Tangerang Selatan

Menuju Kota dan Harapan Baru

Arsip untuk Agustus, 2008

Pemkot Tangerang Dukung Konsep Megapolitan

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 29, 2008

Pemda Kota Tangerang menyambut baik direalisasikannya rencana wilayah Jabodetabekjur menjadi daerah Megapolitan. Pasalnya, denggan program seperti itu pembangunan antardaerah di wilayah tersebut akan lebih sinergi, efisien dan optimal.

“Dari awal ketika Jabodetabekjur diwacanakan, kami sangat menyetujuinya. Karena dengan program seperti itu pembangunan antar daerah akan lebih tertata,” Kata Wali Kota Tangerang, Wahidin Halim melalui Kabag Infokomnya, Saeful Rohman di Tangerang, Banten, Jumat (29/8)..

Tidak seperti selama ini yang masing-masing wilayah menentukan rencana tata ruang (RUTR) sendiri-sendiri, sehingga bisa berdampak negatif terhadap daerah lain. “Kalau Peraturan Presiden (Perpres) tentang Megapolitan ini sudah ada, tentu ada peraturan yang mengatur tentang RUTR tersebut, sehingga setiap pembangunan di masing-masing wilayah saling terikat, tidak semaunya sendiri,” tandas dia.

Lebih jauh Saeful menjelaskan, konsep Megapolitan di wilayah itu akan mudah diterima oleh masyarakat, karena selain mereka memiliki tradisi yang hampir sama, setiap hari juga sudah kerap berbaur. Pasalnya, masyarakat Kota Tangerang banyak yang bekerja di Jakarta dan masyarakat Jakarta juga banyak yang bekerja di Tangerang. Begitupula dengan daerah-daerah lainnya.

Adapun soal wacana pengembangan busway dari Kali Deres, Jakarta Barat menuju Serpong, Tangerang, hingga kini belum bisa direalisasikan karena Pemda Kota Tangerang kesulitan mempersiapkan lahannya. Untuk itu, kata Saeful, rencana tersebut harus di bahas bersama-sama, sehingga busway itu bisa direalisasikan.

“Sampai saat ini Pemkot masih kesulitan menyediakan lahan, karena lahan di Jalan Daan Mogot sangat sempit, sehingga tidak layak dilalui busway,” kata Saeful. (SM/OL-03)

Media Indonesia 29 Agustus 2008

Ditulis dalam Umum | 1 Komentar »

Tangerang Selatan Rawan Angin Puting Beliung

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 28, 2008

Ciputat, Serpongkita.com- Berhati-hati jika anda melihat angin yang pekat, ini adalah indikasi adanya angin puting beliung. Apalagi jika anda tinggal di wilayah Ciputat, Pamulang dan Serpong. Wilayah ini termasuk rawan terkena angin puting beliung.

Menurut Kepala Sub Bidang Pelayanan BMG Wilayah II Ciputat, Jasa Abdul Qohir mengatakan, wilayah Tangerang Selatan saat ini memasuki musim kemarau basah di mana curah hujan dibawah 50 mm atau 150 mm/ bulannya. “Tangerang sedang mengalami musim kemarau basah,” ujarnya, Selasa (26/8).

Ia juga mengatakan musim kemarau ini merupakan masa transisi di mana dampak yang kemungkinan terjadi adalah adanya puting beliung yang memiliki kekuatan 22-27 knots atau 39,6-48,6km/jam. Kekuatan angin yang besar dapat merusak rumah. “Kekuatan angin itu bisa mengangat genteng rumah,” katanya kembali.

