Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk ‘Bencana Alam’ Kategori

Logistik Cukup untuk 3 Bulan Mendatang

Posted by kinclonk pada 8 Mei 2009

CIPUTAT TIMUR- Posko terpadu korban Situ Gintung berhasil mengumpulkan sumbangan uang sebesar Rp 5 miliar lebih.
Diperkirakan, angka tersebut masih akan terus bertambah, karena posko akan ttetap buka hingga tiga bulan ke depan.

Asisten Daerah I Kota Tangerang Selatan A Hadi mengatakan, hasil sumbangan itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi setiap hari. “Sepanjang masih ada pengungsi, kita tetap terima sumbangan dari donatur,” jelasnya, Selasa (5/5).

Staf Penjabat Walikota Tangsel Heru Agus menambahkan, persediaan logistik di posko terpadu saat ini masih cukup banyak. Diperkirakan, logistik seperti beras, mie instan, minuman, perlengkapan sekolah, dan biskuit masih cukup hingga tiga bulan ke depan. Gudang untuk menyimpan logsitik tersebut berada di dua tempat yaitu gudang Wisma Kertamukti I, dan gudang Kodam. Selain dua gudang utama tadi, kata Heru, pihaknya juga menyediakan gudang lain yaitu di Kecamatan Ciputat Timur, dan Wisma Kertamukti II.

Lebih lanjut Hadi menambahkan, menurut rencana awal, para pengungsi di Wisma Kertamukti I dan II akan menempati hunian sementara (huntara) selama tiga bulan terhitung 9 April lalu. Selanjutnya, mereka akan menempati rumah susun sewa yang telah disiapkan Pemkot Tangsel di Kampung Sawah, Kelurahan Serua, Ciputat. (mg-hasan)

Radarbanten.com, 7 Mei 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | 1 Komentar »

Rumah Kontrak Korban Situ Gintung Dipungut Pajak

Posted by kinclonk pada 30 April 2009

CIPUTAT-Kendati senang mendapatkan dana bantuan kontrak rumah senilai Rp 6 juta per KK dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah tetap akan melakukan pemungutan pajak sekitar 10 persen kepada 124 KK pemilik rumah kontrakan korban bencana Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan.

Artinya, dari dana Rp 6 juta yang diberikan hanya sekitar Rp 5,4 juta setiap KK yang akan diterima korban bencana untuk kontrak rumah. Menurut Pejabat Walikota Tangsel M Saleh, dari 124 kepala keluarga (KK) korban bencana Situ Gintung yang menempati barak I dan II akan diberikan uang sebesar Rp 6 juta per-KK. Uang tersebut digunakan mengkontrak rumah bagi korban bencana selama satu tahun.

“Korban bencana berhak mengkontrak rumah dimana saja, di Tangerang, Depok, Bekasi dipersilahkan. Mereka yang mendapatkan dana itu tidak hanya dibarak I dan II saja, namun yang tinggal dirumah saudaranya akan mendapatkan bantuan rumah kontrak,”ucap  Saleh.

Kendati demikian, total dana Rp 774 juta untuk mengkontrak rumah bagi 124 KK bantuan dari bantuan BNPB, akan dilakukan pemontongan pajak oleh pemerintah. Pemontongan pajak berlaku bagi korban bencana yang melakukan kontrak rumah.

“Komposisi kontrakan hanya setahun, bagaimanapun mereka (korban bencana) sebagai pemilik rumah kontrakan harus dipotong pajak sekitar 10 persen. Satu KK tidak mendapatkan Rp 6 juta melainkan hanya Rp 5,4 juta, karena pemontongan pajak tersebut,”ucapnya.

Ibnu Hasan salah seorang warga penerima bantuan rumah kontrak dari BNPB mengaku, meski senang mendapatkan bantuan itu namun dirinya kecewa dengan pemungutan pajak rumah tersebut oleh pemerintah.”Senang sih senang, tetapi kalau dipotong pajak ya sama saja kita tidak dibedakan dengan warga yang tidak kena bencana,” jelasnya. (iin)

Tangerangonline.com, 30 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum Ada Pembangunan Berarti

Posted by kinclonk pada 28 April 2009

TANGERANG(SI) – Sebulan pascajebolnya tanggul Situ Gintung,Cireundeu,Ciputat Timur,Tangerang Selatan, belum ada pembangunan fisik berarti di lokasi bencana yang merenggut 90 nyawa itu.

Berdasarkan pengamatan Seputar Indonesia kemarin, kondisi Situ Gintung masih seperti awal setelah” tsunami kecil” itu terjadi. Yang berubah hanya lokasi bencana yang tampak sedikit bersih dan korban sudah berada di lokasi pengungsian. Pembangunan yang berhasil dilakukan adalah membuat rumah hunian sementara bagi pengungsi dan jalan yang sebelumnya terputus kini sudah dibangun kembali.

Sementara tanggul Situ Gintung belum dilakukan perbaikan meski di sana sejumlah pekerja masih berada di lokasi jebolnya tanggul itu. Akibatnya, ketika hujan deras turun,air membawa seluruh benda yang ada di lokasi.Saat hujan deras kemarin satu unit mikrolet terbawa arus hingga 5 meter dari depan Masjid Jabalul Rochmah.

Air yang mengalir dari Situ Gintung ketika hujan masih menjadi ancaman warga sekitar karena air yang turun begitu kencang dari situ yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu. Kepala Sub-Perencanaan dan Pengairan Bagian Pekerjaan Umum Balai Besar Wilayah Sungai Ciluwung-Cisadane Prayitno mengatakan, pihaknya sedang melakukan pengujian untuk mengetahui kekuatan tanah sebelum fondasi untuk membuat tanggul dibangun.

”Namun, karena cuacanya seperti ini (sering hujan), kondisi tanah menjadi sulit dites,”kata Prayitno kemarin. Meski begitu, Prayitno mengatakan, pihaknya sudah selesai membuat detail engineering design (DED) pintu tanggul. Sementara itu,Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kestra Pemkot Tangerang Selatan Ahadi meminta pengukuran pembangunan tidak dari segi fisiknya saja.

”Lihatnya kesigapan kami dalam melakukan penanganan,”katanya. Soal kesehatan pengungsi,Ketua Posko Kesehatan pengungsi Situ Gintung dr Maya Mardiana mengatakan, para pengungsi sudah tidak lagi mengalami sakit seperti awal perpindahan ke Wisma Kerta Mukti. ”Justru yang sakit sekarang para relawan, dalam sehari bisa 20 relawan yang datang memeriksakan dirinya.

Umumnya mereka menderita penyakit ISPA,” katanya. Yang menjadi persoalan saat ini adalah obat-obatan yang diberikan para donatur sudah mendekati masa kedaluwarsa.Obat yang hampir kedaluwarsa adalah obat antibiotik amoxisilin. Sementara itu, sejumlah para pengungsi di Wisma Kerta Mukti I yang merupakan posko utama para pengungsi korban Situ Gintung mengaku sangat membutuhkan modal usaha.

Untuk makan dan pakaian mereka sudah banyak mendapat bantuan. ”Alhamdulillah semua sudah terpenuhi, tinggal ke depan agar kami tidak hanya menunggu bantuan sebaiknya kami mendapat uang untuk usaha,” kata Dahlia, warga RT 04/08, Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, yang menempati Wisma Kerta Mukti.

Dahlia mengatakan, uang Rp5 juta yang didapat dari Pemprov Banten masih kurang. Selain Dahlia, pengungsi lainnya juga mengatakan hal yang sama. Sekretaris Camat Ciputat Timur Gunara mengatakan,saat ini sudah banyak juga korban yang memiliki usaha di antaranya menjual beras.

”Mereka sudah ada yang buka usaha. Saya sendiri tidak tahu uang dari mana mereka.Yang jelas mereka sudah banyak juga yang buka usaha, terutama yang berada di kontrakan,” katanya. Salah satunya Nana yang mengontrak di RT 03/08.

