Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk ‘Infrastruktur’ Kategori

Rp80 Miliar untuk Pelebaran Ruas Jalan

Posted by kinclonk pada 8 Desember 2010

PROYEK pelebaran infrastruktur jalan sepanjang 137 kilometer di Kota Tangerang Selatan akan menguras dana sekitar Rp80 miliar. Pengajuan dana pagu indikatif (program rencana kerja) tahun 2011 itu dinilai masih kurang dari target proyek pekerjaan pelebaran ruas jalan desa/kota sepanjang 547 kilometer di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga Kota Tangerang Selatan Dendy Priadana mengatakan, pihaknya tahun depan akan melakukan pelebaran persimpangan jalan dan ruas jalan di sejumlah titik sepanjang 137 kilometer dari seluruh ruas jalan desa/kota 547 kilometer.

Antara lain, pelebaran perempatan Jl Padjajaran-Sasak Tinggi, Pamulang, Jalan Siliwangi, Pamulang, Jl Victor, Setu dan Jl Ciater, Serpong, Jalan Serua, Ciputat dan Jl Maruga, Ciputat. Ini dilakukan untuk mengatasi kemacetan parah. “Dari 547 kilometer jalan desa/kota di Tangsel, jalan sepanjang 137 kilometer di beberapa kecamatan akan dilebarkan tahun 2011,” kata Dendi kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/12).

Dikatakan, pelebaran Jl Raya Ciater, Serpong, akan dilakukan sepanjang 3,2 kilometer dengan lebar 14 meter. Jalan itu akan dibuat empat jalur, sementara sebelumnya hanya dua jalur. Tujuan pelebaran jalan itu adalah untuk mengatasi kemacetan parah di perempatan Jl Ciater.

Sementara Jl Siliwangi, Pamulang, akan dilebarkan sepanjang 14 meter dengan panjang 800 meter. Termasuk Jl Victor, Setu dan beberapa ruas persimpangan jalan yang akan dilebarkan tahun 2011. “Tahun ini dana pagu indikatif (rencana kerja) untuk pelebaran jalan yang kita ajukan sebesar Rp80 miliar. Tetapi dana itu, jika disetujui, kemungkinan sangat kurang dari kucuran dana APBD dan APBN 2011,” kata Dendi.

Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang (DBMTR) Pemerintah Provinsi Banten, M Shaleh, mengatakan, Pemprov Banten telah melakukan koordinasi bersama Pemkot Tangsel dalam melakukan pelebaran jalan di wilayah tersebut. Salah satunya, Jl Siliwangi Pamulang, yang merupakan jalan Provinsi. Kemacetan di Jl Siliwangi terus meningkat karena belum dilebarkan menjadi empat jalur.

Sekretaris Dinas Perhubungan Pemkot Tangerang, Fatchul Hadi, mengatakan, dibanding tahun 2009 yang hanya 25 titik kemacetan, tahun 2010 titik kemacetan di Kota Tangerang sudah mencapai 35 titik. “Titik kemacetan bertambah seiring banyaknya warga Tangerang yang memiliki kendaraan pribadi,” kata Fatchul Hadi kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/12). n Sabaruddin

Jurnal Nasional, 8 Desember 2010

Ditulis dalam Infrastruktur | Tinggalkan sebuah Komentar »

Warga Cirende & Situ Gintung Minta Pemerintah Bangun tanggul

Posted by kinclonk pada 31 Agustus 2010

JAKARTA (Pos Kota) – Warga kawasan Kompleks Cirende Permai dan Situ Gintung yang berdomisili di pinggir Kali Pesanggrahan mendesak pemerintah secepatnya membuat turap atau tanggul untuk mengantisipasi kiriman air luapan dari Depok dan Bogor.

“Sebetulnya warga di pinggir kali ini sudah trauma dengan banjir luapan akibat jebolnya tanggul Situ Gintung setahun lalu,” keluh Ny. Fransisca, warga kompleks Cirende Permai, Lebak Bulus, Cilandak, Senin (30/8).

Banjir luapan air Kali Pesanggrahan seakan membuat trauma warga di lingkungan kompleks. Pasalnya, banjir selalu datang saat warga sedang istirahat atau dini hari sehingga banyak yang tak mengetahui akan kedatangan air.

