TANGERANG- Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Tangerang segera membentuk tim monitoring untuk melakukan pemeriksaan terhadap puluhan peternakan babi di wilayah Tangerang. Hal ini dilakukan guna memotong penyebaran flu babi dari luar negeri ke Indonesia, khususnya Tangerang.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Distanak Kabupaten Tangerang drh Mawardi menyatakan, di sejumlah kecamatan Tangerang banyak terdapat peternak babi tradisional lebih dari puluhan, hingga kini Distanak belum mengetahui dengan pasti babi milik para peternak itu apakah sudah terserang flu babi atau belum.
“Kami belum mengetahui penyebaran flu babi itu sebenarnya seperti apa. Apakah dari hewan ke manusia atau kontak langsung antara manusia dengan manusia. Namun intinya, peternakan babi di Tangerang harus diwaspadai dengan munculnya flu babi yang kian meresahkan warga sekitar setelah mendaparkan kabar dari media,” ungkap drh Mawardi ketika dihubungi Tangerang Online.
Menurut Mawardi, guna mencegah tidak terjadinya korban jiwa baik warga sekitar maupun pemilik dari peternakan tersebut dan memusnakan ribuan babi, Distanak akan melakukan pertemuan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang untuk membicarakan efek dari penyebaran flu babi di Tangerang, untuk melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah lokasi peternakan babi.”Untuk itu kita akan membentuk tim monitoring untuk menanggulangi penyebaran virus yang bernama Schwein Influenza Virus (SIV). Saya akan mengkontak dr Yully (Kabid Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang) untuk membicarakan hal ini,”ucapnya.
Mawardi menyatakan, keberadaan peternakan babi yang marak di Tangerang tidak seharusnya dicurigai sebagai salah satu bangkitnya flu babi yang mengancam warga sekitar. Karena flu babi hanya merebak dan menewaskan warga di luar negeri (Meksiko), bukan di Indonesia khususnya Tangerang.”Okelah kalau flu burung dan flu singapura ada di Tangerang. Tetapi flu babi belum diketahui dengan pasti ada di Tangerang, namun harus diantisipasi segera, jangan dibiarkan berlarut-larut, karena bisa mengancam kesehatan warga sekitar,” aku Mawardi serius.
Diketahui, wilayah Salembaran Kosambi, Tiga Raksa (Tangerang Utara) dan Setu (Tangerang Selatan) bermukim peternakan babi tradisional yang umumnya dipelihara warga Tionghoa.
Dari catatan Distanak pada tahun Februari 2005, ditemukan lima ekor babi positif terinfeksi virus avian H5N1 yang berafiliasi pada flu babi di Kampung Babat, Kecamatan Legok dan kampung Rancaiyu, Kecamatan Panongan.”Ketika itu belum tahu apakah babi itu terserang flu babi atau tidak, namun yang pasti kita sudah memusnahkan babi tersebut,”ungkapnya. (iin).
Tangerangonline.com, 27 April 2009