Nana kini membuka usaha jasa fotokopi.Tidak tanggung-tanggung, Nana membeli dua mesin fotokopi yang harganya Rp15 juta per unit.”Saya beli bekas, lumayan buat ganti usaha warung internet saya yang hancur,”ujarnya. (denny irawan)

Seputar-indonesia.com, 27 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Tinggalkan sebuah Komentar »

Cita-cita Kami Tak Pernah Hanyut Disapu “Tsunami”

Posted by kinclonk pada 24 April 2009

KOMPAS.com – Demi menghadapi ujian nasional, anak-anak ini rela ”dikarantina” di rumah megah berlantai dua. Sementara orangtua mereka di pengungsian memanjatkan doa demi kelulusan buah hati mereka.

Kamis (23/4) siang, rumah masih sepi. Lewat tengah hari, tiba-tiba terdengar suara pintu depan terbuka. Rupanya Ghufron Kamil (17) sudah ”pulang”. Langkahnya agak gontai. Air mukanya sedikit keruh.

”Fisika tadi lumayan susah. Tapi 65-75 persen bisalah,” ujar Ghufron, murid kelas III jurusan IPA Madrasah Aliyah Daarul Maarif, Ciputat, Tangerang Selatan.

”Kalau Matematika saya 95 persen yakin bisa. Apalagi sudah belajar habis-habisan di sini,” lanjut Ghufron dengan wajah tampak lebih optimistis.

Sejak tiga pekan lalu, Ghufron dan 18 anak lain—yang jadi korban tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung—tinggal di rumah itu. Lokasi rumah ”karantina” itu tepat di tepi Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, tak jauh di belakang Gedung FedEx.

Rumah itu semula kosong dan hendak disewakan pemiliknya. Namun, sang pemilik malah meminjamkan gratis rumahnya ketika para sukarelawan dari Yayasan Nurani Dunia hendak menyewanya sebagai rumah ”karantina” khusus bagi pengungsi anak-anak yang akan menghadapi ujian nasional (UN).

Yayasan Nurani Dunia didirikan tahun 1998 oleh Imam B Prasodjo, sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), bersama kalangan mahasiswa dan wartawan untuk membantu korban bencana.

Di rumah ini, anak-anak itu belajar siang-malam dengan dibimbing para pengajar sukarelawan dari sebuah jasa bimbingan belajar. Setiap sore, sedikitnya lima pembimbing datang ke rumah itu untuk mengajari mereka berbagai pelajaran yang akan mereka hadapi dalam UN.

Kemudian, setiap dini hari, sebagian besar anak-anak itu juga selalu minta dibangunkan oleh kakak-kakak pendamping dari yayasan. Kali ini untuk shalat tahajud. ”Tiap jam 03.30 saya ketok-ketok kamar deh, bangunin mereka buat shalat. Mereka sendiri yang minta dibangunin,” tutur Tika, seorang pendamping.

Aktivitas belajar anak-anak berlangsung di lantai dua yang luas dan dilengkapi tiga papan tulis putih serta meja-meja mungil berwarna-warni. Anak-anak itu lalu duduk berkelompok sesuai dengan jenjang sekolah mereka, SD, SMP, dan SMA. ”Kami juga sering lanjut belajar sampai malam sambil ditemani pembimbing,” kata Ghufron.

Sejauh ini sebagian besar penghuni rumah itu adalah siswa setingkat SMP dan SMA. Sementara siswa SD tetap tinggal di pengungsian bersama orangtua atau keluarga. Namun, pada sore hari mereka datang ke rumah itu untuk ikut belajar. ”Kalau di sini kami bisa lebih konsentrasi untuk ujian. Enggak lagi gampang ingat sama kejadian kemarin,” kata Fauzan Indallah (18), siswa jurusan Mekanik Otomotif SMK Gunadarma, Ciputat.

Kebutuhan tercukupi

Anak-anak itu tampak menikmati kehidupan sehari-hari di rumah itu. Beberapa pendamping dari yayasan turut tinggal di rumah ”karantina” untuk menemani anak-anak. Kebutuhan sandang dan pangan anak-anak juga amat tercukupi. Pihak yayasan juga memenuhi segala kebutuhan sekolah mereka, mulai dari buku, seragam, hingga peralatan tulis.

Meski begitu, mereka tak lantas menjadi manja. Bersih-bersih kamar dan rumah serta mencuci baju, piring, dan gelas mereka lakukan sendiri.

”Teman-teman di sekolah melihat kami sekarang kayak orang hidup enak. Baju baru, sepatu baru, tas baru. Padahal, sesusah-susahnya hidup kemarin di rumah sendiri yang kecil, tetap lebih enak. Siapa sih yang senang kena musibah? Ini (fasilitas) semua kan juga cuma sementara,” tutur Ghufron yang kehilangan neneknya dalam musibah Situ Gintung.

Bagi Ghufron, Fauzan, dan anak-anak lain, senikmat apa pun fasilitas bantuan yang mereka nikmati saat ini tetap tak mampu menebus kepedihan yang terpatri dalam benak seusai tragedi lalu. Belum lagi rasa gamang menghadapi kehidupan yang akan datang. ”Terus terang, itu yang sering mengganggu konsentrasi selama UN ini. Apalagi saya anak pertama, mau enggak mau kepikiran nasib keluarga nantinya,” kata Ghufron yang beradik empat.

Cita-cita membara

Sesuram apa pun gambaran bencana yang lalu, anak-anak itu tak patah semangat. Para pendamping kerap memergoki anak-anak itu tetap belajar sendiri hingga larut malam meski pembimbing telah pulang. Cita-cita mereka pun tetap menyala-nyala. Saat ditanyai soal mimpi-mimpi mereka jika lulus UN nanti, anak-anak itu dengan bersemangat bersahut-sahutan melontarkan cita-cita mereka.

”Kalau aku sih penginnya sekolah teknik di Jerman. He-hehe… bercanda kok. Pengin bisa lanjut kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung),” seru Fauzan yang ayahnya buruh serabutan.

Lain lagi dengan Ghufron yang amat mencintai pelajaran Matematika. ”Aku pengin masuk Jurusan Matematika di MIPA UI (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Aku pengin jadi guru Matematika,” ujar Ghufron yang lebih senang jadi sarjana sains dahulu sebelum mengambil profesi guru.

Di pengungsian, orangtua mereka yang semuanya selamat dari tragedi tak putus memanjatkan doa siang-malam. ”Saya harus kuat mengusir trauma. Anak-anak masih punya masa depan,” kata Elda (39), ibunda Ghufron, di pengungsian Kertamukti, Ciputat.

Rumah, harta, dan sebagian anggota keluarga mereka memang telah hanyut disapu ”tsunami” dari Situ Gintung. Namun, cita-cita anak-anak itu rupanya tetap tersangkut di dada!  (Sarie Febriane)

Ditulis dalam Bencana Alam | 1 Komentar »

Obat Pengungsi Situ Gintung Dekati Kadaluarsa

Posted by kinclonk pada 23 April 2009

CIPUTAT- Persedian obat-obatan bagi pengungsi Situ Gintung di Kertamukti, Ciputat, Kota Tangerang Selatan mendekati kadarluasa. Obat-obatan tersebut sebagian besar berasal dari para donatur.

Kepala Posko Kesehatan Situ Gintung, dr Maya Mardiana mengatakan sebenarnya persedian obat-obatan tersebut masih cukup untuk dua bulan kedepan. Sayangnya, tanggal atau masa berlaku obat-obatan tersebut hampir habis. “Tidak sedikit obat-obatan itu telah mendekati tanggal kadaluarsa,”ucapnya, Kamis, (23/4).

Kondisi ini membuat petugas kesehatan terpaksa harus melakukan sortiran untuk memisahkan obat-obatan tersebut.Dan rencananya obat-obatan yang mendekati tanggal kadaluarsa akan segera dikembalikan kepada perusahaan pembuat obat. “Yang masih lama kadaluarsanya akan terus digunakan,”ucapnya.

