah II Departemen Pekerjaan Umum Sri Apriatini menjelaskan perincian 26 meter tersebut meliputi pembangunan saluran limpasan atau sungai selebar 6 meter.

Sedangkan sempadan sungai sebagai ruang terbuka hijau selebar 10 meter masing-masing di kiri dan kanan sungai. “Kurang lebih panjangnya 1 kilometeran sampai ketemu Kali Pesanggrahan,” ujar Sri saat mendampingi kunjungan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat di Situ Gintung dan hunian sementara pengungsi, Rabu (22/4).

Menurut Sri, tini pemerintah juga akan mengatur bangunan zona terdampak di luar sempadan sungai dengan pengaturan ketat. Rencananya, pengaturan sempadan situ hingga 50 meter juga akan dilaksanakan.

Disinggung soal bangunan di sekitar situ yang sudah bersertifikat atau berizin, Sri mengatakan, pemerintah akan meninjaunya. “Jika sesuai dengan ketentuan ya masih bisa ditoleransi,” ujarnya. Dia mengakui persoalan ini memang tidak gampang. Apalagi jika harus melakukan relokasi.

DIAN YULIASTUTI

Tempointeraktif.com, 22 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »

Situ Antap Terancam

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 17, 2009

TANGERANG, KOMPAS.com – Situ Kayu Antap, atau sering disebut Situ Antap, di Tangerang dalam kondisi memprihatinkan. Situ yang terletak di dekat Situ Gintung itu kehilangan lebih dari separuh lahannya. Lahan konservasi ini semakin terancam karena diambil alih dan dimiliki perorangan.

Situ Antap terletak di wilayah RT 06 dan RT 08 RW 02, Rempoa. Kamis (16/4), terlihat pagar beton kokoh setinggi sekitar 3 meter mengelilingi situ seluas 1,48 hektar. Pagar itu menyatu dengan tembok pembatas sebuah kompleks perumahan mewah yang tepat berdampingan dengan Situ Antap. Tidak ada satu celah pun di antara pagar beton itu yang memungkinkan warga sekitar mendekati tepi situ.

”Sudah sejak Oktober 2008 tembok itu dibangun,” kata Mahmudi (57), warga setempat, Kamis kemarin.

Mahmudi adalah salah satu dari sekitar 40 kepala keluarga yang pernah menjadi penggarap lahan di sekitar situ. Mereka memanfaatkan tanah di sekitar situ yang subur dan air melimpah dengan menanam pisang, sayur-mayur, serta beternak ikan. Pada 30 April 2008, Pemerintah Kabupaten Tangerang secara resmi menggusur mereka dari tepian situ dengan dalih pelestarian daerah tangkapan air.

Namun, Kepala Balai Wilayah Sungai Cidurian-Cisadane Joko Suryanto menegaskan, Situ Antap memang sudah dipagari karena lahan situ itu sudah dimiliki perorangan. ”Padahal itu jelas aset pemda dan merupakan lahan konservasi,” ujar Joko.

Joko menjelaskan, sekitar dua bulan lalu Menteri Pekerjaan Umum telah menyurati Bupati Tangerang yang isinya meminta agar mengembalikan kembali fungsi situ tersebut dan selanjutnya dilestarikan.

”Menteri juga menyurati BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk meninjau ulang sertifikat hak milik perorangan atas lahan Situ Antap,” kata Joko.

Nadih, Kepala Dusun II yang membawahi RW 02, 07, dan 08 Rempoa, membenarkan, Situ Antap berada dalam kompleks sebuah perumahan elite.

”Saya tidak tahu apakah itu sudah dibeli atau tidak. Itu bukan kewenangan saya. BPN yang tahu,” papar Nadih.

Menurut Nadih, pemagaran dilakukan pengelola perumahan, beberapa bulan setelah penggusuran 40 kepala keluarga yang menggarap lahan di sekitar situ.

Nadih juga membenarkan bahwa saat ini Situ Antap sudah menyusut. ”Dulu situ itu lebar dan luas. Tetapi sekarang sudah banyak permukiman di sana,” kata Nadih.