Diakuinya, banjir luapan ini memang tak begitu parah hanya sebagian ruas jalan di lingkungan kompleks terendam air sekitar 30 Cm hingga 1 meter. “Air banjir luapan selalu datang dini hari sehingga sebagian warga tak bersiap diri,” ujarnya.

Herman, warga lainnya, menilai kegiatan penurapan atau pembuatan tanggul sepanjang pinggir kali tersebut secepatnya dilakukan agar banjir kiriman tak selalu menghantuu warga disini.

“Kebanyakan warga tahu kebanjiran saat bangun pagi dan berangkat kerja karena air luapan sudah merendam sebagian besar jalan kompleks,” ujarnya yang menambahkan untuk rumah warga di Kel. Cirende, Tangsel tentunya lebih dalam lagi banjir menggenangi rumah mereka.

Banjir luapan air Kali Pesanggrahan akibat hujan di kawasan Bogor dan Depok, Minggu (29/8) memang membuat ratusan rumah warga di Kel. Cirende maupun kompleks perumahan Cirende Permai, Lebak Bulus terendam air.

Lumpur dan sampah bawaan dari air luapan tersebut tentunya sangat mengganggu kenyamanan dan kebersihan di lingkungan warga. “Sejak pagi kita kerja bakti membersihkan lumpur di badan jalan kompleks,” tambah Ujang, petugas keamanan perumahan Cirende Permai. (anton/sir)

Pos Kota, 30 Agustus 2010

Ditulis dalam Infrastruktur | Tinggalkan sebuah Komentar »

30% Jalan di Tangsel Rusak

Posted by kinclonk pada 25 Agustus 2010

TANGERANGNEWS-Kepala Dinas Bina Marga dan PU Kota Tangsel, Dendy Pryadana mengatakan, saat ini persoalan jalan rusak masih menjadi masalah di Kota Tangsel. Dari 547 Km, jalan kota dan jalan desa yang tersebar diseluruh Kota Tangsel,  30 %-nya mengalami rusak.

“Tetapi kami sudah mencicilnya sejak 2009 hingga 2010 ini. Yang sudah bagus dan selesai dibangun 50 Km. Jalan yang rusak itu tersebar, diantaranya seperti di Pondok Aren, yakni di jalan Lengkong Wetan dan Pondong Kacang. Sedangkan di Pondok Cabe di jalan Pala,” tuturnya.

Dendy juga mengatakan, penyebab pihaknya tidak bisa menggunakan transportasi massal seperti Busway. Menurut dia, jalan memang saat ini menjadi kendala, selain karena penolakan sopir angkutan umum, juga karena permasalahan jalan di Tangsel yang masih sempit. “Padahal minimal lebar jalan 20 meter, itu minimal. Idealnya, lajurnya ada enam, sebelah kiri tiga lajur sebelah kanan tiga lajur,” jelasnya.

Ditanya soal penanganan banjir, dirinya menerangkan, pihaknya berencana memang banjir akan cepat bisa tertangani pada tahun depan setelah adanya wali kota definitif.”Tahun depan kami telah menganggarkan rencana pembangunan drainasse agar saluran air di kota ini terintegrasi,” tuturnya.  (dira)

Tangerang News, 25 Agustus 2010

Ditulis dalam Infrastruktur | 2 Komentar »

30 Persen Jalan Rusak di Tangsel Janjinya Akan Diperbaiki

Posted by kinclonk pada 28 April 2009

PAMULANG- Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Selatan menargetkan akan memperbaiki jalan rusak yang kerusakannya mencapai  30 persen. Perbaikan jalan akan dilakukan secara bertahap khusus jalan kota baru itu yang asetnya belum diserahkan Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Kepala Dinas PU Tangsel Adolf Nicolas menyatakan, perbaikan difokuskan jalan milik Kabupaten sepanjang 137.77 kilometer yang berada di Tangsel dimana proyek perbaikan tersebut masih berada dibawah kewenangan PU Kabupaten Tangerang. Jalan rusak tersebut semisal Jalan Victor, Setu, sepanjang 1,1 kilometer yang sedang dalam proses lelang, Jalan Serua Indah Pondok Benda Cipupat, Jalan Siliwangi, Pamulang. Sementara jalan Negara (Ciputat-Bogor) sepanjang 19,6 kilometer semisal Jalan Raya Dewi Sartika, Jalan Ir Juanda, dan Jalan Martadinata merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Adapun jalan propinsi sepanjang II, (Ciputat-Pamulang-Serpong) semisal Jalan Pamulang II, Jalan Serua, Jalan Pondok Kacang, dan Puspiptek Serpong kewenangan pemerintah Propinsi Banten.