Namun, sebaliknya ia mengaku musim kemarau itu bisa memberikan kebaikan kepada para petani. Sebab, musim tersebut tidak kering melainkan masih ada hujan. “Musim ini masih bisa memberikan kebaikan namun perlu juga diwaspadai terutama jika sudah terlihat angin yang pekat,” katanya. (riz)

Serpong Kita 28 Agustus 2008

Ditulis dalam Cuaca | Leave a Comment »

Panwasda Kota Tangerang Batal Bekukan Diri

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 25, 2008

TANGERANG — Panitia Pengawas Pilkada (Panwasda) Kota Tangerang urung membekukan diri setelah Badan Keuangan dan Kekayaan Daerah (BKKD) Pemkot Tangerang memberikan bantuan pada panwasda senilai Rp 100 juta. Meski demikian, panwasda menyesalkan belum cairnya anggaran operasional senilai Rp 1,9 miliar.

“Seharusnya, hal seperti ini tidak perlu terjadi karena penyelenggaraan pilkada tahun ini sudah diketahui sejak lima tahun yang lalu,” keluh Ketua Panwasda Kota Tangerang, Syafril Elain, Ahad (24/8). Akibat tidak lancarnya pencairan anggaran operasional tersebut, panwasda sempat kalang kabut karena biaya operasional terpaksa ditanggung oleh para petugas panwasda.

Syafril mengatakan, masih banyak kebutuhan panwasda yang belum dapat dipenuhi oleh Pemkot Tangerang. Kebutuhan yang dimaksud misalnya pengadaan mobil dinas dan pengadaan komputer. “Dana sebesar 100 juta yang diberikan pemkot kemarin sebenarnya tidak sesuai dengan aturan.” Oleh karena itu, ia mendesak Pemkot Tangerang segera merealisasikan anggaran tersebut secepatnya.

Sejak dilantik oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Tangerang pada 29 Juli lalu, panwasda belum pernah menerima uang sepeser pun dari Pemkot Tangerang hingga uang sebesar Rp 100 Juta tersebut turun beberapa hari yang lalu. Panwasda pun sempat berkonsultasi dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengenai sikapnya yang ingin membekukan diri. Akhirnya, Bawaslu menyarankan agar Panwasda Kota Tangerang menunggu hingga 22 Juli lalu. Namun, karena waktu itu Pemkot mencairkan dana senilai 100 Juta, panwasda akhirnya urung membekukan diri.

“Kami akan memanfaatkan dana ini meskipun sebenarnya tidak sesuai aturan,” kata Syafril. Tindakan itu terpaksa diambilnya mengingat ia dan dua petugas panwasda yang lain sempat membiayai sendiri segala keperluan kantor, termasuk sewa dua unit komputer untuk kegiatan operasional. Dana tersebut juga akan dipakainya untuk menutup biaya pelantikan 39 anggota panwas kecamatan pada 12 Agustus lalu.

Menanggapi keadaan ini, Wakil Wali Kota Tangerang, Deddy Syafei, mengimbau supaya panwasda bersabar. “Kami sedang mengusahakan agar anggaran yang mereka minta segera cair,” kata Deddy. Ia mengatakan, yang jadi masalah adalah panwasda terbentuk setelah penetapan APBD 2008 pada 6 Desember 2007. “Jadi, pengadaan anggaran ini tidak boleh sembarangan.” c66

Republika 25 Agustus 2008


Ditulis dalam Umum | Leave a Comment »

Fly Over Serpong Masuki Tahap Studi Kelayakan

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 22, 2008

Serpong, SerpongKita.com- Belum genap sebulan fly over (jalan layang) Ciputat beroperasi, Pemerintah Kabupaten Tangerang kembali mengusulkan pembangunan fly over di Tangerang. Kali ini yang diusulkan adalah pembangunan fly over Serpong. Targetnya, awal 2009 pembangunan fly over ini bisa dimulai.

Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang, Dedi Sutardi menyatakan, fly over Serpong sedang dalam tahap Feasibilty Study (FS) atau studi kelayakan. Pentahapan pembangunan jalan layang ini belum diketahui. Kedati begitu, Dinas Bina Marga menargetkan fly over Serpong bisa segera dibangun. “Beberapa waktu lalu, kita telah melakukan studi kelayakan melalui pengukuran jalan di dekat pasar Serpong. Hasil pengukuran tersebut menjadi bahan bagi pemerintah pusat dalam hal ini Dinas Binamarga,” ucapnya.

