Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk April 1st, 2009

Anak-Anak Korban Situ Gintung, Butuh Seragam dan Buku Sekolah

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 1, 2009

TANGERANG–MI: Bantuan logistik untuk korban jebolnya Situ Gintung, baik dari masyarakat umum, instansi dan partai politik hingga kemarin sore terus mengalir. Hanya saja yang benar-benar dibutuhkan oleh korban Situ Gintung saat ini adalah baju dan buku-buku pelajaran, sehingga siswa-siswi yang dilanda bencana tersebut bisa melanjutkan sekolah seperti biasa.

“Sekarang ini, yang dibutuhkan oleh korban Situ Gintung adalah seragam dan buku-buku pelajaran, supaya siswa-siswi korban Situ Gintung bisa cepat masuk sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran,” Kata Koordinator Satkorlak Bencana Alam Situ Gintung, Rahman Salam di Universitas Muhammadiya Jakarta (UMJ), Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Selasa (31/3).

Sebab, lanjut dia, sejak tragedi Situ Gintung terjadi pada Jumat (27/3) lalu, siswa-siswi yang rumahnya rusak diterpa air bah Situ Gintung hanya bisa tinggal di pengungsian dan tidak sekolah. Itu terjadi, karena seragam dan buku-buku pelajaran mereka ludes terserat air bah Situ Gintung.

“Apabila mereka bisa sekolah, selain tidak ketinggalan pelajaran, tetu trauma mereka akan segera teratasi lantaran terhibur berkumpul kembali dengan teman-teman sekolah,” kata Rahman Salam sembari menambahkan dalam waktu dekat pihaknya bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak untuk mendirikan Trauma Center di lantai dua Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Dan setelah kondisi di kampung Gintung, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Banten tersebut, sudah normal, Trauma Center yang akan digunakan sebagai tempat anak-anak korban bencana tersebut bisa di pindahkan di lokasi lain yang tidak jauh dari UMJ.

Berdasarkan pemantauan di lokasi, anak-anak korban jebolnya Situ Gintung, saat ini dikumpulkan di Satkorlak RW 8 di RT 4. Di sana sebanyak 20 anak korban Situ Gintung itu didampingi beberapa orang relawan yang tiap saat menghiburnya dengan cara bercanda ria dan bernyanyi-nyanyi.

“Di sini kami bertugas untuk mendampingi mereka, khususnya yang kedua orang tuanya atau saudaranya tewas karena terseret air bah Situ Gintung,” Kata Yogi, salam satu pendamping anak-anak korban bencana alam tersebut.

Tujuannya, tambah dia, supaya anak-anak korban Situ Gintung itu tidak terus trauma dan ingat kepada anggota keluarganya yang tewas dilanda bencana tersebut. “Tugas kami selalu mendampingi mereka,” kata Yogi yang selalu mewanti-wanti kepada siapapun yang datang ke Satkorlak itu agar tidak mengingatkan kembali anak-anak tersebut kepada kejadian yang memilukan itu. (SM/OL-03)

Mediaindonesia.com, 1 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Leave a Comment »

Pencarian Dilakukan di Darat dan Sungai

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 1, 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Kesibukan masih terjadi di Situ Gintung, tepatnya di sekitar Kampus STIE Ahmad Dahlan, Cirendeu, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (31/3). Alat-alat berat beroperasi mengeruk reruntuhan di permukiman dan badan Kali Pesanggrahan.

Pencarian jenazah korban jebolnya tanggul Situ Gintung dilakukan di darat dan di sungai menggunakan perahu karet.

”Ditemukan satu lagi korban tewas pada Selasa siang. Korban berjenis kelamin perempuan, tetapi belum bisa diidentifikasi karena sudah membusuk. Saat ini total terdapat 99 korban tewas. Namun, untuk jumlah orang hilang, kami belum bisa memastikan,” kata Suyatno, Koordinator Tim SAR Situ Gintung, Selasa.