“Untuk perbaikan jalan di Tangsel, kita masih mengekor Pemkab, karena program perbaikan jalan 2009 masih di Dinas PU Kabupaten Tangerang, sebelum dinas PU di Tangsel terbentuk. Namun, antara kedua dinas telah berkoordinasi untuk mempercepat perbaikan jalan rusak secara bertahap sebelum tahun 2010,” ungkap Adolf.

Menurut Adolf dari hasil pendalaman dan pengamatan Dinas PU Tangsel, sekitar 30 persen jalan di Tangsel mengalami kerusakan berat. Jalan-jalan tersebut yang sebelumnya telah diaspal maupun di beton kembali mengalami kerusakan akibat faktor hujan dan beratnya beban kendaraan berat yang melintas jalan tersebut. Karenanya, Dinas PU Tangsel menargetkan untuk membenahi jalan rusak akhir tahun ini dengan betonisasi.”Jauh-jauh hari kita menginjak disini, jalan rusak harus segera dibenahi secepatnya,”jelas Adolf. (iin)

Tangerangonline.com, 27 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | 4 Komentar »

Situ Gintung Dibagi Tiga Zona

Posted by kinclonk pada 27 April 2009

CIPUTAT-Direktorat Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Budi Yuwono menyatakan peta Situ Gintung, Ciputat Kota Tangsel akan dibagi menjadi tiga zona hitam, yakni zona di mana tidak boleh ada pemukiman, zona pemukiman tidak rapat, dan zona boleh pemukiman rapat.

Menurut Yuwono untuk menata Situ Gintung pasca bencana, wilayah Situ Gintung akan dibagi menjadi tiga zona. Dari tiga zona tersebut akan diukur berapa luas zona tersebut, sementara zona yang boleh dibangun pemukiman akan diatur, koefisien dasar bangunan (KDB) tidak boleh rapat.”Rumah yang sebelumnya padat, tidak boleh berhimpit-himpitan,” ucap Budi Yuwono.

Meski tidak menyalahkan siapa yang harus bersalah, sambung Yuwonojebolnya tanggul Situ Gintung memang karena kelalaian banyak pihak, baik dari pemerintah hingga masyarakat yang bertempat tinggal disekitar danau buatan tersebut.”Idealnya, harus ada jalan air untuk pengamanan, tetapi itu yang terlupakan. Siapa saja yang berhubungan dengan Situ ini baik pemerintah maupun masyarakat sekitar harus mengakui kesalahan itu. Tapi sudahlah, kita jangan saling menyalahkan,” ungkap Yuwono.

Yuwono mengungkapkan, sambil menunggu detail Situ Gintung disahkan. Kedepan, bendungan akan dikombinasi dari beton dan tanah, karena sebelumnya desain sudah dimulai sejak tanah di situ diukur. Selain menata tanggul dan pemukiman sekitarnya, bagian hilir situ juga harus ditata ulang termasuk saluran pengeluaran air.”Zona terdampak harus dibersihkan dari bangunan dan akan diberikan zona regulation. Kemungkinan bulan depan tata ruang baru sudah selesai,”jelas Yuwono.

Direktur Sungai Danau dan Waduk Ditjen Sumber Daya Air Widagdo mengaku, pemerintah pusat tidak akan mengurangi luas Situ Gintung. Melainkan hanya mengurangi kedalaman situ.”Sedangkan lahan bekas air yang kering akan menjadi garis hijau sebagai taman kota,” jelasnya. (iin)

Tangerangonline.com, 27 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Tinggalkan sebuah Komentar »

Situ Gintung Tetap 21 Hektar

Posted by kinclonk pada 23 April 2009

CIPUTAT TIMUR-Usulan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah soal pengurangan luas lahan Situ Gintung tampaknya bakal kandas. Pasalnya, Direktorat Jenderal Cipta Karya Departeman Pekerjaan Umum (DPU) masih tetap mempertahankan keberadaan Situ Gintung dan tidak akan mengurangi luasnya dari 21 hektar menjadi 10 hektar.