Ditanya soal dana pembangunan fly over, Dedi menjelaskan, dana tersebut akan dianggarkan melalui APBN, seperti pembangunan fly over Ciputat. “Nanti pemerintah pusat yang akan mengeluarkan dananya,” tandas Dedi. Namun ia enggan menyebutkan berapa dana yang akan diusulkan dan dimana titik pembangunan fly over itu.

Dedi menjelaskan, dibangunnya fly over Serpong dimaksudkan guna menekan angka kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan dari arah bundaran Cisauk hingga arah pasar Serpong, yang sebelumnya melewati jalur rel kereta stasiun Serpong. Hari Jum’at (18/7) lalu terlihat sejumlah petugas Dinas Binamarga melakukan pengukuran jalan. Ini dilakukan untuk memenuhi persyaratan FS fly over Serpong.

Sementara itu, terkait Jalan Lingkar Selatan (JLS), Dinas Bina Marga sedang melakukan penyelesaian akhir tahap III JLS. Dijelaskan Dedi, masih ada titik-titik yang belum dibenahi dengan baik. Ini karena proyek ruas JLS juga meliputi jalan kabupaten dan jalan kampung yang difungsikan menjadi JLS. “Saya rasa, JLS sudah layak digunakan. Hanya ada beberapa hal yang perlu dibenahi misalnya beberapa titik ruas jalan (spot) yang belum sempurna,” jelasnya. (k2)

Serpongkita.com 22 Agustus 2008

Ditulis dalam Tangerang Selatan | 2 Komentar »

Pemkab Tak Sanggup Beli Lahan Terminal Ciputat

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 14, 2008

CIPUTAT – Kesemrawutan yang makin tak terkendali di wilayah Ciputat, Kabupaten Tangerang akibat belum tersedianya terminal, tampaknya akan terus terjadi. Sebab, pembangunan Terminal Ciputat yang telah lama menjadi rencana Pemkab Tangerang, hingga kini belum jelas realisasinya. Penyebabnya, Pemkab Tangerang masih terganjal dalam pembebasan lahan untuk bakal lokasi terminal sebagai pendukung pembangunan Fly Over Ciputat itu.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang Deden Sugandhi mengaku, harga tanah di bakal lokasi pembangunan terminal tergolong tinggi.
“Harga tanah di sana mahal, sehingga pemerintah masih kesulitan,” kata Deden, melalui telepon genggamnya, Rabu (13/8).
Dikatakan Deden, Terminal Ciputat akan dibangun di atas lahan seluas empat hektar. Namun saat ini pemerintah baru membebaskan lahan tersebut sekitar 9.000 meter.
“Bagian pengadaan lahan Pemkab Tangerang saat ini masih melakukan negosiasi mengenai masalah harga tanah di daerah tersebut,” terangnya.

Dijelaskan Deden, sebelumnya Pemkab Tangerang berkeinginan membangun terminal tipe A di Kawasan Ciputat. Namun, lantaran keberadaan Terminal Ciputat ini amat berdekatan dengan terminal Lebak Bulus, Departemen Perhubungan (Dephub) tidak mengizinkannya.
“Karena, tak jauh dari lokasi Terminal Ciputat ini
sudah terdapat terminal tipe A. Pemkab Tangerang pun berencana membangunnya dengan jenis terminal plus,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Deden mengatakan, di terminal ini akan dibangun sejumlah pertokoan, pusat perbelanjaan serta fasilitas penunjang lainnya, seperti hotel di terminal tersebut.
“Keberadaan Terminal Ciputat ini tentunya berbeda dengan terminal-terminal lainnya, karena di lokasi ini sarana fasilitas umum lebih lengkap,” jelasnya.
Jika pembangunan Terminal Ciputat ini betul-betul dapat direalisasikan, imbuh Deden, terminal ini selain berfungsi sebagai sarana angkutan antar provinsi dan angkutan kota juga sebagai akses penghubung antara DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
“Sebab keberadaan Terminal Ciputat ini menampung enam kendaraan lokal di antaranya Ciputat, Parung, Lebak Bulus, dan Pamulang,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Camat Ciputat Chaerul Shaleh mengatakan, masyarakat Ciputat amat mendambakan keberadaan Terminal Ciputat. Sebab, pembangunan Fly Over Ciputat yang sebelumnya diyakini mampu mengatasi kemacetan malah jauh dari harapan. Malah, kesemrawutan angkutan umum di wilayah Ciputat, makin tak terkendali.

Para awak angkutan ini, seperti bus antar-kota, angkutan kota (angkot), dan angkutan antar-provinsi, selama ini sembarangan menaikkan dan menurunkan penumpangnya. Sehingga pembangunan Terminal Ciputat di wilayah tersebut diyakini mampu mengatasi kemacetan di lokasi tersebut.
“Kami ingin pembangunan terminal dipercepat karena merupakan kebutuhan yang amat mendesak untuk pembenahan mengatasi kemacetan dan kesemrawutan kendaraaan yang terjadi di Ciputat,” kata Chaerul. (ang)

Radar Banten 14 Agustus 2008

Ditulis dalam Tangerang Selatan | 3 Komentar »

Terminal Pondok Cabe Terbengkalai

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 11, 2008

PONDOK CABE – Sekitar 11 tahun, keberadaan Terminal Pondok Cabe, di Kelurahan Pondok Cabe Udik, Kecamatan Pamulang, Kabupaten Tangerang, dibiarkan mangkrak (terbengkalai).Berdasarkan pantauan Harian Tangerang (Radar Banten Group) Jumat (8/8), Kondisinya saat ini banyak terlihat bangunan yang sudah rusak. Atap gerbang Terminal Pondok Cabe Udik ini sudah banyak yang pecah, bahkan tiangnya berkarat. Selain itu, areal terminal ini banyak dipenuhi rumput-rumput liar, terutama di pintu masuk terminal tersebut.

Aspal pada badan jalan menuju ke dalam terminal banyak yang sudah terkelupas. Begitu pun papan nama terminal itu, sudah tidak ada.

Junaedi (31), warga setempat mengatakan, terminal itu hanya pernah beroperasi satu bulan sejak diresmikan. Setelah itu, para sopir angkutan kota berdemonstrasi menolak penggunaan terminal karena lokasinya yang terlalu jauh dari akses jalan raya. Hingga kini, mereka tidak pernah kembali ke terminal.
Angkot yang sempat masuk ke teminal ini antara lain, D-15 jurusan Pamulang-Lebak Bulus, D-06 jurusan Lebak Bulus–Parung, dan sejumlah bus tiga per empat tujuan Lebak Bulus-Parung.

Zaenal (29), sopir angkot D-15 jurusan Pamulang-Lebak Bulus mengatakan, alasan para sopir menolak masuk ke dalam terminal itu lantaran jarak antara terminal dengan jalan raya mencapai sekitar satu kilometer. “Penumpang jadi sepi,” katanya.

Sekretaris Kecamatan Pamulang Firdaus mengungkapkan, Terminal Pondok Cabe Udik selesai dibangun pada 1997 dan dipersiapkan untuk memecah konsentrasi kemacetan di Pasar Ciputat. Semua angkot dan bus direncanakan masuk ke terminal itu dan tidak menunggu penumpang di Pasar Ciputat.
“Tadinya terminal itu akan difungsikan untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di Ciputat. Namun, hal itu gagal terwujud. Sekarang sudah puluhan tahun tidak pernah digunakan lagi,” katanya.
Ia mengakui, terminal itu saat ini kondisinya terbelengkalai dan sudah tidak terawat. Pihak kecamatan tidak memiliki kewenangan untuk pemanfaatan areal terminal tersebut.
“Sebenarnya untuk kelangsungan dan pemanfaatan terminal tersebut adalah kewenangan Dishub Kabupaten Tangerang. Pihak kecamatan tidak tahu menahu,” terangnya. (ang)

Radar Banten 9 Agustus 2008

Ditulis dalam Tangerang Selatan | 1 Komentar »

Percepat Perpres Kota Penyangga untuk memudahkan penataan di DKI dan kota penyangga

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 8, 2008

JAKARTA — Pemprov DKI dan Pemprov Jabar sepakat membenahi tata ruang Jakarta dan kota penyangganya. Untuk melakukan pembenahan, kedua pemprov mendesak terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tata Ruang Jabodetabekpunjur. Aturan ini akan mengikat setiap kota, sehingga memudahkan penataan di kawasan Jakarta dan kota penyangganya.

Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, prioritas pembenahan yang akan dilakukan adalah persoalan tata ruang. Namun, hal tersebut belum tertuang dalam aturan yang mengikat. Pembenahan tata ruang ini menyangkut tata air dan pengendalian banjir serta sinkronisasi transportasi.

“Perpresnya terkatung-katung sejak 2006 lalu,” kata dia seusai menerima pertemuan dengan kunjungan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, di Balai Kota, Rabu (6/8). Untuk itu, Pemprov Jakarta sudah mengirimkan surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera mempercepat proses Perpres tersebut.

Ahmad Heryawan menyatakan, terbitnya Perpres Tata Ruang Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur (Jabodetabekpunjur) akan memudahkan langkah penataan. Khususnya, terkait penataan di Kawasan Puncak yang kurang mendapat perhatian serius. “Selama ini kebon teh diperbarui. Tapi, tanaman kerasnya tidak ditambah. Akibatnya, Jakarta kerap terendam banjir.” Dengan Perpres tersebut, lanjut dia, maka kawasan Puncak dapat dihijaukan dengan tanam tanaman keras.

Dua pemprov ini juga kembali mendorong dilakukannya rehabilitasi Waduk Ciawi dan situ-situ lain di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung. Revitalisasi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan waduk dan situ sebagai tempat penampungan air. Ahmad Heryawan menambahkan, rehabilitasi juga akan dilakukan terhadap situ yang terbentuk oleh alam yang di DAS Ciliwung. “Situ-situ juga perlu direhabilitasi untuk daya tampungnya lebih besar,” katanya seraya mengingatkan agar rehabilitasi harus memberikan manfaat bagi warga Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bogor.

Sebelumnya, permintaan membangun Waduk Ciawi tersebut pernah dimunculkan. Waduk tersebut dianggap sebagai salah satu alternatif penanggulangan banjir karena jika berkapasitas 50 juta kubik, maka dapat menahan air tujuh jam. Namun, ditolak Dirjen Sumber Daya Air Departemen PU pada 2007 karena mahalnya biaya dan resiko yang ditimbulkan. Biaya untuk membangun Waduk Ciawi sebesar Rp 300 miliar atau setara pembangunan Waduk Jati Gede yang memiliki kapasitas lebih besar.

Sedangkan risikonya, yaitu jika jebol, maka air limpahan akan merendam istana bogor. Selain itu, banjir yang lebih besar akan melanda Jakarta dan Istana Negara terancam terendam. Langkah penggantinya, Dirjen SDA PU menjanjikan revitalisasi 152 situ dari 200 situ di DAS Ciliwung.

