Sudah dua bulan terakhir ini, Jalan Ciater Barat di Serpong Tangerang Banten rusak parah. Sepanjang 1 kilometer dari ujung jalan yang berbatasan dengan kawasan BSD City hingga proyek perumahan Serpong Terrace, kondisi jalan tersebut hancur.
Setiap lendaraan yang lewat jalan itu pasti mengalami guncangan akibat jalan yang bergelombang dengan lubang yang besar. Pada musim hujan, genangan air di jalan itu tingginya mencapai lutut orang dewasa. Jalan berubah menjadi kubangan air.
Jalan alternatif dari Pamulang ke Serpong itu memang tidak memiliki drainase air sehingga jika hujan turun, air tergenang tak kemana-mana. Padahal, jalan sepanjang 2 kilometer itu merupakan jalur penting karena menghubungkan kawasan Pamulang dan Serpong.
Pedagang buah, Mohammad Rohadi (29) mengatakan, Jalan Ciater Barat tak pernah sepi. Setiap hari truk tanah dan truk pengecoran semen melintasi jalan ini. Truk-truk yang bertonase diatas 10 tom itu melalui jalan itu.
Bahkan di tepi jalan itu dibangun pangkalan truk yang biasa bermuatan tanah. Derasnya pembangunan di kawasan perbatasan dengan DKI Jakarta ini menyebabkan truk-truk tanah dan truk semen cor berkeliaran.
Namun dampaknya tidak diperhitungkan. Kondisi jalan makin hancur. Ini juga terlihat pada sepotong jalan di seberang kantor Kelurahan Rawa Buntu, Serpong. Jalan itu sudah dua kali diperbaiki, tetapi sekarang hancur lagi. Perusahaan pengecoran semen membuang limbahnya sembarangan sehingga merusak Jalan Raya Serpong.
Yang menyedihkan, kondisi jalan rusak itu dibiarkan berbulan-bulan. Setelah diperbaiki, ditambal sulam, tak berapa lama jalan itu rusak kembali. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusakan jalan ini? Mengapa banyak jalan di Kabupaten Tangerang yang tidak memiliki drainase?
Dari 1.700 kilometer jalan yang ada di seluruh Kabupaten Tangerang, ternyata lebih dari 50 persen di antaranya rusak parah. Dibutuhkan dana sedikitnya Rp. 1,7 Triliun untuk memperbaiki jalan rusak di Kabupaten Tangerang. Tetapi berapa anggaran perbaikan jalan? Mungkin hanya sepersepuluh dari kebutuhan seharusnya.
Problem daerah-daerah yang berbatasan dan dekat dengan wilayah DKI Jakarta selalu sama. Serpong atau Pamulang terlalu jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Jaraknya lebih dari 40 kilometer. Bisa jadi pejabat tak sempat jalan0jalan ke wilayah ini sehingga banyak keluhan warha yang tak terdengar.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan yang disahkan pada 29 Oktober 2008 memberi harapan baru bagi warha pinggiran Jakarta. Serpong, Pamulang, Pondok Aren, Ciputat dan Setu dengan tambahan dua kecamatan baru, yaitu Serpong Utara dan Ciputat Timur, masuk dalam administratif Kota Tangerang Selatan.
Satu Juta warga Kota Tangerang Selatan tak perlu jauh-jauh lagi ke Tigaraksa karena kantor pemerintah kota akan dibangun di Ciputat. Pendapatan asli daerah dan retribusi daerah Kabupaten Tangerang yang selama ini mencapai Rp 180 miliar, separuhnya akan masuk Tangerang Selatan dan menjadi modal pertama Pemkot Tangerang Selatan.
Dan yang terpenting, keluhan-keluhan warga, termasuk soal kerusakan jalan, didengar. (ROBERT ADHI KSP)
Koran Kompas, 12 Januari 2009