Menurut Dirjen Cipta Karya DPU Budi Yuwono saat mendampingi Komisi V DPR mengunjungi lokasi pengungsian Wisma Kerta Mukti I, tidak ada yang berubah dengan Situ Gintung. Kalaupun ada, paling hanya sebatas fungsi yaitu sebagai pengendali banjir dan konservasi.
“Dengan adanya dua fungsi tersebut, kondisi Situ Gintung tidak akan mengalami perubahan yang drastis,” kata Budi Yuwono, Rabu (22/4).
Selain dua fungsi tadi, kedalaman air Situ Gintung kata Budi juga akan dikurangi. Setelah kedalaman airnya dikurangi otomatis akan terdapat areal lahan sisa dari penurunan tinggi air permukaan Situ Gintung. Areal sisa itulah yang akan dijadikan sebagai lahan hutan kota.
“Saya berharap dengan adanya taman kota itu dapat berfungsi sebagai konservasi situ,”ungkapnya.

Menurut Budi, saat ini pihaknya tengah merencanakan memperbaiki tanggul situ yang jebol. Rencananya pembangunan tanggul Situ Gintung bakal dibangun dengan konsep mix (campuran) antara beton dan tanah. Konsep pembuatan pintu tanggul itu kata dia, sudah memenuhi standar.
“Bahkan sebelumnya tanggul dibangun dengan menggunakan tanah murni. Kondisinya juga sudah cukup kuat,”kata dia.

Kemudian untuk masalah saluran pembuangan, Budi mengatakan pintu pembuangan air akan dibuat naik turun. Itu berguna sebagai pengatur lalu lintas air dan pengendali banjir.
Lebih jauh dia menerangkan untuk perbaikan tanggul Situ Gintung saat ini sudah memasuki pada tahap desain. Sedangkan pengerjaan fisiknya bakal dilakukan dalam waktu dekat ini.
“Kita ingin secepatnya pembangunan dilakukan dan selesai. Karena sedikit lagi akan memasuki musim kemarau. Makanya, kita harus segera siap supaya saat hujan sudah bisa menampung air,” papar Budi tanpa menyebut target penyelesaian pembangunan tanggul tersebut. (ang)

Radarbanten, 23 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Tinggalkan sebuah Komentar »

Proyek Terminal Ciputat Berlanjut

Posted by kinclonk pada 22 April 2009

TANGERANGNEWS- Rencana penyiapan terminal Ciputat yang berada di Jalan Raya Ciputat, Kelurahan Cipayung, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan terus berlanjut. Tahap awal ini sudah dikucurkan dana sebesar Rp. 1,7 miliyar. Dana itu digunakan untuk pembuatan jalur akses masuk terminal.

Kepala Dinas Perhubngan Kabupaten Tangerang Deden Sugandi mengatakan, proyek pembangunan terminal Ciputat tidak terhenti. Meski dalam status pemerintahannya telah berada di wilayah Tangerang Selatan.
Menurutnya lanjutan proyek tersebut sudah sesuai prosedur. Apalagi rencana pembangunannya sudah berlanjut sejak kota Tangerang Selatan belum terbentuk. Bahkan anggaran awalannya juga sudah masuk dalam APBD 2009.

“Dana itu kan dari APBD tahun ini. Masa harus dihentikan. Setidaknya dihabisakan dulu dana proyek tersebut sesuai peruntukannya,” terang Deden usai meninjau lokasi pembangunan proyek terminal Ciputat itu hari ini.

Diakuinya proyek pembangunan terminal ini sebagai langkah memperbaiki terminal Pondok Cabe yang tak beroperasi. Terminal Ciputat menjadi bagian dari rencana penataan transportasi di wilayah perbatasan Jakarta dan Bogor ini.