Kepala Balai Besar Ciliwung Cisadane, Pitoyo Soebandryo, mengatakan, tahun ini musim panas begitu panjang. Sementara, sejumlah daerah seperti di Kecamatan Jonggol, Caringin, dan Cariu mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Untuk itu, masyarakat perlu mengoptimalkan situ terdekat. Di Jonggol misalnya, di kecamatan itu sudah terdapat Situ Rawabangke. “Jika di lokasi itu belum ada, bisa diusulkan kepada kami,” ujarnya, Rabu (6/8).Data di Balai Besar Ciliwung Cisadane, terdapat 184 situ di Jabodetabek. Dari jumlah tersebut, 69 di antaranya rusak, 48 situ sedang dalam rehabilitasi, lima situ tidak berfungsi, dan sejumlah situ lainnya dalam keadaan baik, kurang baik, dan ada pula yang mengalami pendangkalan. nap c64

Republika 8 Agustus 2008

Ditulis dalam Umum | Leave a Comment »

10 Wilayah Tangerang Rawan HIV

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 8, 2008

TANGERANG (Pos Kota) – Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menyatakan sepuluh wilayah di daerahnya ditengarai rawan penyebaran HIV/AIDS secara sporadis, di antaranya Cikupa, Lippo, Pondok Aren, Bitung, Dadap, dan Serpong Utara.

Dr. Yulia Soenar Dewanti, Kepala Bidang Pencegahan Penangulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kepada wartawan kemarin mengatakan, wilayah tersebut terdapat lokasi Pekerja Seks Komersil (PSK) dengan tingkat kesehatan yang rendah.

Hal tersebut diketahui karena para PSK tersebut rendah pengetahuan tentang kesehatan dan jarang memeriksakan kesehatannya.

Rata-rata PSK ini memang merupakan PSK kelas menengah yang kurang peduli pada kesehatan.

Dikatakan sejauh ini di Kabupaten Tangerang terdata sekitar 160 orang terkena HIV/AIDS, sementara 508 lainnya dinyatakan sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Jumlah ini tergolong tinggi.
(djamal/ds/g)

Pos Kota 8 Agustus 2008

Ditulis dalam Kesehatan | Leave a Comment »

Pengguna Hot Spot Menjamur

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 8, 2008

SERPONG – Internet dewasa ini sudah menjadi kebutuhan hidup. Terutama dalam bidang komunikasi dan untuk mencari pengetahuan berita Nasional maupun Internasional.
Dengan kemajuan tekhnologi yang pesat kini masyarakat sudah banyak yang menggunakan internet nirkabel yang disebut juga hot spot. Selain lebih simpel juga dapat dilakukan dimana saja sesuai ruang lingkup dan kemampuan daya pancar hot spot itu sendiri. Hal tersebut membuat kita bisa dengan santai mengakses apapun di internet.

Salah satu tempat favorit para pengguna hot spot adalah di Summarecon Mal Serpong. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa dan kalangan pelajar lainnya.
Hal itu dibuktikan saat wartawan Harian Tangerang (Radar Banten Group) mewawancarai Andi, salah satu pengguna hot spot di Summarecon Mal Serpong. “Saya sengaja datang ke sini untuk mengerjakan tugas dari dosen. Selain itu juga bisa nyantai sambil makan sekaligus refresing,” ujarnya. Dan yang menjadi alasan mahasiswa memilih hot spot di Summarecon Mal Serpong adalah karena gratis.
”Di sini ada dua tempat yang ada area free internetnya (hot spot). Di Downtown Walk dan di The Food Temptation. Kami menyediakan tempat yang nyaman sekaligus lebih terlihat rapi dan elegan. Di sana pengguna hot spot dapat melakukan pekerjaannya sambil memesan dan menikmati makanan yang tersedia. Sehingga dapat bekerja sembari makan siang atau malam. Di sini kami memberikan semua kemudahan bagi para pengunjung ataupun pengguna hot spot,” ujar Cut Meutia selaku General Manager of Corporate Communication Group Summarecon.