Limpahan Gintung

Mahmudi bersama beberapa warga lain korban gusuran situ, Ahmad (55) dan Manulang (42), mengungkapkan, Situ Antap merupakan bagian dari rangkaian situ di sekitar Rempoa, Cempaka Putih, dan Cirendeu. Di tiga wilayah ini terdapat Situ Gintung yang kini memiliki luas 21,4 hektar.

Menurut Ahmad, tepat berseberangan dengan Situ Gintung, ada situ berukuran lebih kecil yang sekarang sudah diuruk dan menjadi pusat perbelanjaan. Kemudian, ada Situ Rompong, Setu Antap, dan satu situ lagi yang juga sudah menjadi permukiman. Situ-itu ini dulu dihubungkan dengan anak-anak sungai.

”Dengan anak-anak sungai itu, jika ada kelebihan air di satu situ, bisa dilimpahkan ke situ yang lain,” kata Ahmad.

Namun, sistem bagi-bagi tampungan air di kawasan Rempoa dan sekitarnya kini tidak lagi berfungsi. Nyaris setiap jengkal lahan di kawasan tersebut telah menjadi permukiman. Perkampungan penduduk maupun kompleks perumahan sederhana hingga kelas elite yang dihuni warga negara asing tumbuh subur di sini.

Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Situ Rompong kini hanya seluas 2,99 hektar, padahal pada 2007 masih menghampar seluas 10 hektar. Kali-kali kecil penghubung antarsitu sudah lenyap. Tidak heran Situ Gintung sampai mengalami kelebihan kapasitas tampungan air dan akhirnya tanggulnya pun jebol, akhir Maret lalu.

Joko kini hanya bisa berharap Situ Antap dan situ-situ lain yang sudah hilang, rusak, atau nyaris hilang dapat dikembalikan seperti fungsi semula. Semua upaya itu tidak lain demi mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi lagi. (PIN/NEL)

Kompas.com, 17 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »

Terancam Jebol, Enam Situ di Tangerang Dalam Pengawasan

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 16, 2009

TEMPO Interaktif, Tangerang:Kepala Sumber Daya Air Cidasane-Cidurian Provinsi Banten Djoko Suryanto mengatakan saat ini pihaknya tengah mengawasi dan melakukan pengecekan secara berkala terhadap tanggul enam situ yang ada di Kota dan Kabupaten Tangerang. Pengawasan dan pengecekan dilakukan karena kondisi tanggul situ buatan tersebut diindikasikan terancam jebol.” Mulai hari ini kami berkeliling mengecek satu persatu,” ujarnya kepada Tempo, Rabu (15/4).

Djoko menyebutkan, enam Situ tersebut adalah Situ Cipondoh di Kota Tangerang, Situ Pamulang, Ciledug, Parigi, Patrasana, dan Garugak yang berada di Kabupaten Tangerang. ”Pengecekan meliputi tanggul dan pendangkalan,” katanya.

Menurut Djoko, untuk skala prioritas mereka tengah mencurahkan perhatian pada tanggul Situ Pamulang yang dikeluhkan warga sekitar sudah terjadi kebocoran dan retak-retak. Agar bencana Situ Gintung tidak terulang lagi, katanya, timnya kini tengah meneliti dan menginventarisir kerusakan tanggul.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Banten rutin melakukan perawatan terhadap Situ-situ tersebut meski dengan anggaran yang terbatas. Menurut dia, pengelolaan situ sepenuhnya ditangani oleh Balai Besar Ciliwung Cisadane yang diatur dalam Undang-undang No 107 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

JONIANSYAH

Tempointeraktif.com, 15 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »

GOR Pamulang Gagal Dibangun, Lapak PKL Siliwangi Dibongkar

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 14, 2009

PAMULANG-Rencana pembangunan Gedung Olahraga (GOR) di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tidak jadi terlaksana. Tadi siang, sedikitnya 28 lapak di jalan Siliwangi, Pamulang, dibongkar pemilik lapak.