Wilayah Ciputat, sambung dia selalu saja terjadi kemacetan. Itu dipicu kendaraan yang beroperasi tidak memiliki lokasi sandar seperti terminal. Sedangkan terminal pondok cabe yang telah jadi tak digunakan. Alasannya terlalu jauh dari lokasi operasional angkutan. “Saya tidak mau komentar soal terminal pondok cabe. Yang salah, ya sudah. Sekarang kita upaya terminal Ciputat bisa beroperasi,” tandasnya.(den)

Tangerangnews.com, 22 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | 1 Komentar »

Tangerang Selatan Minta Situ Gintung Diperkecil

Posted by kinclonk pada 22 April 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Kota Tangerang Selatan meminta agar Situ Gintung menjadi konservasi air dan luasnya dipersempit dari ukuran yang sekarang sekitar 21,4 hektare sehingga risikonya lebih kecil.

“Sebagian lagi dihijaukan dan dijadikan fasilitas publik seperti taman kota,” kata Penjabat Wali kota Tangerang Selatan M. Saleh, saat mendampingi kunjungan anggota Komisi Perhubungan dan Infrastruktur Dewan Perwakilan Rakyat ke Situ Gintung, Tangerang, Banten, Rabu (22/4).

Namun, dia mengatakan tanggung jawab pengelolaan situ tetap di tangan pemerintah pusat. Pemerintah tinggal memberikan fasilitas dana untuk pengganti pintu air di Ciliwung dan Cisadane yang sudah rusak.

Saleh menambahkan, terkait jebolnya Situ Gintung yang menewaskan 100 orang dan ratusan lainnya hilang akhir bulan lalu, semua pihak bertanggung jawab dalam kasus ini. “Jadi tidak bisa saling menyalahkan. Karena itu tanggung jawab semua pihak,” tuturnya.

Bagi warga yang tengah mengungsi saat ini mereka masih ditempatkan di tenda dan hunian sementara. Rencananya pemerintah juga akan memberikan bantuan untuk mengontrakkan rumah bagi sebagian pengungsi.

DIAN YULIASTUTI

Tempointeraktif.com, 22 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Tinggalkan sebuah Komentar »

Bekas Jalan Air Situ Gintung akan Dilebarkan

Posted by kinclonk pada 22 April 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bekas aliran banjir akibat jebolnya Situ Gintung akan ditata dengan lebar 26 meter hingga mencapai Kali Pesanggrahan.

Direktur Penataan Ruang Wilayah II Departemen Pekerjaan Umum Sri Apriatini menjelaskan perincian 26 meter tersebut meliputi pembangunan saluran limpasan atau sungai selebar 6 meter.

Sedangkan sempadan sungai sebagai ruang terbuka hijau selebar 10 meter masing-masing di kiri dan kanan sungai. “Kurang lebih panjangnya 1 kilometeran sampai ketemu Kali Pesanggrahan,” ujar Sri saat mendampingi kunjungan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat di Situ Gintung dan hunian sementara pengungsi, Rabu (22/4).

Menurut Sri, tini pemerintah juga akan mengatur bangunan zona terdampak di luar sempadan sungai dengan pengaturan ketat. Rencananya, pengaturan sempadan situ hingga 50 meter juga akan dilaksanakan.

Disinggung soal bangunan di sekitar situ yang sudah bersertifikat atau berizin, Sri mengatakan, pemerintah akan meninjaunya. “Jika sesuai dengan ketentuan ya masih bisa ditoleransi,” ujarnya. Dia mengakui persoalan ini memang tidak gampang. Apalagi jika harus melakukan relokasi.

DIAN YULIASTUTI

Tempointeraktif.com, 22 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Tinggalkan sebuah Komentar »

Situ Antap Terancam

Posted by kinclonk pada 17 April 2009

TANGERANG, KOMPAS.com – Situ Kayu Antap, atau sering disebut Situ Antap, di Tangerang dalam kondisi memprihatinkan. Situ yang terletak di dekat Situ Gintung itu kehilangan lebih dari separuh lahannya. Lahan konservasi ini semakin terancam karena diambil alih dan dimiliki perorangan.