Korban tewas tersebut ditemukan di wilayah RT 03 RW 07, Poncol. Seusai jenazah perempuan itu ditemukan, hujan deras mengguyur kawasan Situ Gintung hingga ke Cipulir, Jakarta Selatan. Tim SAR pun menghentikan pencarian tepat pukul 15.00. Selain hujan yang nyaris setiap hari datang mengguyur, pencarian korban tewas dan hilang terhambat tebalnya lapisan lumpur, rumpun-rumpun bambu yang roboh, dan gunungan tumpukan sampah.

Wawan Purwana, Ketua Kapinis Indonesia yang juga Ketua Gabungan Pemuda Untukmu Bangsa, Disaster, Rescue, and Recovery Activity (Gada Musa Discovery), mengatakan, kemungkinan besar korban tewas yang belum ditemukan karena hanyut di Kali Pesanggrahan.

”Ada juga kemungkinan yang lebih realistis, yaitu korban tersangkut di gorong-gorong di permukiman yang bersebelahan dengan aliran sungai atau tertimbun sampah, baik di reruntuhan maupun di badan sungai. Untuk itu penyusuran di kanan kiri badan sungai dan di kalinya sendiri dengan perahu karet harus terus dilakukan,” kata Wawan.

Suyatno mengatakan, sesuai peraturan yang berlaku, operasi SAR akan terus dilakukan hingga H+7 pascajebolnya tanggul Situ Gintung dan masih dapat diperpanjang lagi. Penelusuran di badan sungai dipastikan akan tetap dilakukan.

Desinfektan

Untuk mencegah penyebaran penyakit, petugas dari Departemen Kesehatan dan dinas kesehatan setempat menyemprotkan obat antikuman (desinfektan). Sedikitnya disediakan 40 tabung desinfektan yang disemprotkan di wilayah RT 01, 03, 04 di RW 08 dan di sekitar Kampung Gintung, serta di Perum Pratama Hills.

”Bau busuk sampah maupun bangkai binatang berada di mana-mana. Warga yang sudah kembali ke rumah maupun masih di pengungsian bisa makin terancam karena keberadaan sumber penyakit ini. Untuk itu, secara bergilir, setiap kawasan yang terkena musibah akan disemprot,” kata Asep, salah satu petugas penyemprotan.

NEL

Kompas.com, 1 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Leave a Comment »

Tak Ada Relokasi Besar-besaran

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 1, 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, pemerintah akan kembali membangun Situ Gintung agar lebih aman bagi warga sekitar dan diharapkan selesai Oktober 2009. Pemerintah memastikan, tidak akan ada relokasi besar-besaran untuk warga yang menjadi korban bencana.

”Tidak akan ada relokasi besar-besaran. Rakyat bisa membangun kembali rumahnya, tetapi harus sesuai dengan tata ruang. Soal tata ruang, pemerintah daerah dan Departemen Pekerjaan Umum yang akan menentukannya,” ujar Kalla seusai rapat koordinasi di Sekolah Polisi Wanita, Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Selasa (31/3).

Dalam rapat diputuskan juga bantuan pemerintah kepada keluarga korban. Besar bantuan disesuaikan dengan bantuan pemerintah kepada korban bencana selama ini. Untuk keluarga yang rumahnya hancur atau rusak berat, besar bantuan maksimal Rp 30 juta, rusak menengah maksimal Rp 15 juta, dan rusak ringan Rp 5 juta.

Pembangunan kembali Situ Gintung akan dilakukan Departemen Pekerjaan Umum dengan konstruksi tanggul dari beton agar aman dan tidak berbahaya bagi warga sekitar. Keberadaan situ sebagai kawasan penyangga dipertahankan dengan membuat saluran selebar 5 meter untuk mengalirkan air ke Kali Pesanggrahan.

Daerah sempadan

Menurut Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, bangunan-bangunan di atas daerah sempadan, atau yang berada kurang dari 50 meter dari titik pasang tertinggi situ, akan direlokasi. Adapun korban bencana yang tinggal di luar garis sempadan disiapkan bantuan perbaikan rumah sesuai ketentuan. Pemanfaatan lahan di kawasan Situ Gintung akan dikembalikan sesuai dengan kebijakan tata ruang yang berlaku. Di antaranya pemanfaatan daerah sempadan Situ Gintung dan sempadan Kali Pesanggrahan. Sesuai dengan peraturan daerah, sempadan tidak boleh digunakan mendirikan bangunan permanen ataupun tempat usaha.

