Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk April 17th, 2009

Waspadai Flu Singapura

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 17, 2009

TANGERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang meminta kepada seluruh puskesmas untuk mewaspadai penyebaran virus flu Singapura. Ini menyusul merebaknya pasien flu Singapura yang menjangkiti puluhan warga Depok, Jawa Barat, beberapa pekan terakhir ini.

Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P dan PL) Dinkes Kabupaten Tangerang dr Yuli Soenar Dewanti mengatakan pihaknya telah mengirimkan edaran ke seluruh puskesmas untuk mewaspadai adanya pasien dengan gejala virus yang berasal dari Singapura itu. Karena jika terlambat, penyebaran virus ini sangat cepat dan sulit dikendalikan.

Saat ini, Kabupaten Tangerang pantas mewaspadai merebaknya penyakit itu karena virus ini sedang menyerang warga di daerah tetangga. Bahkan Dinkes mencatat, flu Singapura pernah menyerang 35 anak-anak warga Kabupaten Tangerang. Penyakit ini ditemukan pertama kali pada 2005 di kawasan perumahan elit BSD, Kecamatan Serpong.

Yully menyatakan, penyakit itu memang paling banyak menyerang warga di perumahan elit. Flu Singapura dibawa masuk oleh mereka yang baru saja berpergian atau berlibur dari luar negeri dan masuk ke Indonesia. Penyebaran flu Singapura lebih cenderung terjadi pada anak anak di bawah usai 10 tahun yang lebih sering berpergian ke luar negeri bersama orang tuanya. Alasannya, kekebalan tubuh si anak sangat rentan diserang penyakit yang disebabkan virus Coxsackie itu ketika berinteraksi dengan orang asing yang sudah tertular.
“Sebaiknya anak-anak jangan terlalu sering diajak berpergian keluar negeri. Kalaupun dipaksakan ingin berliburan saya minta orang tua untuk waspada akan penyebaran virus Flu Singapura ketika anaknya berinteraksi dengan orang asing,” jelas Yully.

Diingatkan, jika ada warga di satu wilayah yang suspect, petugas kesehatan dari puskesmas diminta langsung ke lokasi untuk memastikan dan melokalisirnya.
Penyakit Flu Singapura, lanjut Yully, memiliki masa inkubasi selama tujuh hari. Penyakit ini dengan cepat menular melalui udara, percikan air liur, bersentuhan langsung dengan penderita, dan lain sebagainya. Bahkan penyakit ini dapat menimbulkan kematian.

Pihaknya menghimbau kepada masyarakat jika mengalami gejala-gejala penyakit mirip Flu Singapura, maka segera periksa ke puskesmas terdekat untuk secepatnya diambil tindakan. Mengenai ciri-cirinya, tak jauh beda dengan flu biasa. Namun dalam kasus flu Singapura, si penderita mengalami sariawan, bibirnya pecah-pecah, lidah dan tenggorokannya meradang. Selain itu, pada kulit si penderita terdapat bercak lebar-lebar warna merah. (bha)

Radarbanten.com, 17 April 2009

Ditulis dalam Kesehatan | 1 Komentar »

Kemacetan, PR Terberat Dishub Tangsel

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 17, 2009

PAMULANG – Dinas Perhubungan Telekomunikasi dan Pariwisata Kota Tangerang Selatan (Tangsel) punya pekerjaan rumah (PR) yang cukup berat.
Salah satunya adalah mengatasi persoalan kemacetan yang setiap hari terjadi di kawasan Ciputat.

Kepala Dinas Perhubungan Telekomunikasi dan Pariwisata Kota Tangsel Hartadi Wijaya mengutarakan, persoalan kemacetan di Ciputat yang menghubungkan Jalan Dewi Sartika hingga Jalan Ir Djuanda sudah berlangsung cukup lama. Masalahnya, hingga kini belum bisa tepecahkan.
“Saya akan pelajari masalah kemacetan di Kawasan Ciputat. Ini salah satu PR yang harus segera dituntaskan. Apalagi, Pak walikota sudah instruksikan kepada saya,” ujarnya, Kamis (16/4).

Hartadi memaparkan, pihaknya akan berupaya keras mengatasi permasalahan kemacetan itu. Satu yang akan diambil, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan bagian ketertiban umum kecamatan setempat. Karena, persoalan kemacetan di wilayah itu bukan hanya faktor dari kendaraan umum. Namun, juga karena maraknya PKL yang berjualan di bahu jalan.
“Coba lihat, karena PKL jalan menjadi sempit. Belum lagi di simpul-simpul jalan juga banyak kendaraan yang parkir kendaraan seenaknya. Akibatnya kemacetan pun tak terelakkan,” katanya. (ang)

Radarbanten.com, 17 April 2009

Ditulis dalam Lalulintas | 1 Komentar »

Situ Antap Terancam

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 17, 2009

TANGERANG, KOMPAS.com – Situ Kayu Antap, atau sering disebut Situ Antap, di Tangerang dalam kondisi memprihatinkan. Situ yang terletak di dekat Situ Gintung itu kehilangan lebih dari separuh lahannya. Lahan konservasi ini semakin terancam karena diambil alih dan dimiliki perorangan.

Situ Antap terletak di wilayah RT 06 dan RT 08 RW 02, Rempoa. Kamis (16/4), terlihat pagar beton kokoh setinggi sekitar 3 meter mengelilingi situ seluas 1,48 hektar. Pagar itu menyatu dengan tembok pembatas sebuah kompleks perumahan mewah yang tepat berdampingan dengan Situ Antap. Tidak ada satu celah pun di antara pagar beton itu yang memungkinkan warga sekitar mendekati tepi situ.

”Sudah sejak Oktober 2008 tembok itu dibangun,” kata Mahmudi (57), warga setempat, Kamis kemarin.

Mahmudi adalah salah satu dari sekitar 40 kepala keluarga yang pernah menjadi penggarap lahan di sekitar situ. Mereka memanfaatkan tanah di sekitar situ yang subur dan air melimpah dengan menanam pisang, sayur-mayur, serta beternak ikan. Pada 30 April 2008, Pemerintah Kabupaten Tangerang secara resmi menggusur mereka dari tepian situ dengan dalih pelestarian daerah tangkapan air.

Namun, Kepala Balai Wilayah Sungai Cidurian-Cisadane Joko Suryanto menegaskan, Situ Antap memang sudah dipagari karena lahan situ itu sudah dimiliki perorangan. ”Padahal itu jelas aset pemda dan merupakan lahan konservasi,” ujar Joko.

Joko menjelaskan, sekitar dua bulan lalu Menteri Pekerjaan Umum telah menyurati Bupati Tangerang yang isinya meminta agar mengembalikan kembali fungsi situ tersebut dan selanjutnya dilestarikan.

”Menteri juga menyurati BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk meninjau ulang sertifikat hak milik perorangan atas lahan Situ Antap,” kata Joko.

Nadih, Kepala Dusun II yang membawahi RW 02, 07, dan 08 Rempoa, membenarkan, Situ Antap berada dalam kompleks sebuah perumahan elite.

”Saya tidak tahu apakah itu sudah dibeli atau tidak. Itu bukan kewenangan saya. BPN yang tahu,” papar Nadih.

Menurut Nadih, pemagaran dilakukan pengelola perumahan, beberapa bulan setelah penggusuran 40 kepala keluarga yang menggarap lahan di sekitar situ.

Nadih juga membenarkan bahwa saat ini Situ Antap sudah menyusut. ”Dulu situ itu lebar dan luas. Tetapi sekarang sudah banyak permukiman di sana,” kata Nadih.

Limpahan Gintung

Mahmudi bersama beberapa warga lain korban gusuran situ, Ahmad (55) dan Manulang (42), mengungkapkan, Situ Antap merupakan bagian dari rangkaian situ di sekitar Rempoa, Cempaka Putih, dan Cirendeu. Di tiga wilayah ini terdapat Situ Gintung yang kini memiliki luas 21,4 hektar.

Menurut Ahmad, tepat berseberangan dengan Situ Gintung, ada situ berukuran lebih kecil yang sekarang sudah diuruk dan menjadi pusat perbelanjaan. Kemudian, ada Situ Rompong, Setu Antap, dan satu situ lagi yang juga sudah menjadi permukiman. Situ-itu ini dulu dihubungkan dengan anak-anak sungai.

”Dengan anak-anak sungai itu, jika ada kelebihan air di satu situ, bisa dilimpahkan ke situ yang lain,” kata Ahmad.

Namun, sistem bagi-bagi tampungan air di kawasan Rempoa dan sekitarnya kini tidak lagi berfungsi. Nyaris setiap jengkal lahan di kawasan tersebut telah menjadi permukiman. Perkampungan penduduk maupun kompleks perumahan sederhana hingga kelas elite yang dihuni warga negara asing tumbuh subur di sini.

Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Situ Rompong kini hanya seluas 2,99 hektar, padahal pada 2007 masih menghampar seluas 10 hektar. Kali-kali kecil penghubung antarsitu sudah lenyap. Tidak heran Situ Gintung sampai mengalami kelebihan kapasitas tampungan air dan akhirnya tanggulnya pun jebol, akhir Maret lalu.

Joko kini hanya bisa berharap Situ Antap dan situ-situ lain yang sudah hilang, rusak, atau nyaris hilang dapat dikembalikan seperti fungsi semula. Semua upaya itu tidak lain demi mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi lagi. (PIN/NEL)

Kompas.com, 17 April 2009

Ditulis dalam Infrastruktur | Leave a Comment »