Sedangkan mengenai penyakit yang kini yang kini masih rawan menyerang para pengungsi adalah infeksi saluran pernafasan atas atau Ispa. (cha)

Tangerangonline.com, 23 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Tinggalkan sebuah Komentar »

Komisi V : Usut dan Bongkar Bangunan Liar di Situ Gintung

Posted by kinclonk pada 22 April 2009

CIPUTAT- Komisi V DPR-RI meminta kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk membongkar pemukiman elit ilegal dan rumah semi permanen liar di sekitar Situ Gintung, Ciputat. Ironisnya, bangunan yang berdiri diatas lahan negara tersebut banyak yang memiliki sertifikat.

“Pemerintah daerah setempat harus mengecek kembali keberadaan surat rumah tersebut. Kalau ada rumah yang melanggar segera ditertibkan dan fungsi danau itu harus dikembalikan,”beber Ketua Komisi V DPR-RI Ahmad Muqowam ketika meninjau Situ Gintung, Rabu, (22/4).

Muqowam mengaku, awalnya luas Situ Gintung 31 hektar kini tinggal 21 hektar. Praktis sekitar 10 hektar lahan yang beralih fungsi dari awal. Guna menemukan pihak yang bertanggung jawab, harus dirunut kebelakang soal riwayat tanah. Berdasarkan Perpres nomor 65 tahun 2006 tentang pembebasan lahan untuk kepentingan umum, penggunaan tanah harus harus diketahui.

“Pemanfaatan harus sesuai dengan aturan hukum. Kalau ada yang harus bertanggung jawab, pelakunya harus dihukum berat. Namun saya tidak menuduh siapa yang salah dan kasus ini kita serahkan kepada pihak berwajib untuk mengurusnya,” ucapnya ketika ditanya siapa yang harus bertanggung jawab atas bencana yang telah menelan 100 korban jiwa.

Tidak hanya itu saja, ia juga menegaskan  hunian yang berdiri sekitar bantaran Situ Gintung pada awalnya merupakan tanah lapang yang diperuntukan untuk irigasi dan konservasi air. Namun seiring perjalan waktu, marak pemukiman komersial dan rumah semi permanen, apalagi ada pula rumah-rumah itu tidak memiliki sertifikat tanah yang sah dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan ijin mendirikan bangunan (IMB) dari dinas terkait. (iin)

Tangerangonline, 22 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Tinggalkan sebuah Komentar »

APBD Rp 1,5 M Untuk Korban Situ Gintung

Posted by kinclonk pada 22 April 2009

PAMULANG- Pemerintah Kabupaten Tangerang mengelontorkan dana sebesar Rp 1,5 Milliar kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Sejatinya, dana dari APBD 2009 Pemkab itu disumbangkan kepada korban bencana jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendue, Ciputat, Tangsel.

Menurut Wakil Bupati Tangerang Rano Karno, dana tersebut diperuntuhkan untuk korban bencana Situ Gintung yang berhak menerimanya, namun penyaluran dana tersebut tidak langsung diberikan korban bencana, tetapi diambil alih Pemkot Tangsel yang kemudian diserahkan kepada korban bencana.”Dana itu diambil dari APBD 2009Kabupaten Tangerang untuk korban bencana Situ Gintung,”ucapnya.”Tata pelaksanaannya harus seperti itu dimana nantinya lebih terakomodir dalam penyaluran uang bencana itu kepada korban bencana,” tambahnya usai melakukan penandatanganan penyerahan dana Rp 1,5 M kepada Pejabat Walikota Tangsel M Shaleh di aula Puspem Kota Tangsel Pamulang, Selasa (21/4).

M Shaleh menyatakan penyaluran dana tersebut akan dilakukan secara bertahap tergantung kebutuhan.”Pemberian dana tidak langsung begitu saja diberikan kepada korban bencana setelah mendapatkan sumbangan dari Pemkab. Melainkan, akan diberikan sesuai kebutuhan apa yang diperluhkan korban bencana,” ungkap Shaleh. (iin)

Tangerangonline, 21 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pemprov Banten Proses Penataan Tata Ruang Situ Gintung

Posted by kinclonk pada 22 April 2009

TANGERANG–MI: Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan Situ Gintung di Cireundeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, yang jebol pada 27 Maret 2009, saat ini sedang dalam proses penataan tata ruang wilayah serta inventarisasi seluruh data.

“Pemerintah Provinsi Banten bekerja sama dengan pemerintah pusat di bawah koordinasi Dirjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, sedang membahas penataan tata ruang setelah situ tersebut jebol,” kata Gubernur seusai memantau Ujian Nasional (UN) di sejumlah sekolah di Kota Tangerang Selatan, Selasa (21/4).

Menurut Gubernur, pihaknya belum mengizinkan warga yang terkena musibah yang menyebabkan rumah mereka rusak, untuk membangun kembali di sekitar bantaran Situ Gintung, karena gambar awal yang ada perlu disinkronkan dan koordinasikan dengan instansi terkait.

“Jadi saat ini kami sedang melakukan  perencanaan, penataan, dan inventarisasi seluruh data yang ada,” kata Gubernur.

Mengenai kesimpulan akhir tentang boleh tidaknya pembangunan di sekitar Situ Gintung, ia mengatakan masih menunggu keputusan Dirjen Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum.

Ia mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu dan belum ada kepastian final apakah lahan seluas 21 hektare akan difungsikan kembali sebagai situ atau akan diperkecil.

Tetapi berbagai pihak menginginkan luas situ diperkecil dengan tetap mempertahankan fungsinya  sebagai tempat serapan air dan objek wisata untuk menjaga stabilitas permukaan tanah.

Jika pembangunan di sekitar situ tidak diizinkan lagi, pemerintah Kota Tangerang Selatan telah merencanakan relokasi warga yang dulu tinggal di bantaran Situ Gintung, kata Gubernur. Gubernur mengatakan Pemerintah Provinsi Banten akan menghormati keputusan dari hasil koordinasi dan sinkronisasi antara Pemerintah Pusat dan kabupaten/kota dalam penataan, dan akan berpedoman pada azas keamanan dan manfaat Situ Gintung ke depan.

Situ Gintung Jebol pada 27 Maret 2009 hingga menyebabkan 100 orang meninggal dan 100 orang lainnya hilang. (Ant/OL-03)

Mediaindonesia.com, 21 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Tinggalkan sebuah Komentar »

Mahasiswa Tuntut Kasus Situ Gintung Berlanjut

Posted by kinclonk pada 20 April 2009

TANGERANGNEWS- Tak jelasnya proses penyidikan yang dilakukan Polda Metro Jaya atas jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan terus menuai protes. Sejumlah mahasiswa gabungan mendesak penuntasan kasus Situ Gintung tetap berlanjut.

Gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Korban Situ Gintung memastikan jebolnya tanggul merupakan kelalaian pemerintah. Sehingga seharusnya ada pihak yang bertanggung jawab. Apalagi jebolnya tanggul tersebut menelan korban jiwa.“Kalau alasannya bencana alam. Itu berarti polisi tak mampu melkaukan penyidikan. Polisi harus lihat persoalan ini secara jernih,” teriak Humas Solidaritas Korban Situ Gintung Rahmat Pipo di kampus Uiversitas Muhammdiyah Jakarta (UMJ) sore ini.

Bukti-bukti kelalaian tersebut, jelas Pipo dapat terlihat dari kondisi tanggul sebelum jebol. Serta meihat kondisi sejumlah badan tanggul lainnya di Situ Gintung dan saluran airnya. Dari data tersebut semakin terlihat adanya pembiaran yang dilakukan pemeirntah.
Selain menuntut penuntasan kasus Situ Gintung, para mahasiswa gabungan UMJ, UIN Syarif Hidayatullah dan STIE Ahmad DAhlan itu meminta pemerintah memperhatikan nasib korban Situ Gintung. Terutama bantuan yang mulai tak terdistribusi dengan baik.“Kita lihat bantuan terus mengalir. Tapi korban bencana sepertinya tidak ada perubahan,” ungkap Pipo.

Korban situ Gintung, lanjut dia meminta kepastian dana bantuan rumah. Rencana pemberian dana bantuan rumah yang sebesar Rp30 juta itu tidak realistis. Sebab uang sebesar itu tak cukup untuk memiliki rumah ukuran sedang.