Warga yang sebelumnya bertempat tinggal di daerah sempadan akan direlokasi. ”Konsekuensinya memang harus ada warga yang pindah, tetapi hanya sebagian dan hanya bangunan yang berdiri di daerah terlarang,” kata Atut.

Soal pengungsi, dalam waktu dekat mereka akan dipindahkan. Pemerintah segera memindahkan 650 pengungsi ke Wisma Kertamukti. Lokasi wisma juga tidak jauh dari rumah mereka sebelumnya.

Penjabat Wali Kota Tangerang Selatan M Shaleh menambahkan, kapasitas Wisma Kertamukti sekitar 700 orang. ”Wisma itu sebenarnya masih menjadi sengketa Pemprov Banten dan Pemprov Jawa Barat. Tetapi saya kira Jabar mengizinkan wisma itu digunakan untuk penampungan sementara pengungsi.”

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Masitoh mengatakan, pihaknya memberikan waktu satu minggu kampusnya digunakan untuk penampungan sementara.

”Kampus UMJ harus menjalankan fungsi akademik setelah dibersihkan dari lumpur.”

Sementara itu, warga yang kehilangan sertifikat tanah karena bencana, kata Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto, bisa mengurus ke BPN terdekat tanpa dipungut biaya. ”Warga pemilik sertifikat tanah yang dipindahkan akan mendapat kompensasi karena hak atas tanahnya diubah karena tata ruang baru,” ujar Joyo.

Tim forensik

Tim Forensik Mabes Polri bekerja sama dengan Polres Metro Jakarta Selatan, kemarin, turun ke lokasi kejadian untuk mencari penyebab runtuhnya tanggul Situ Gintung. Menurut Kepala Satuan Reskrim dan Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan Komisaris Dodi Darmawan, selain mencari penyebab longsor, kehadiran Tim Forensik juga untuk mengamankan lokasi bencana.

Hingga Selasa sore, data jumlah pengungsi dan orang yang hilang masih simpang siur. Data di Posko UMJ tercatat hanya tersisa 14 orang yang hilang, sementara di Posko Polda Metro Jaya yang terletak di STIE Achmad Dahlan masih enam orang yang dicari. Keenam orang itu adalah Wulan Megawati (25), Rizki (27), S Gunawan (53), Citta V (11), Burhanudin (40), dan Lala Anggraeni (29).

Namun, menurut Rahmat Salam, Kepala Posko Pusat UMJ, Kelurahan Cirendeu, melaporkan masih ada 14 warga ber-KTP Cirendeu yang belum diketahui keberadaannya. Posko Pusat UMJ masih mencatat 91 laporan warga yang mencari anggota keluarganya. ”Hari ini ada 21 laporan yang menyatakan keluarganya sudah ditemukan,” ujar Rahmat.

Lokasi itu juga diserbu pemulung yang mengais sampah dan reruntuhan. Karena itu, beberapa akses masuk dijaga ketat.

Sementara itu, sesosok jenazah yang ditemukan tim SAR gabungan pencari korban jebolnya tanggul Situ Gintung, hingga Selasa pukul 19.30, masih tertahan di kamar jenazah RS Cipto Mangunkusumo. Tak diketahui mengapa jenazah itu menyasar ke sana karena, sejak kejadian, jenazah korban bencana itu dibawa ke RS Fatmawati.

Ketua Tim Disaster Victim Identification atau DVI fase II (untuk kamar jenazah) dr Aji Kadarmo juga tak mengetahui penyebabnya.

Sesosok jenazah berjenis kelamin perempuan berusia 20-25 tahun dalam kondisi kurang baik lagi itu ditemukan di Kali Pesanggrahan. Tertahannya jenazah itu mengecewakan keluarga korban petaka yang memburu informasi ke kamar jenazah begitu mendengar ada penemuan jenazah.

Pertanyaan senada datang dari Heru, kawan dekat keluarga Oscar Anwar yang bersama mencari istri Oscar, Eti (50). ”Ini aneh kenapa jenazah bisa ke RSCM. Kami tidak mau kalau jenazah keluarga kami dijadikan bahan observasi,” ujar Heru. (INU/KSP/COK/ARN/NTA/TRI/PIN)

Kompas.com, 1 April 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | 1 Komentar »

Hampir Seribu Orang Korban Situ Gintung Kehilangan Dokumen Penting

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 1, 2009

TEMPO Interaktif, Tangerang:Sekitar 932 jiwa warga Kelurahan Cireundeu, Ciputat Tangerang harus kehilangan dokumen kependudukan dan surat-surat berharga karena terbawa air luapan jebolnya tanggul Situ Gintung Jum’at pekan lalu.

“Sudah dipastikan surat berharga dan dokumen kependudukan mereka ikut ludes terbawa banjir,” ujar Lurah Cireundeu Chairul Sadudin kepada Tempo, Selasa (31/3).

Menurutnya barang dan rumah ratusan warga tersebut luluh lantak karena bencana itu. Chairul mengungkapkan warga yang kehilangan kartu keluarga, KTP, surat kendaran bermotor, akte kelahiran, ijazah, dan surat berharga lainnya berada di RT 03/08 terdiri 75 kepala keluarga, 214 jiwa, RT01/08 terdiri dari 72 kepala keluarga, 286 jiwa, RT04/08 terdiri dari 89 kk, 373 jiwa, RT04/02 15 kk, 45 jiwa, RT04/11, 4 kk, 16 jiwa dan RT05/11 77 kk, 23 jiwa.

Chairul berjanji akan membantu para korban yang kehilangan dokumennya itu dengan cara memberikan surat rekomendasi kemudahan mengurusnya.” Harus dibantu dan dipermudah,” katanya.

Teknisnya, kata dia, setiap ketua RT akan mendata dan memberikan surat pengantar kepada setiap warga yang akan mengurus surat-surat itu.” Selanjutnya saya yang ngurus,”katanya.

JONIANSYAH

Tempointeraktif.com, 31 Maret 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Leave a Comment »

Psikolog Dikerahkan Bantu Pulihkan Korban Situ Gintung

Ditulis oleh kinclonk di/pada April 1, 2009

TEMPO Interaktif, Tangerang: Palang Merah Indonesia Kabupaten Tangerang menurunkan 10 psikolog ke lokasi pengungsian tragedi Situ Gintung, Cireundeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (31/3).

Memasuki hari kelima pasca-tragedi itu, Ketua Palang Merah Indonesia Kabupaten Tangerang Firdaus Fahmi mengatakan kondisi kejiwaan para pengungsi mulai labil. “Terutama korban yang kehilanggan anggota keluarganya,” ujarnya kepada Tempo di lokasi pengungsian Universitas Muhammadiyah Jakarta, Selasa (31/3).

Menurut Fahmi, para pskiolog itu akan membantu para korban dari sisi kejiwaan mereka. “Membangkitkan semangat dan harapan para pengungsi,menampung keluh kesah mereka,” katanya.

Saat ini tercatat sekitar 300 pengungsi korban bencana tragedi Situ Gintung yang berada di posko pengungsian Universitas Muhammadiyah Jakarta. Psikolog, kata Fahmi, dikerahkan untuk para orang tua dan anak-anak. “Anak-anak akan dihibur oleh artis,” tambah Fahmi. Menurut Fahmi, para orang tua dan anak korban bencana Situ Gintung masih banyak yang trauma.

Selain itu, Palang Merah Indonesia Kabupaten Tangerang sejak Selasa pagi mulai membuka dapur umum yang mampu menyediakan 1800 bungkus per hari.

Tanggul Situ Gintung jebol pada Jumat (27/3) dini hari lalu. Akibatnya, puluhan korban tewas dan hilang.

JONIANSYAH

Tempointeraktif.com, 31 Maret 2009

Ditulis dalam Bencana Alam | Leave a Comment »