Kebanyakan mahasiswa yang datang pada malam hari. Selain mengerjakan tugas mereka juga makan malam. Hot spot memudahkan para pengguna internet untuk mengakses segala hal yang diperlukan. Karena tidak perlu lagi mencari warung internet yang dirasa kurang memberikan kenyamanan dan kepuasan pelayanan. Cukup datang ke area yang terdapat fasilitas hot spotnya, dan kita dapat menyesuaikan keadaan yang kita kehendaki. Selain itu pengguna hot spot juga harus memiliki komputer jinjing atau laptop.

Dengan kemudahan dan tidak memerlukan biaya yang besar itulah sebabnya hot spot menjadi pilihan alternatif bagi penggunanya yang didominasi mahasiswa. Selain itu juga mahasiswa cenderung memilih tempat yang dirasa dapat membuat lebih enjoy. Dan harapannya ke depan hot spot dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat tidak hanya ada di mal-mal saja. “Saya berharap ada pengelola hot spot di tempat-tempat strategis, seperti di kampus-kampus yang kebanyakan mahasiswanya memanfaatkan fasilitas internet,” ujar Andi yang saat itu datang dengan teman wanitanya. (cr-7/rbnn)

Radar Banten 8 Agustus 2008

Ditulis dalam Serba-serbi | 1 Komentar »

Ratusan Penumpang Telantar

Ditulis oleh kinclonk di/pada Agustus 8, 2008

PONDOK AREN – Ratusan penumpang Kereta Api (KA) di Stasiun Pondok Ranji, Kecamatan Pondok Aren, Kabupaten Tangerang telantar. Hal ini diakibatkan putusnya kabel listrik lintasan Tanah Kusir, Jakarta, Kamis (7/8 ) sekitar pukul 08.00 WIB.

Para penumpang yang telantar itu berasal dari kereta api Patas KA-879 dari Rangkasbitung. Akibat terputusnya jaringan listrik kereta diesel itu pun ditarik kembali atau langsam ke Stasiun Sudimara.
Gangguan kabel listrik tersebut menyebabkan kereta api yang melintasi jalur Kebayoran-Sudimara harus menggunakan satu jalur. “Kereta istilahnya masuk ke jalur salah, jadi harus bergantian,” kata Dadang, Pengatur Perjalanan Kereta Api.

Kondisi itu menyebabkan kereta api datang terlambat sekitar satu jam. Kereta api dari Rangkasbitung-Tanah Abang yang biasa datang pukul 10.30 WIB ke Pondok Ranji, baru tiba pukul 11.30 WIB.
Sementara itu, ketika ditanya penyebab putusnya jaringan listrik, Dadang belum mengetahui pasti. Tapi, berdasar kabar, kondisi itu disebabkan oleh terjadi kesalahan pada pengait kereta api, sehingga menyebabkan kabel putus.

Menurut Dadang, perbaikan telah dilakukan petugas. “Mudah-mudahan sore ini perbaikan sudah bisa selesai, sehingga besok (hari-red) normal kembali,” katanya.
Para penumpang yang telantar di Stasiun Pondok Ranji, baru berangkat setelah diangkut kereta rel listrik ekonomi non-AC tujuan Tanah Abang, sekitar pukul 11.30 WIB.

Sementara itu, sebagian penumpang yang ingin cepat-cepat sampai ke tujuan menggunakan jasa tukang ojek dan taksi. Asmat, tukang ojek yang biasa mangkal di depan Stasiun Pondok Ranji mengatakan, dirinya baru saja mengantar penumpang ke Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
“Biasanya, ongkos hanya Rp 3.500. tapi, sekarang karena terburu-buru kita mematok tarif Rp 50.000,” katanya.
Telantarnya penumpang juga bukan hanya terjadi di Pondok Ranji. Pantauan Koran ini, kondisi serupa juga terjadi di Stasiun Serpong. (cr-1/rbnn)

Radar Banten 8 Agustus 2008

Ditulis dalam Serba-serbi | Leave a Comment »