Itu berarti, kata Pipo para korban bencana bakal mengahadapi kesulitan yang sama pasca bantuan. Padahal tak sedikit pula para korban bencana yang tidak memiliki pekerjaan tetap. “Ini namanya memiskinkan masyarakat,” ujarnya.

Pakar Kriminologi UI Adreanus Meliala meminta polisi dapat memberikan penjelasan terkait proses penyidikan Situ Gintung yang tersendat ini. Polisi dapat meminta keterlibatan para ahli dari masyarakat untuk mendukung data pengungkapan kasus.
“Polisi seyogyanya membentuk forum public, dimana Polda mengutarakan berbagi hal terkait putusan penghentian kasus tersebut,” ujarnya. (den)

Tangerangnews.com, 20 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | 1 Komentar »

DPRD: Usut Tuntas Kasus Situ Gintung

Posted by kinclonk pada 18 April 2009

TANGERANG — Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Arief Wahyudi, menyatakan, pihaknya meminta Polda Metro Jaya untuk mengusut tuntas kasus jebolnya tanggul Situ Gintung yang menewaskan ratusan jiwa. Karena itu, dia meminta kasus ini jangan dihentikan tanpa alasan yang jelas.

Menurut Arief, jebolnya tanggul Situ Gintung pada 27 Maret lalu bukan masalah yang sepele. ”Ini masalah serius,” ujarnya kepada Republika, Jumat (17/4). Karena masalah serius, tutur Arief, Polda Metro Jaya harus serius menyelidiki kasus ini.

Lantaran banyak informasi yang simpang siur, lanjut Arief, pihaknya meminta kepada semua pihak yang mempunyai bukti-bukti terhadap jebolnya tanggul Situ Gintung untuk melaporkannya kepada polisi agar dapat ditindaklanjuti.
”Jangan saling lempar data melalui media tentang masalah Situ Gintung.

Kalau punya data, berikan saja kepada yang berwajib,” ujar Arief. Kalau data itu sudah masuk ke polisi, pihak Polda Metro Jaya akan menyelidiki dan menentukan apakah kejadian jebolnya tanggul Situ Gintung itu musibah atau kelalaian. Jika kelalaian, polda juga akan menentukan siapa sebenarnya yang lalai dan mengakibatkan jebolnya Situ Gintung.

Saat ditanyakan apakah kejadian jebolnya Situ Gintung itu musibah atau kelalaian, Arief mengungkapkan, pihaknya meragukan jika jebolnya Situ Gintung itu merupakan musibah. ”Saya tak yakin kalau kejadian ini murni musibah. Sebab, kejadian jebolnya tanggul itu ada prolognya, seperti pemeliharaan yang tidak benar,” ujar Arief.

Senada dengan Arief, ketua tim advokasi korban Situ Gintung, Bery Nahdian Forqan, menyatakan, pihaknya juga meminta Polda Metro Jaya untuk tidak menghentikan kasus Situ Gintung ini. Pernyataan ini dikemukakan karena informasi yang beredar tentang kemungkinan penghentian penyelidikan kasus jebolnya tanggul Situ Gintung oleh Polda Metro Jaya.

Selain itu, Bery mengatakan, pihaknya menyesalkan jika Polda Metro Jaya menghentikan kasus tersebut. “Sebab, penghentian itu sangat merugikan warga dan korban bencana,” kata Bery. Dia menuturkan, pihaknya meminta polisi mengusut tuntas kasus itu, baik korupsi maupun kelalaian yang mengakibatkan jebolnya Situ Gintung.

Bery menjelaskan, jebolnya tanggul Situ Gintung merupakan bukti kelalaian pemerintah terhadap berbagai aspek. Yakni aspek perawatan, aspek pemberian izin bangunan, dan aspek antisipasi bencana.

”Ketiga aspek tersebut yang tidak dilakukan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat,” ungkap dia. Padahal, semua aspek itu menjadi kewenangan dari setiap lembaga pemerintah tersebut.

Tim advokasi korban Situ Gintung, ujar Bery, meminta Polda Metro Jaya terus melanjutkan penyelidikannya dan tidak menghentikannya dengan dalih bencana alam. c81

Republika.co.id, 18 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.