PAMULANG – Jumlah warga yang menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan terus meningkat.
Hingga Jumat (6/2), jumlah penderita penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini sebanyak 12 kasus yang tercatat di Puskesmas Pamulang. Kepala Puskesmas Pamulang drg Unna Ramadhona mengatakan, dari 12 kasus saat ini sebanyak delapan orang masih dirawat di ruang rawat inap Puskesmas Pamulang. Dari 12 kasus itu sebanyak delapan orang positif DBD sedangkan sisanya masih suspect.
Umumnya, jumlah penderita kasus ini di Kecamatan Pamulang adalah orang-orang dewasa. “Sebenarnya jumlah itu banyak, tapi yang melapor hanya segitu. Sisanya tidak terpantau kami. Sedangkan yang delapan orang masih dilakukan penanganan secara intensif di Puskesmas ini,” terang Unna ketika ditemui di kantornya, Jumat (6/2).
Menurut Unna, pada bulan Januari lalu sebanyak 43 warga yang menderita DBD. Bahkan, sebanyak tiga orang dirujuk ke RSUD Tangerang. Melonjaknya kasus ini terjadi karena musim hujan yang silih berganti dengan musim panas, sehingga mengakibatkan berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk.
“Biasanya musim seperti ini jentik-jentik nyamuk mudah berkembang biak, akibatnya jumlah penyakit ini makin meningkat,” paparnya.
Unna menuturkan, peningkatan jumlah kasus ini terjadi juga karena masih minimnya kesadaran masyarakat terkait pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Apalagi, di Kecamatan Pamulang ini banyak daerah yang menjadi endemis DBD. Di antaranya, Kelurahan Pamulang Barat, Pamulang Timur, Pondok Benda, Benda Baru, dan Bambu Apus.
“Di sini daerah endemis cukup banyak, makanya masyarakat juga harus rajin menjaga kebersihan lingkungannya,” terang Unna.Dikatakan Unna, untuk mengatasi penyakit DBD melalui program fogging atau penyemprotan bukan sebuah penyelesaian. Seharusnya saat musim hujan seperti ini program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang harus diutamakan. Jadi, kalau lingkungan tidak terjaga dengan baik akan menjadi sia-sia.
“Apalagi saat musim hujan seperti dilakukan fogging ini akan percuma, karena obat-obat bekas fogging akan menjadi luntur, jentik nyamuk malah tambah berkembangbiak,” jelasnya.
Sementara itu, di Kecamatan Setu jumlah penderita DBD juga cenderung menurun. Namun,pihak puskesmas belum mendata secara keseluruhan. “Kalau tahun 2008 lalu, jumlah kasus DBD sebanyak 16 orang, 13 orang di antaranya suspect sedangkan sisanya positif DBD,” ujar Kepala Puskesmas Kecamatan Setu dr Dahlia Nadeak. (ang)
Radar Banten, 7 Februari 2009
