JAKARTA, KOMPAS.Com – Saat bencana semua perhatian terpusat di hulu Situ Gintung, karena banyak warga yang meninggal dan hilang. Tetapi, nasib “pejabat” hampir luput dari perhatian.
Pejabat adalah kependekan dari Petani Jaring Apung Budi Daya Air Tawar, kata Koordinator Pejabat 1 Isdarman, Senin (6/4). Saat ditemui, ia bersama tujuh teman anggota pejabat sedang bersenda gurau di tepi Danau Situ Gintung (DSG) yang berada di kawasan rekreasi Pulau Situ Gintung 3, jalan Kertamukti, Jakarta. “Sambil ngilangi stress, mas,” katanya.
Tidak jauh dari tempat kami duduk, terbentang DSG yang cekung mengering. Di bagian dasar danau, dapat melihat jejak-jejak usaha para anggota pejabat. Jaring-jaring terkulai bercampur lumpur. Pondok-pondok tempat menjaga jaring apung doyong terlanda pergerakan air yang dahsyat saat bencana.
“Kami memang kecewa dan sedih, tapi kami harus tetap berusaha,” kata Isdarman sembari diiyakan oleh yang lain.
Isdarman mengaku, kini dirinya bersama rekan-rekannya sedang berusaha untuk mendapat bantuan, jangka pendek dan panjang. Jangka pendek berkaitan dengan kebutuhan pangan. Sedangkan, jangka panjang adalah bagaimana menyambung mata pencarian yang terputus akibat mengeringnya DSG. “Kami itu kalau hari ini bisa makan, berpikir besok mau makan apa,” imbuh Isdarman. Lagi-lagi, ucapannya diamini yang lain dengan berbagai tanggapan.
Menurut Isdarman, pihaknya tengah menunggu hasil pembicaraan antara Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten dengan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) beberapa waktu yang lalu. Tentu saja, ini demi kelangsungan lembar demi lembar kehidupan kelak.
Perihal pembicaraan itu, Isdarman menjelaskan, pada Senin (31/3) silam, pengawas perikanan kecamatan Ciputat-Pamulang mengusulkan beberapa opsi ahli profesi bagi para pejabat kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten. Keesokan harinya, dinas tersebut membawa opsi itu ke FAO atas tawaran pihak FAO.
Lalu, Jumat minggu lalu, pihaknya diberitahu hasil pembicaraan, katanya. Hasilnya, pihak FAO bersedia membantu pejabat dengan dua opsi yakni pembibitan ikan lele dan pembesaran domba. Selain itu, FAO hanya bisa memberi sumbangan bagi 40 orang saja. Padahal, jumlah anggota pejabat ada 108 orang.
“Untuk saat ini, kami disuruh buat proposal dulu. Kami berharap ini bisa terealisasi. Kami capek ditanya-tanya, didata-data. Kami butuh makan, “kata salah satu teman Isdaraman.
Sejak 2002
Para petani jaring apung ini membentuk satu organisasi yang dinamanakan pejabat. Organisasi ini dibagi menjadi tujuh wilayah yang mengitari DSG. “Kebetulan, di wilayah, saya ini (sekitar Pulau Situ Gintung 3), merupakan perintis usaha ini. Sehingga dinamakan pejabat 1,” tutur Isdarman.
Awalnya, kata Isdarman, petani jaring apung muncul pada2002 hasil rintisan empat orang. Setelah itu, usaha tersebut terus berkembang dan sekarang berjumlah 108 orang.
Dari jumlah tersebut, jaring apung yang dipasang di DSG berjumlah 427 unit. Tiap hari satu kwintal ikan hasil pejabat, seperti nila, gurame, lele, patin dan emas dilempar ke pasar Ciputat. Hasilnya, rata-rata per bulan para pejabat ini bisa mengantongi Rp. 1,5 juta.
Menjelang bencana, para anggota pejabat, sebetulnya, sedang mempersipkan panen raya pada Juli mendatang. “Kami akan panen raya. Dari 427 buah jaring apung itu diperkirakan akan menghasilkan 20 ton sekali panen,” kata Isdarman.
Alih-alih tak menduga datangnya musibah, para anggota pejabat sangat optimistis dengan panen raya tersebut. Tanpa ragu, mereka telah membuat perhitungan alokasi dana untuk kebutuhan rumah tangga. Khususnya, kebutuhan anak-anak mereka yang masih sekolah.
Pasalnya , bulan Juli adalah masa-masa anak sekolah membutuhkan banyak biaya. Cuma, yang terjadi bukannya panen raya tetapi panen bencana. “Total kerugian hampir mencapai Rp. 1 miliar,” kata Isdarman sedih.
Isdarman bersama semua anggota pejabat sangat mengharapkan realisasi pembicaraan antara Dinas Kelautan dan Perikanan bersama FAO itu. Walaupun hanya memenuhi kebutuhan 40 orang saja ini sangat berguna sebagai usaha untuk menyambung mata pencarian mereka yang terputus. “Kami berharap ini bukan sekadar wacana,” kata Isdarman serius. C4-09
Kompas.com, 7 April 2009
