Ditulis oleh kinclonk di/pada Mei 5, 2009
TEMPO Interaktif, Tangerang: Rencana pemerintah yang akan memperluas wilayah hilir Situ Gintung atau daerah limpasan ditolak oleh warga yang tinggal dilokasi tersebut. “Ini sama saja mengusir kami,” ujar Effendi Mukmin, tokoh masyarakat yang tinggal di kampung Gitung RT 01, RW 04 kepada Tempo.
Mukmin yang telah menetap di lokasi itu sejak tahun 1960 itu mengatakan dengan perluasan daerah limpasan situ menjadi enam meter ditambah 10 meter untuk wilayah hijau akan menghabiskan wilayah tempat tinggal mereka. “Semuanya akan habis,” katanya.
Mukmin yang memiliki dua rumah dan enam kontrakan mengakui jika bangunan tersebut tidak punya ijin mendirikan bangunan. Tapi ia memiliki girik dan akte jual beli tanah. “Tiap tahun bayar pajak gak pernah telat,” katanya.
Ketua RT 01, Robiyanto mengatakan warga yang tinggal di daerah limpasan situ sebanyak 22 kepala keluarga. “Semuanya rusak karena hanyut,” tuturnya. Ia menyatakan keberatan dengan rencana pemerintah akan memperluas daerah limpasan situ. Alasannya, wilayah tersebut merupakan kampung halaman mereka.
Sekretaris RT04, RW 08, Jaenudin mengatakan jika perluasan terhadap daerah limpasan situ tersebut dilakukan sekitar 58 kepala keluarga yang tinggal didekat Univesitas Muhammadiyah Jakarta akan tergusur. “Satu RT habis semua,” katanya.
Jaenudin menyatakan keberatan dengan rencana itu. “Itu sama saja mengusir kami dari tanah kelahiran, membuat kami tak punya tanah dan rumah,” kata lelaki yang memiliki sembilan kontrakan itu.
JONIANSYAH
Tempointeraktif.com, 4 Mei 2009
Ditulis dalam Tangerang Selatan | Leave a Comment »
Ditulis oleh kinclonk di/pada Mei 5, 2009
PAMULANG-Proyek pelebaran Jalan Raya Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, terhadang. Sedikitnya delapan pengusaha pemilik bangunan menuntut ganti rugi tanahnya dicaplok untuk pelebaran jalan.
Pemilik toko keramik Ny Sansan (40) mengatakan, sekitar 1,5 meter tanah miliknya dihancurkan Dinas Bina Marga Pemprop Banten untuk dijadikan pelebaran jalan. Meski telah menyetujui pelebaran jalan itu namun belum ada ganti rugi yang diberikan pemerintah setempat kepada dirinya maupun tujuh pengusaha lain yang memiliki tempat usaha yang berjejer di sepanjang Jalan Siliwangi.
“Saya memiliki sertifikat tanah dan IMB, wajar saya meminta ganti rugi. Kok bisa-bisanya diperlebar tanpa ada ganti rugi,” ungkap warga Siliwangi RT02/07, di kantor Kecamatan Pamulang.
Keluhan tidak hanya dilontarkan Ny Sansan, pengusaha Bimbingan Belajar (Bimbel) LPIA Ny Peni juga mengeluhkan hal yang sama. Menurut Peni, parkir kantor LPIA sepanjang 24 meter dihancurkan untuk pelebaran jalan Siliwangi, tak serupiahpun yang diterima dirinya setelah sejumlah pekerja kasar meratakan parkiran LPIA.Bahkan, akibat proyek pelebaran tersebut, sejumlah konsumennya sulit untuk memarkirkan kendaraan.
“Karena itu saya meminta untuk secepatnya diganti rugi sesuai dengan janji pejabat untuk menganti rugi. Dan segera merampungkan pelebaran jalan itu, kalaupun molor nantinya merugikan kita sebagai pengusaha,” ucap perempuan berusia 61 tahun itu.
Camat Pamulang Firdaus membenarkan 8 pengusaha yang memiliki tempat usaha di Jalan Siliwangi telah mendatangi dirinya untuk meminta ganti rugi. Namun, dirinya membantah jalan tersebut milik para pengusaha, melainkan jalan yang dilebarkan tersebut sebagai fasos-fasum.”Tadinya jalan itu lebarnya 10 meter, dan dilebarkan menjadi 14 meter. Karena dulunya belum akan dilebarkan, akhir para pengusaha membangun lahan parkir seenaknya di fasos-fasum milik pemerintah,” ungkap Firdaus. (iin)
Tangerangonline.com, 4 Mei 2009
Ditulis dalam Tangerang Selatan | 1 Komentar »
Ditulis oleh kinclonk di/pada Mei 5, 2009
SERPONG-Upaya memotong penyebaran virus mematikan H1N1 atau flu babi, difokuskan pada sejumlah titik jalurlintas penyeberangan hewan Kota Tangerang Selatan. Tadi sore, sebanyak 30 truk hewan ternak dicegat 9 petugas Check Point Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Banten.
“30 truk penyeberangan hewan ternak di Tangsel dilakukan pemeriksaan hari ini. Lalu lintas penyeberangan hewan lumayan ramai akhir-akhir ini yang membawa babi, sapi, dan ayam. Namun, hewan bawaan itu belum teridentifikasi terserang flu babi,” ungkap Medic Veferiner Check Poin Distanak Banten, drh Andri Setiabudi kepada Tangerang Online.
Kata drh Andri, antipasi cepat ini dilakukan Check Point Distanak Banten setelah wabah flu babi merebak diluar negeri dan diramalkan akan mewabah di Asean, termasuk Indonesia. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 30 truk pembawa hewan ternak, rata-rata panas suhu badan hewan seperti babi, ayam dan sapi hanya berkisar sekitar 39 derajat celcius.
“Suhu badan hewan itu masih dikategorikan normal. Kalau diatas 39 derajat celcius patut dicurigai,” jelasnya.”Karena minim peralatan, kita mengunakan peralatan seadanya, termometer kita pakai untuk mengukur panas tubuh hewan seperti babi yang dibawa truk-truk peternakan di sejumlah titik di Tangsel,” ungkap drh Andri Setiabudi. (iin)
Tangerangonline.com, 4 Mei 2009
Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »