CIPUTAT–MI: Pengesahan wilayah Tangerang Selatan (Tangsel) oleh DPR belum lama ini memberi harapan baru kepada warga Ciputat dan sekitarnya. Semrawutnya lalu lintas jalan layang (fly over) dan pasar Ciputat agar segera dibenahi oleh pemerintahan kota yang direncanakan terbentuk akhir tahun ini.
“Saya kira terbentuknya Tangsel positif sekali karena warga akan lebih mudah mengurus administrasi dengan jarak dan waktu yang lebih pendek.Lebih dari itu,saya berharap pemerintahan kota yang terbentuk nanti mampu membenahi kesemrawutan lalulintas jalan layang atau fly over dan pasar Ciputat,” kata Anung (28) kepada Media Indonesia di Ciputat,Senin (3/11).
Karyawan Telkom yang berlokasi Ruko Permai Ciputat ini mengaku terpaksa menggunakan sepeda motor ketimbang mobil menuju kantornya. “Mobil pribadi saya tidak digunakan lebih enak naik motor tidak terjebak macet,” cetusnya.
Warga Pamulang, Teddy (25), menilai fungsi fly over cukup baik untuk mengatasi kemacetan yang sudah parah di kawasan Ciputat. Namun keberadaan ribuan angkot (angkutan kota) dan bus patas AC yang mengepung Jalan Dewi Sartika dan Jalan Juanda Ciputat hanya menggeser kemacetan saja. Belum lagi tumpahnya para pedagang kaki lima Pasar Ciputat yang memakan sejumlah bahu jalan. “Saya kira yang mendesak nantinya pemerintah kota Tangsel di Ciputat layak memperjuangkan pembangunan terminal,” ujarnya.
Pemantauan Media Indonesia, arus kendaraan cenderung lancar ketika memasuki arus jalan layang. Tetapi di ujung jalan layang (baik Jalan Dewi Sartika dan Jalan Juanda arus lalu lintas terhambat karena sejumlah angkutan umum berhenti untuk menaikan dan menurunkan penumpang.Nampak sebagian angkutan “ngetem” di ujung jalan layang.
Parahnya lagi,para calon penumpangpun menyemut menunggu angkutan. Maka mudah ditebak para pengemudipun saling menyerobot berebut penumpang. Akibatnya ruas jalan menuju jalan layang menjadi tertutup karena kesemrawutan itu.
Seorang pengemudi angkot jurusan Ciputat-Parung, Budi (27), mengaku terpaksa “ngetem” dan saling serobot sesama angkutan lain berebut penumpang. “Ya,bagaimana lagi mas kita kan ngejar setoran juga,” tukasnya.
Warga lainnya, Aisyah (37), mengusulkan selain terminal diperlukan juga jembatan penyeberangan di depan supermarket Ramayana, “Saya melihat amat rawan warga terancam tertabrak kendaraan yang menyeberang jalan mel intasi jalan layang menuju Ramayana maupun ketika meninggalkannya. Jadi perlu sekali jembatan penyeberangan,”cetusnya. (Bay/OL-02)
Media Indonesia, 3 November 2008