Situ Antap terletak di wilayah RT 06 dan RT 08 RW 02, Rempoa. Kamis (16/4), terlihat pagar beton kokoh setinggi sekitar 3 meter mengelilingi situ seluas 1,48 hektar. Pagar itu menyatu dengan tembok pembatas sebuah kompleks perumahan mewah yang tepat berdampingan dengan Situ Antap. Tidak ada satu celah pun di antara pagar beton itu yang memungkinkan warga sekitar mendekati tepi situ.

”Sudah sejak Oktober 2008 tembok itu dibangun,” kata Mahmudi (57), warga setempat, Kamis kemarin.

Mahmudi adalah salah satu dari sekitar 40 kepala keluarga yang pernah menjadi penggarap lahan di sekitar situ. Mereka memanfaatkan tanah di sekitar situ yang subur dan air melimpah dengan menanam pisang, sayur-mayur, serta beternak ikan. Pada 30 April 2008, Pemerintah Kabupaten Tangerang secara resmi menggusur mereka dari tepian situ dengan dalih pelestarian daerah tangkapan air.

Namun, Kepala Balai Wilayah Sungai Cidurian-Cisadane Joko Suryanto menegaskan, Situ Antap memang sudah dipagari karena lahan situ itu sudah dimiliki perorangan. ”Padahal itu jelas aset pemda dan merupakan lahan konservasi,” ujar Joko.

Joko menjelaskan, sekitar dua bulan lalu Menteri Pekerjaan Umum telah menyurati Bupati Tangerang yang isinya meminta agar mengembalikan kembali fungsi situ tersebut dan selanjutnya dilestarikan.

”Menteri juga menyurati BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk meninjau ulang sertifikat hak milik perorangan atas lahan Situ Antap,” kata Joko.

Nadih, Kepala Dusun II yang membawahi RW 02, 07, dan 08 Rempoa, membenarkan, Situ Antap berada dalam kompleks sebuah perumahan elite.

”Saya tidak tahu apakah itu sudah dibeli atau tidak. Itu bukan kewenangan saya. BPN yang tahu,” papar Nadih.

Menurut Nadih, pemagaran dilakukan pengelola perumahan, beberapa bulan setelah penggusuran 40 kepala keluarga yang menggarap lahan di sekitar situ.

Nadih juga membenarkan bahwa saat ini Situ Antap sudah menyusut. ”Dulu situ itu lebar dan luas. Tetapi sekarang sudah banyak permukiman di sana,” kata Nadih.

Limpahan Gintung

Mahmudi bersama beberapa warga lain korban gusuran situ, Ahmad (55) dan Manulang (42), mengungkapkan, Situ Antap merupakan bagian dari rangkaian situ di sekitar Rempoa, Cempaka Putih, dan Cirendeu. Di tiga wilayah ini terdapat Situ Gintung yang kini memiliki luas 21,4 hektar.

Menurut Ahmad, tepat berseberangan dengan Situ Gintung, ada situ berukuran lebih kecil yang sekarang sudah diuruk dan menjadi pusat perbelanjaan. Kemudian, ada Situ Rompong, Setu Antap, dan satu situ lagi yang juga sudah menjadi permukiman. Situ-itu ini dulu dihubungkan dengan anak-anak sungai.

”Dengan anak-anak sungai itu, jika ada kelebihan air di satu situ, bisa dilimpahkan ke situ yang lain,” kata Ahmad.

Namun, sistem bagi-bagi tampungan air di kawasan Rempoa dan sekitarnya kini tidak lagi berfungsi. Nyaris setiap jengkal lahan di kawasan tersebut telah menjadi permukiman. Perkampungan penduduk maupun kompleks perumahan sederhana hingga kelas elite yang dihuni warga negara asing tumbuh subur di sini.

Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Situ Rompong kini hanya seluas 2,99 hektar, padahal pada 2007 masih menghampar seluas 10 hektar. Kali-kali kecil penghubung antarsitu sudah lenyap. Tidak heran Situ Gintung sampai mengalami kelebihan kapasitas tampungan air dan akhirnya tanggulnya pun jebol, akhir Maret lalu.

Joko kini hanya bisa berharap Situ Antap dan situ-situ lain yang sudah hilang, rusak, atau nyaris hilang dapat dikembalikan seperti fungsi semula. Semua upaya itu tidak lain demi mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi lagi. (PIN/NEL)

Kompas.com, 17 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.