Asisten Daerah II Pemkot Tangsel, Ayi Ruhiyat menyatakan banguanan yang berada disisi sebelah kiri kantor Penjabat Walikota Tangsel tidak akan dibangun GOR Pamulang.”Pembangunan GOR tak jadi terlaksana. Kita akan menganti lahan itu sebagai lahan parkir,” kata Ayi.

Terpisah Pejabat Walikota Tangsel, M Shaleh menyatakan pembangunan GOR tersebut tidak jelas juntrungannya dan tidak menguntungkan bila dibangun di dekat di samping Puspem Kota Tangsel.”Kalau GOR itu dibangun disamping kantor Puspem, akan mengangu aktifitas pemerintahan. Untuk itu kita menghentikan kelanjutan pembangunan GOR dan merapikan lahan tersebut menjadi parkir kendaraan para pejabat,” terangnya saat ditemui di lokasi barak I Wisma Kertamukti.

Sementara itu, sebanyak 28 lapak milik PKL di Jalan Siliwangi Pamulang dibongkar sendiri oleh pemiliknya. Tindakan pembongkaran itu dilakukan setelah tiga kali mendapatkan surat teguran dari pihak Kecamatan Pamulang. Meski telah dibongkar, lapak PKL tidak diganti rugikan atau ditempatkan dipasar tradisional oleh pemerintah setempat.”Ganti rugi tidak kami berikan. Karena PKL membangun lapak diatas tanah propinsi. Rencananya, jalan tersebut akan diperlebar 7 meter dari jarak sebelumnya,” jelas Sekretaris Kecamatan Pamulang Firdaus kepada Tangerang Online. (iiN)

Tangerangonline.com, 14 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | 1 Komentar »

Tanggul Keropos, Longsor Ancam Dua Perumahan Elit

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 14, 2009

PAMULANG- Ribuan warga penhuni perumahan Villa Pamulang, Kecamatan Setu dan Permata Pamulang, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, dihantui terjangan longsor dengan ketinggian tanah 15 meter. Masyarakat berharap pemerintah setempat segera memperbaikan tanggul sebelum bencana itu terjadi bak jebolnya tanggul Situ Gintung.

Perumahan Villa Pamulang yang berdiri dilahan datar dibawah tanah tebing dibawah ketinggian 15 meter dari perumahan Pertama Pamulang yang berdiri diatas tebing tersebut. Kedua perumahan dibatasi oleh kali Angke yang dibatasi tanggul yang terlihat nyaris roboh, meski pemerintah daerah telah dilakukan pembangunan tanggul pada tahun 2007 lalu.

“Kekuatan tanggul beton penahan itu tidak sekuat seperti dulu ketika dibangun 2007. Kalau terus-terusan hujan turun bisa saja tanah itu longsor dan mengancam ribuan rumah warga Villa Pamulang yang berada di bawah perumahan Permata Pamulang,” ungkap warga Yuni Patinjun (46) warga Perumahan Permata Pamulang Blok G 13 Rt 4/3, Setu, Kota Tangsel.

Bahkan, sambung Yuni, kalaupun longsor terjadi rumahnya yang berjarak 2 meter dari bibir tebing menjulang tersebut bakal ikutan terbawa arus longsor.”Pada tahun 2008, pos jaga didekat rumah saja hancur dilumat longsor, sebagian bangunan rumah tetangga saya retak. Kami takut bila hujan kembali terjadi, ancaman longsor pasti mengancam. Warga disini berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul penahan itu kembali,” ungkap Yuni kepada Tangerang Online.

Terkait rawan longsor didua perumahan tersebut, Kasi Pembangunan Kecamatan Pamulang Cecep Supardi mengaku sudah membicarakan persoalan tersebut kepada pihak Kecamatan Setu, termasuk mengirim surat untuk melakukan pemantauan dan perbaikan.”Kita sudah melaporkan kepada pimpinan. Segera mungkin kita akan melakukan tindakan, karena sekitar 5.000 warga perumahan yang menempati rumah di perumahan tersebut,” ucap Cecep.(iin)

Tangerangonline.com, 14 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »